Seoul – Kementerian Pendidikan Korea Selatan menyelenggarakan Pertemuan para Menteri Pendidikan Asia-Eropa yang ke-6 (The 6th ASEM Education Ministers Meeting) atau ASEMME6 yang bekerjasama dengan ASEM Education Secretariat (AES) Jakarta yang dilaksanakan pada tanggal 20-22 November 2017.

ASEMME6 bertemakan “Collaboration for the Next Decade: From the Common Perspective to Effective Fulfillment” dan bertujuan meningkatkan efektivitas kerjasama antara Asia dan Eropa dalam menghadapi tantangan global terutama terkait kemampuan kerja dan perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi di bidang pendidikan.

Pertemuan selama 3 (tiga) hari para Menteri Pendidikan Asia-Eropa atau ASEMME6 di Negeri Ginseng ini dibuka secara resmi oleh Perdana Menteri Korea Selatan Lee Nak-yon dan dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Pendidikan Korea Selatan, Kim Sang-kon dan juga dihadiri oleh 216 peserta dari 44 ASEM partners dan 13 stakeholders lainnya.

Dalam sambutannya, Perdana Menteri menyoroti pentingnya pendidikan dalam menghadapi tantangan Revolusi Industri Keempat dan Deklarasi Seoul yang diharapkan menjadi pondasi dalam kerjasama pendidikan yang bermanfaat di masa depan.

 

 

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir, ditunjuk sebagai Ketua Delegasi Republik Indonesia yang beranggotakan Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti Ainun Na’im, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaaan Kemenristekdikti Intan Ahmad, dan Direktur Penjaminan Mutu Kemenristekdikti Aris Junaidi, serta perwakilan AES dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan perwakilan dari Kementerian Luar Negeri RI.

Sesi pleno juga digelar dalam ASEMME6, dalam pembahasan strategi untuk meningkatkan kemampuan kerja kaum muda melalui bidang pendidikan, Delegasi Republik Indonesia menyampaikan pengalaman melibatkan kalangan bisnis dan asosiasi profesi dalam menyusun kurikulum serta membuka akses bagi mahasiswa untuk dapat belajar di industri melalui program magang.

Indonesia juga berperan aktif dalam mengembangkan ASEAN Qualification Framework (AQF) yang mendukung pemikiran bahwa pemberian kualifikasi individu tidak hanya terbatas pada pendidikan formal, namun juga pendidikan non-formal termasuk pelatihan khusus. AQF ini juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kerja sama dan konektivitas dalam pendidikan tinggi di ASEAN serta dapat diperluas di tingkat ASEM.

Adapun 3 (tiga) hal utama yang ditekankan oleh Delegasi RI yakni: a) reformasi pendidikan tinggi di Indonesia yang berfokus pada peningkatan daya saing nasional melalui pendidikan berkualitas; b) program mobilitas pelajar dalam kerangka ASEM Education Process yakni ASEM Work Placement Programme dan ASEM Joint Curriculum Development Programme in Hospitality and Tourism; c) Indonesia menyampaikan rekomendasi perlunya kesiapan universitas untuk mengadopsi dan mengimplementasikan credit transfer system, dan meningkatkan penjaminan mutu pada tiap universitas. Peran Indonesia dalam program mobilitas dan program joint/double degree memperoleh apresiasi dari negara lainnya seperti Jerman dan juga dari Uni Eropa.

Pada akhir pertemuan ASEMME6, Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Menristekdikti Mohamad Nasir, menyerahkan secara resmi ASEM Education Secretariat kepada Pemerintah Belgia yang akan menjadi tuan rumah untuk periode 2017-2021.