Aufa Khoirunnisa (Aufa), Mahasiswa Departemen Teknologi Hasil Perikanan (FPIK), Institut Pertanian Bogor (IPB) prihatin dengan kurang termanfaatkannya minyak hati hiu botol yang kaya akan Squalene di Indonesia Bagian Timur. Padahal permintaan kosmetika cenderung meningkat seiring bertambahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dan perawatan kulit. Inilah alasan Aufa untuk meneliti lebih lanjut mengenai formulasi dan stabilitas krim wajah dengan bahan dasar minyak hati hiu botol yang diperkaya ekstrak buah bakau sebagai antioksidan alami.

Squalene adalah senyawa hidrokarbon yang biasa diaplikasikan dalam pembuatan kosmetik dan biosintesa kolesterol. Squalene kini menjadi salah satu bahan mahal untuk pembuatan kosmetik dan pelembap. Manfaat squalene bagi kulit diantaranya sebagai emmolient (meningkatkan daya gosok), dimana squalene dapat dengan cepat dan efisien terabsorpsi ke dalam kulit serta dapat memulihkan kesehatan, kelembutan dan fleksibilitas kulit.

Tujuan riset ini adalah untuk dapat menentukan formulasi terbaik serta karakteristik dan tingkat stabilitas (selama penyimpanan) kosmetika krim wajah terbaik yang dihasilkan.

“Karena minyak hati hiu botol yang digunakan untuk pembuatan kosmetika krim wajah ini masih mengandung asam lemak yang mudah teroksidasi dan berpengaruh terhadap kualitas krim wajah yang dihasilkan, sehingga saya membutuhkan antioksidan di dalamnya. Rhizophora mucrotana lah yang saya pilih. Pertama karena alami, kedua merupakan hasil perairan dan ketiga yang terpenting adalah memiliki aktivitas antioksidan yang sangat tinggi melebihi Vitamin C (setelah dilakukan pengujian secara laboratoris),” terangnya.

Hasil penelitian Aufa menyatakan bahwa kosmetika krim wajah dengan bahan dasar minyak hati hiu botol dan diperkaya ekstrak buah bakau Rhizophora mucronata memiliki potensi sebagai salah satu kosmetika perawatan wajah. Terutama yang berfungsi sebagai cell renewall.

Sampel kosmetika krim wajah yang telah disimpan selama 5 minggu, setelah diuji ternyata aman untuk digunakan. Aman karena krim wajah yang telah diuji tidak mengalami perubahan warna dan bau, memiliki kestabilan emulsi yang sangat baik, total mikroba, nilai pH, dan viskositas juga memenuhi persyaratan yang diujukan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI).

“Formula terbaik untuk pembuatan kosmetika krim wajah dan yang paling disukai adalah dengan penambahan minyak hati hiu botol sebanyak 7,5 % dan ekstrak buah bakau R. mucronata 0,03 %. Kestabilan emulsi sediaan kosmetika krim wajah yang dihasilkan setelah penyimpanan pun sangat stabil, sehingga aman secara fisik, kimia maupun mikrobiologi,” ujarnya.(SM/Zul)

Aufa Khoirunnisa (Aufa)

081315134356