PEKANBARU – Kinerja penelitian di Indonesia semakin menggeliat. Pertumbuhan jumlah publikasi Indonesia di jurnal internasionalterus meningkat, bahkan di regional ASEAN jumlah publikasi Indonesia di jurnal internasional mulai melampaui Singapura.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir dihadapan 300 peserta sidang pleno Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Indonesia (AFEBI) pada Kamis (19/4) di Pekanbaru, Riau.

“Tahun ini ada perubahan yang sangat drastis. Jumlah publikasi Indonesia mulai kalahkan Singapura”, ujar Mohamad Nasir.

Mohamad Nasir menjelaskan bahwa kinerja publikasi internasional Indonesia tumbuh sangat baik. Pada tahun 2014, Indonesia jauh tertinggal dibanding negara lain. Saat itu jumlah publikasi internasional Indonesia hanya di kisaran angka 4.200. Di kawasan ASEAN, publikasi Indonesia pada jurnal internasional masih kalah dari Thailand, Singapura, dan Malaysia.

Thailand dengan jumlah perguruan tinggi sekitar 200 mampu menghasilkan publikasi international sekitar 9.500. Begitu pun Singapura dan Malaysia, dengan perguruan tinggi kurang dari 100 mampu menghasilkan publikasi internasional di kisaran 18.000 dan 28.000.

Pada tahun 2015, jumlah publikasi Indonesia di jurnal internasional belum menunjukkan perbaikan.

“Tahun 2015, progress kita tidak kelihatan, hanya menghasilkan sekitar 6.500 publikasi internasional. Masih kalah dengan Thailand,” jelas Mohamad Nasir.

Berbagai terobosan dilakukan oleh Kemenristekdikti dalam upaya mendorong peningkatan jumlah publikasi Indonesia di jurnal internasional. Perbaikan regulasi-regulasi yang menghambat aktivitas riset pun dilakukan, misalnya dari sisi pertanggungjawaban keuangan. Dahulu, pertanggungjawaban keuangan riset berbasis pada aktivitas. Banyak peneliti yang waktunya hanya habis untuk urusan SPJ ini.

“Peneliti zaman now tidak perlu pusing SPJ. Fokus pada output yang akan dicapai”, ujar Mohamad Nasir disambut riuh tepuk tangan hadirin.

Selain itu, Nasir juga mendorong akademisi untuk lebih produktif menghasilkan publikasi internasional melalui Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017. Di akhir tahun 2017 jumlah publikasi Indonesia pada jurnal internasional di angka 18.336 sedangkan Thailand 15.382.

“Dalam sejarah capaian publikasi internasional Indonesia tidak pernah di atas Thailand. Baru tahun 2017 ini Indonesia mencetak sejarah,” tekannya.

Namun demikian Nasir mengingatkan bahwa capaian publikasi ini baru diukur secara kuantitas belum melihat lebih dalam dari sisi kualitasnya. Menurutnya peningkatan jumlah publikasi internasional menujukkan peningkatan aktivitas penelitian baik yang dilakukan oleh perguruan tinggi maupun lembaga litbang. Tidak ada inovasi yang dihasilkan tanpa melalui proses riset.

“Untuk itu riset merupakan syarat utama dalam menghasilkan suatu produk inovasi,” pesan Mohamad Nasir di akhir pertemuan. (MSF)

Galeri