(Jakarta, 20/04/2018) Universitas Mataram (Unram), Puslitbang Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi (EBTKE) Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) akan bergabung dalam konsorsium penelitian bioetanol berbasis sorgum. Sorgum adalah jenis tanaman yang tahan di lahan marginal yang miskin dengan unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Niat membentuk sebuah konsorsium itu muncul ketika rombongan Unram dan EBTKE melakukan kunjungan ke fasilitas nuklir di Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir (PTBGN) dan Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN, di Kawasan Nuklir Pasar Jumat, Jakarta Selatan, Selasa (17/04).

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Perencanaan Unram, Prof. Suwardji mengatakan, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki peluang yang cukup baik untuk pengembangan bioetanol berbasis sorgum. Lahan kering seluas 749.000 ha merupakan lahan yang cocok ditanami sorgum yang dapat dijadikan bioetanol. Melalui penelitian pemuliaan tanaman yang memanfaatkan sinar radiasi gamma, saat ini BATAN telah menghasilkan tiga varietas sorgum dan telah di lepas ke masyarakat.

Dengan Konsorsium Riset Bioetanol berbasis Sorgum, rintisan menuju komersialisasi dapat diwujudkan yang pada ujungnya kesejahteraan petani dapat ditingkatkan. Konsorsium ini diharapkan dapat menyusun roadmap yang jelas, mulai dari hulu hingga hilirisasinya.

“Sudah barang tentu kami memerlukan dukungan dan bantuan dari pemangku kepentingan, seperti ESDM, BATAN dan institusi terkait lainnya,” kata Suwardji.

Sebagai bentuk keseriusan Unram dalam rencana membentuk konsorsium, Unram manyatakan siap menjadi tuan rumah penyelenggaraan workshop atau seminar hasil survei tentang peluang pengembangan listrik tenaga nuklir di NTB.

Peneliti Puslitbang EBTKE Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Verina J. Wargadalam mengatakan, ESDM sudah cukup lama menjalin kerja sama dengan Unram dalam penelitian dan pengembangan bioetanol berbasis sorgum. Penelitian ini merupakan prioritas nasional dengan lokus NTB dan Yogyakarta.

Bibit sorgum yang digunakan pada penelitian ini merupakan varietas hasil penelitian BATAN dan ditanam di NTB dan Yogyakarta. Menurut Verina, sorgum yang ditanam di NTB menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan di Yogyakarta. Hal ini menunjukan bahwa, lahan di NTB lebih cocok untuk ditanami sorgum.

“Kami hanya ingin agar mendapatkan nilai keekonomian yang lebih baik. Namun tantangan kita bersama adalah adanya kendala harga dan kebijakan yang perlu didukung dan diselaraskan. Diharapkan kelak konsorsium akan menghasilkan karya dan mendorong kebijakan yang nyata serta menggerakkan ekonomi rakyat,” ujar Verina.

Pada kesempatan yang sama, peneliti sorgum BATAN, Soeranto Human mengatakan, hasil panen sorgum dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal seperti sebagai bahan pangan, bioetanol, dan pakan ternak. “Orientasi pemanfaatan sorgum perlu disesuaikan dan difokuskan sehingga dapat memberikan hasil yang optimal. Konsorsium ini sangat diperlukan, karena akan memberikan dukungan penelitian dan pengembangan serta pemanfaatan sorgum yang lebih baik. Lahan NTB akan mendukung pengujian varietas sorgum,” jelas Soeranto.

Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan konsorsium yang akan dibentuk hendaknya memberi manfaat bagi masyarakat. “Konsorsium sebaiknya tidak hanya riset untuk riset, tetapi riset yang memberikan manfaat yang bisa dirasakan oleh masyarakat dan perlu melibatkan institusi lain seperti Puslitbang Kementerian Pertanian. Dan yang perlu dicatat adalah perlu adanya roadmap dan timeframenya,” pungkas Djarot. (Sri)