UNAIR NEWS – Rektor UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA., mengukuhkan tiga guru besar baru pada Kamis (14/12). Dalam pengukuhan di di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen Kampus C UNAIR, itu, rektor mengimbau guru besar segera mengimplementasikan ilmu yang dimiliki.

Tiga guru besar tersebut adalah Prof. Dr. H. Bambang Purnomo Soenardirahardjo, M.S., drh., PA Vet.(K), guru besar bidang Ilmu Embriologi Veteriner dari Fakultas Kedokteran Hewan; Prof. Dr. dr. R. Heru Prasetyo, M.S., Sp. ParK, guru besar bidang Ilmu Parasitologi Kedokteran dari Fakultas Kedokteran (FK); dan Prof. Dr. Merryana Adriani, SKM., M.Kes. (Dietitien), guru besar bidang Ilmu Gizi Kesehatan, dari Fakultas Kesehatan Masyarakat.

”SK guru besar bukan akhir dari pengabdian. Bukan pula akhir proses karir seorang dosen. Justru, ini menjadi awal pengabdian yang sesungguhnya,” ujar Prof. Nasih.

Prof. Nasih menambahkan, seusai pengukuhan guru besar, tugas dan pekerjaan berat menunggu untuk diselesaikan. Tugas itu adalah mengimplementasikan berbagai konsep keilmuan. Dia berharap salah seorang guru besar tersebut mampu mengembangkan penemuan yang bisa dimanfaatkan masyarakat secara langsung.

”Konon, banyak penyakit yang obatnya belum ditemukan. Tentu, atas seizin Allah, obat ini akan ditemukan para profesor yang dikukuhkan hari ini,” ucap Prof. Nasih.

Apa yang dikatakan Prof. Nasih mengacu pada salah seorang guru besar yang mengangkat potensi madu sebagai salah satu obat untuk mengatasi penyakit HIV-AIDS yang hingga kini belum ditemukan obatnya.

Kepada para profesor baru, Prof. Nasih menekankan pengamalan tri darma perguruan tinggi terus ditingkatkan. Bukan hanya mendidik, melainkan juga melakukan riset dan pengabdian masyarakat.

”Upaya alternatif harus muncul dari forum-forum akademik dari para guru besar di UNAIR. Ada hal penting yang dititipkan ke pundak para guru besar. Bukan hanya pengajaran, tapi juga riset serta pengmas,” tuturnya.

Pemikiran Guru Besar

Prof. Heru guru besar aktif FK UNAIR ke-109 memberikan orasi tentang antisipasi terhadap ancaman infeksi oportunistik. Terutama pada kasus orang dengan HIV-AIDS (ODHA). Infeksi oportunistik adalah infeksi yang disebabkan organisme yang dapat menyerang orang dengan sistem kekebalan tubuh yang buruk. Seperti halnya ODHA.

Prof. Heru memberikan paparan dalam kasus Cryptosporidiosis. Yakni, infeksi oportunistik dari parasit protozoa Cryptosporidium sehingga mengakibatkan diare kronik. Bahkan, pada ODHA, ada yang berujung pada kematian.

Selain itu, dalam paparannya, Prof. Heru menjelaskan madu berpotensi menjadi asupan yang diharapkan dapat diterapkan pada proses regenerasi penderita HIV-AIDS yang mengalami kerusakan epitel mukosa usus karena infeksi oportunistik Cryptosporidium.

Selanjutnya, Prof. Merry yang merupakan guru besar aktif FKM ke-12, dari data riset yang dihasilkan, menunjukkan bahwa angka obesitas pada anak dan remaja semakin meningkat. Kondisi itu yang sering memicu munculnya penyakit degeneratif. Seperti diabetes mellitus, parkinson, kardiovaskuler, alzheimer, dan hipertensi.

Prof. Merry mengemukakan solusi terhadap masalah munculnya penyakit degeneratif tersebut. Solusi itu adalah anjuran konsumsi makanan yang bergizi, seimbang, dan aman. Menurut dia, konsumsi makanan bergisi dapat menangkal radikal bebas yang masuk tubuh. Sementara itu, seimbang diartikan dengan makanan dan minuman yang dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan, umur, jenis kelamin, aktivitas fisik, maupun kondisi fisiologis.

Berikutnya, konsumsi makanan yang aman adalah makanan yang bebas dari bahan-bahan kimia seperti borak serta rhodamin. Makanan yang mengandung bahan pengawet tak aman itulah yang tidak boleh masuk tubuh.

”Pada prinsipnya, kalau kita tanggap pada makanan yang bergizi, seimbang, dan aman, radikal bebas bisa dikendalikan supaya tidak banyak yang masuk tubuh kita. Jadi, kita bisa menghindari penyakit sejak awal,” ucap Prof. Merry.

Orasi selanjutnya disampaikan Prof. Bambang. Guru besar bidang Ilmu Embriologi itu memberikan paparan mengenai embriologi yang mencakup tentang perkembangan embrio normal. Bagi dia, hal tersebut diperlukan agar lebih mudah untuk memahami berbagai kajian tentang prinsip dan deskripsi yang terkait dengan efek paparan teratogen.

”Karena itu, untuk memahami mekanisme teratogen, terlebih dahulu harus tahu perkembangan embrio sejak pertemuan kedua gamet,” jelasnya.

Perihal perkembangan embrio, Prof. Bambang juga menjelaskan bahwa perkembangan tersebut ditandai dengan perkembangan blastosul yang terjadi pada fase blastula. Blastosul, bagi dia, berfungsi sebagai bantalan bagi perkembangan embrio. Namun, dalam setiap fase perkembangan embrio, menurut Prof. Bambang, terjadi tingkat kerentanan terhadap teratogen yang berbeda.

”Masa yang paling sensitif untuk menimbulkan cacat lahir pada hewan atau ternak adalah saat bunting minggu ketiga hingga kedelapan,” imbuhnya.

Pengukuhan guru besar tersebut dihadiri 500 undangan. Terdiri atas keluarga dan rekan dari para guru besar serta tamu dari civitas akademika UNAIR. Pengukuhan tiga guru besar itu menambah daftar jumlah guru besar UNAIR. Sampai saat ini, guru besar aktif UNAIR mencapai 180 orang. (PIH UNAIR)