UNAIR NEWS — Terpilih menjadi kantor Indonesian-Taiwan Education Center untuk wilayah Surabaya, bahkan Jawa Timur, Universitas Airlangga terus menggelar program penguatan kerja sama antara Indonesia dan Taiwan di bidang pendidikan tinggi. Salah satunya melalui program Mandarin Chinese Teacher Training Workshop pada Kamis—Sabtu (18—20/1).
Bertempat di Ruang 302, Lantai 3, Kantor Manajemen UNAIR, workshop tersebut dikuti 15 peserta dari berbagai wilayah. Bukan hanya Jawa Timur, ada pula yang berasal dari Bali. Hadir pula dalam workdhop itu adalah Asst. Prof. Shiao-Yuh Chou dari Asia University dan Assoc. Prof. Chen-Huei Wu dari National Tsing Hua University Taiwan.
Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih, M.Si., selaku direktur eksekutif Airlangga Global Engagement (AGE) yang mewakili rektor UNAIR menyatakan program itu merupakan langkah awal atau memulai penguatan kerja sama Indonesia dan Taiwan. Artinya, workshop tersebut bakal ditindaklanjuti dengan program lainnya.
”Dalam langkah awal ini, workshop-nya masih menyasar guru bahasa Mandarin. Selanjutnya berganti untuk para mahasiswa,” ujarnya. ”Ke depan kegiatan semacam ini akan memudahkan mahasiswa untuk belajar bahasa Mandarin,” imbuhnya saat ditemui UNAIR NEWS.
Sementara itu, menurut Prof Nyoman, keberadaan kantor Indonesian-Taiwan Education Center di UNAIR, terutama program kerja sama serupa workshop tersebut, menjadi peluang yang sangat baik bagi UNAIR. Yakni, dalam hal pengembangan pendidikan tinggi yang berkaitan dengan Taiwan.
”Juga, keberadaanya mampu mengembangkan kemampuan penguasaan bahasa Mandarin sebagai salah satu bahasa internasional di lingkungan UNAIR,” imbuhnya. ”Artinya, mahasiswa kita (UNAIR, Red) bias belajar bahasa Mandarin lebih mudah,” imbuhnya.
Menjadi salah satu bahasa internasional yang diakui, lanjut Prof Nyoman, bahasa Mandarin berpeluang mengangkat daya saing mahasiswa dalam berkarir di dunia global. Sebab, globalisasi bukan hal yang bisa dihindari. Persaingan terbuka antarnegara jelas bakal terjadi.
”Dengan kemampuan penguasan bahasa internasional, selain bahasa Inggris, bahasa Mandarin bakal mengangkat dan membuat daya saing mahasiswa menjadi lebih baik. Terutama untuk masuk dunia kerja yang bersifat global,” jelasnya.
Pada akhir, menurut Prof Nyoman, tindak lanjut program tersebut direncanakan digelar pada Februari. Yakni, program workshop untuk para mahasiswa UNAIR.
”Mudah-mudahan Februari dapat terlaksana. Bahkan, ke depan bisa pula orentasinya untuk para masyarakat di Surabaya, juga Jawa Timue,” ujarnya. (PIH UNAIR)