Universitas Negeri Surabaya (Unesa) punya profesor baru setelah Rapat Senat yang digelar di Auditorium LP3M Gedung Wiyata Mandala lantai 9 Kampus Unesa Lidah Wetan kamis, (23/11) mengukuhkan gelar guru besar bagi empat putra-putri terbaiknya. Keempat guru besar baru itu ialah Prof. Dr. Subandi, S.Pd., M.A.. (Bidang Ilmu Linguistik Bahasa Jepang) dari  Fakultas Bahasa dan Seni, Prof. Dr. I Made Sriundy Mahardika, M.Pd. (Bidang Evaluasi Keolahragaan), Prof. Dr. Titik Taufikurohmah,M.Si. (Bidang Kimia Analitik Spesifikasi Material Kosmetik) dari  Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, dan Prof. Dr. Suparji, M.Pd. (Bidang Ilmu Evaluasi Pendidikan Teknik Bangunan) dari Fakultas Teknik.

 

Gelar Guru Besar selalu diukur atas sumbangsihnya kepada ilmu pengetahuan. Prof. Dr. I Made Sriundy Mahardika, M.Pd. dengan penelitiannya pada Model Evaluasi Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) dalam Upaya Membangun Manusia Indonesia Seutuhnya yang Memiliki Kualitas Jasmani, Rohani, dan Budaya Hidup. Menurutnya dalam upaya mempersiapkan generasi Indonesia emas tahun 2045, harus dimulai dengan menghadirkan pendidikan berkualitas disetiap jenis dan jenjang pendidikan. Pendidikan berkualitas tersebut akan hadir jika pembelajaran di sekolah-sekolah dipandegani oleh guru-guru yang berkualitas termasuk Guru PJOK.

Sementara, perkembangan sangat cepat dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang membuat pekerjaan dan pola hidup berubah sangat cepat menginspirasi  Prof. Dr. Suparji, M.Pd.  untuk melakukan penelitiannya yang berjudul Keterampilan Berpikir Kreatif Dan Pengukurannya Pada Pendidikan Teknik Bangunan. Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan FT Unesa ini menuturkan bahwa tingkat kreativitas, khususnya berpikir kreatif dari siswa SMK dan Mahasiswa masih perlu ditingkatkan.

“Untuk mendorong hal tersebut maka Unesa dapat memberikan kontribusi yang optimal dengan cara memberikan pengalaman pembelajaran yang kreatif juga”, tambahnya.

Pengukuhan Guru Besar seringkali juga didasarkan pada karya yang dihasilkannya. Inovasi “Susuk Emas” lah yang mengantarkan Dr. Titik Taufikurohmah, M.Si. mendapatkan gelar Guru Besar.  Penemuan tersebut dituangkan dalam  produk kosmetika  yang mengandung nanogold. Penelitian Pemanfaatan Teknologi Nanomaterial Emas dalam Inovasi Produk Kosmetika Moderen  Berdasar Warisan Leluhur ini dipicu kegelisahannya bahwa saat ini banyak masyarakat yang menjadi korban kosmetik yang mengandung pemutih berbahaya.

“Kita sebagai bangsa telah dibekali dengan warisan leluhur yang cerdas mengalahkan bangsa-bangsa yang dikenal memiliki peradaban tinggi (Mesir, Tiongkok), maka sekarang ini kita juga harus mampu mensejajarkan diri dengan peneliti-peneliti lain di dunia ini. Potensi alam kita cukup besar untuk dikembangkan menjadi smart material dengan sentuhan sains dan teknologi yang kita kuasai”, tuturnya.

Terakhir, Guru besar juga diharapkan memiliki kepedulian pada isu sosial. Ini dilakukan oleh  Prof. Dr. Subandi, S.Pd., M.A. yang telah berhasil melakukan penelitiannya dalam Bidang Ilmu Linguistik Bahasa Jepang. Berdasarkan kesimpulan dari penelitaannya,  penulis Kike Wadatsumi No Koe melakukan perlawanan tetapi, bentuk perlawanan yang lebih memilih dan diaktualisasikan melalui penggunaan bahasa/kata yang tidak merujuk pada pemaknaan langsung”,ungkapnya.

Di penghujung acara ditutup dengan sambutan sekaligus amanat, Prof. Dr. Warsono, M.S, Rektor Unesa, berharap melalui ilmu pengetahuan dan teknologi, keempat Guru Besar tersebut diharapkan menjadi kekuatan Unesa untuk semakin ke depannya sekaligus merupakan upaya mencapai Visi Unesa, Unggul dalam kependidikan kukuh dalam keilmuan.

Suasana haru menyelimuti perhelatan ini. Dari keempat Guru Besar, Prof. Dr. Subandi, S.Pd. dan Prof. Dr. I Made Sriundy Mahardika, M.Pd., M.A. sempat menitihkan air mata saat membacakan pidatonya. (HumasUnesa)