PIH UNAIR – Masyarakat RW.03 Kelurahan Kedung Baruk, Kecamatan Rungkut, sudah bisa menggunakan WC (water closet) swakarya UNAIR. WC itu merupakan program kerjasama antara UNAIR dengan salah satu mitra dari pihak swasta.

Program yang dilakukan oleh UNAIR melalui Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPM), merupakan bentuk komitmen UNAIR dalam membudayakan hidup bersih. Selain itu, pembangunan WC swakarya itu juga bagian dari upaya untuk mengajak masyarakat agar tidak lagi membuang hajat di sungai.

“Selama ini masih banyak masyarakat di Surabaya yang pembuangan hajatnya mengarah ke sungai. Ini jelas tidak sehat. Program ini diharapkan membawa perubahan dan kesadaran bagi masyarakat,” papar ketua LPM UNAIR Prof. Dr. Jusuf Irianto Drs., M.Com., yang hadir dalam presmian WC swakarya UNAIR pada Senin (20/11).

Yusuf sangat menyayangkan, masyarakat setempat yang memiliki WC masih memakai open defecation bukan close defecation. Ini artinya, menurut Prof. Jusuf, pembuangannya selalu bermuara ke sungai. Untuk itu, partisipasi UNAIR pada pengabdian masyarakat kali ini dituangkan dalam bentuk membangun kesadaran masyarkat dengan pembangunan sarana sanitasi.

“UNAIR berusaha menjawab persoalan di masyarakat, khusus bagi masyarakat yang dekat jaraknya dengan UNAIR. Program dijalankan berkat kerja sama UNAIR dengan pemerintah kota Surabaya dan dibantu juga dari pihak swasta,” terangnya.

Keterlibatan banyak pihak dalam mewujudkan progam itu, bagi Prof. Jusuf, memang penting sekali. Mengingat, permasalahan sanitasi merupakan masalah yang tidak bisa dianggap remeh. Dengan menggandeng berbagai pihak, bagi Yusuf, akan menembuhkan rasa kepedulian bersama-sama.

“Masalahnya bakal berdampak pada lingkungan. Jika tidak dilakukan dengan tindakan nyata akan mengganggu ekosistem lainnya. Itu nantinya yang akan berdampak juga kepada masyarakat,” ungkap Prof. Jusuf.

Sebagai penanggung jawab program Prof. Dr. Herry Agoes Hermadi menyampaikan, permasalahan yang ada di masyarakat harus direspon dengan cepat dan akurat. Tidak hanya permasalahan kesehatan, permasalahan lainnya juga akan berusaha dijembatani dan dipecahkan bersama-sama, utamanya UNAIR.

“Masyarakat harus bisa merasakan kehadiran UNAIR. Karena banyak cara yang bisa dilakukan UNAIR untuk mengatasi permasalahan di masyarakat dengan terus berinvoasi,” ucap Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR itu.

Prof. Herry juga menambahkan, bahwa pengmas yang ia gagas itu juga tidak bisa lepas dengan cairan biofermentor temuannya. Menurutnya, perpaduan pengmas dengan memaksimalkan temuannya itu bisa menjadi jawaban atas permasalahan sanitasi yang ada di Surabaya.

“Cairan ini juga bermanfaat untuk mengurangi bau pada septic tank dan bahkan mampu menguras WC tanpa disedot,” jelasnya.

Mengenai hal itu, Lurah Kedung Baruk Fajar Basuki menyampaikan, pihaknya sangat terbantu mengatasi persoalan di masyarakatnya. Inovasi UNAIR yang bisa menciptakan WC tanpa menguras, menurutnya, dapat memberi kemudahan bagi warganya.

“Masyarakat kali ini dapat terbantu, dari sebelumnya harus menyedot WC jika penuh. Sekarang tidak,” imbuhnya. (PIH UNAIR)