Pusat Teknologi Agroindustri BPPT, saat ini sedang melakukan rekayasa teknologi paska panen mangga dengan umur buah dapat lebih bertahan hingga 4 minggu, sehinggadapat meningkatkan nilai tambah. Dari sisi potensi, mangga yang sedang dikaji adalah nomor 4 dunia. Untuk ekspor mangga kita masih kalah dengan jumlah masih sangat kecil yakni 1600 ton, sedangkan Pakistan dengan jumlah  77.000 ton, kata Harianto  selaku Chief Engineer Pusat Teknologi Agroindustri BPPT saat ditemui di Puspiptek Serpong (28/03).

Salah satu yang menyebabkan masalah pada paska panen mangga adalah bagaimana mengupayakan agar mangga berumur pendek dapat diperpanjang, hal tesebut membutuhkan teknologi. Intinya bagaimana mengupayakan agar si mangga yang tadinya mempunyai masa edar perdagangan tujuh hari, untuk kebutuhan ekspor diperlukan waktu sampai tiga minggu untuk pengiriman ke Timur Tengah, jelas Harianto.

Dikatakan Harianto, kami melakukan teknologi coating, hasil uji menunjukan bisa membantu mengurangi susut bobot, karena susut bobot itu sangat penting dalam bisnis. Susut bobot kurang lebih 5% – 10% dapat mengalami kerugian bagi produsen, susut bobot itu menyebabkan produk itu menjadi keriput sehingga tampilannya kurang menarik.

Harianto menambahkan, teknologi coating atau yang disebut dengan pelapisan. Kami menggunakan bahan lilin lebah atau bahan-bahan yang selama ini menggunakan import, kita juga melakukan invensi agar menggunakan bahan yang kita punya seperti bahan turunan sawit, ataupun rumput laut dan dari pati.

Untuk itu, kami menguji menggunakan bahan yang dari turunan sawit dikarena hasilnya sangat bagus dan dapat menekan atau mencegah susut bobot hingga 3-4 minggu, artinya kurang dari 5%, itu sangat membantu produsen nantinya, tutup Harianto. (Humas/HMP)