PIH UNAIR – Perkembangan wabah flu burung mendorong peneliti Avian Influenza Research Center (AIRC) Universitas Airlangga beserta Universitas Lausanne dan Universitas Jenewa, Swiss, untuk mengembangkan one shoot vaccination. One shoot vaccination adalah menggabungkan vaksinasi yang seharusnya diberikan beberapa kali, menjadi satu kali saja.
“Saat ini, suntikan vaksin masih dilakukan beberapa kali. Dari bayi hingga SD biasanya disuntik berkali-kali yang menyebabkan kebutuhan vaksin meningkat. Kebutuhan meningkat yang membuat industri belum bisa memenuhi. Antara demand (permintaan) dengan supply (penawaran) tidak cukup,” tutur Ketua AIRC Prof. Dr. Chairul Anwar Nidom dalam acara Indonesian Vaccine Formulation Symposium, Rabu (29/3), di Aula Kahuripan 300.
Permintaan tinggi yang tidak diimbangi oleh suplai yang cukup mendorong oknum yang tidak bertanggung jawab untuk memalsukan vaksin. Pengembangan formulasi dalam teknologi baru one shoot vaccination ini juga akan lebih efisien dan mengurangi penggunaan vaksin yang berlebihan.
UNAIR akan menjadi universitas pertama yang akan mengembangkan formulasi one shoot vaccination di Indonesia. Bersama dengan universitas di Swiss, mereka sudah memiliki payung kerjasama yang berlaku tiga tahun sejak tahun 2015.
Fasilitas laboratorium di UNAIR yang mumpuni menjadi alasan bagi para peneliti asal Swiss mengajak UNAIR dalam mengembangkan vaksin.
Peneliti Universitas Jenewa, Prof. Gerrit Borchard, mengatakan bahwa negara Swiss ditunjuk langsung oleh World Health Organization untuk mengembangkan one shoot vaksination dengan suatu formulasi spesifik yaitu nanopartikel. Untuk merealisasikannya, dibutuhkan sampel virus penyakit hingga peralatan. Dan, UNAIR memiliki keduanya.
Pelaksanaan simposium ini adalah bagian dari upaya ketiga institusi untuk menggaet para peneliti lain untuk bersama-sama mengatasi persoalan virus flu burung di Indonesia.
“Dengan total 15 orang per tim, simposium ini diharapkan dapat menarik minat bagi peneliti yang melakukan riset tentang vaksin untuk bersama menyelesaikan persoalan yang ada di Indoensia. Keberhasilan dalam penelitian ini akan mengenalkan Indonesia pada dunia internasional,” tutur Nidom.
Bagi Nidom, seorang peneliti mempunyai kewajiban moral dalam mengatasi persoalan. Apabila para peneliti telah menemukan formula yang sesuai dalam pembuatan one shoot vaccination, proses hilirisasi hilirisasi produk akan diupayakan. (Humas UNAIR).