(Jakarta, 06/08/2018). Pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia telah dimanfaatkan secara luas di berbagai bidang, termasuk bidang hidrologi. Salah satu teknologi nuklir, yakni teknologi isotop membantu Pemerintah dalam menentukan langkah-langkah penerapan pengelolaan sumber daya air secara terpadu, efisien dan berkelanjutan.  Sifat fisik dan kimia dari isotop yang unik dari suatu unsur kimia yang terdapat di alam secara alamiah maupun yang ditambahkan ke sistem hidrologi mampu mengidentifikasi beberapa parameter penting dalam pengelolaan sumber daya air, khususnya air tanah, seperti daerah imbuh (recharge area) cekungan air tanah, umur air tanah, pola dinamika dan neraca air waduk/danau, interaksi antara air tanah dan air permukaan, dan interaksi antara air tanah dan air tanah dangkal.

Peneliti Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) Badan Tenaga Nuklir (BATAN), Paston Sidauruk mengatakan, salah satu aplikasi dari teknologi isotop antara lain bekerja sama dengan PT. Tirta Investama, produsen merek air mineral terbesar di Indonesia, Aqua, dalam mencari daerah sumber air. Kerja sama ini telah terjalin sejak 20 tahun lalu hingga sekarang.

Selain itu, pada tahun ini, BATAN  melalui program Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/ IAEA), yakni Coordinated Research Projects (CRP), dengan tema “Ground Water Irradiation System”, sedang melakukan penelitian untuk mengetahui potensi air tanah yang dijadikan sumber air untuk irigasi sawah, antara lain irigasi sawah di Daerah Klaten, Jawa Tengah.

“Kami ingin melihat, seberapa jauhkah potensi dari air tanah itu dibuat menjadi sumber air untuk irigasi sawah. Jangan sampai setelah diambil, permukaan tanahnya menjadi turun,” jelas Paston saat ditemui di sela-sela acara Regional Training Course on The Use of Isotope Techniques in Assessing Groundwater Quality (RAS/7/030)” di Hotel Mercure Simatupang, Jakarta.

BATAN juga pernah bekerja sama dengan Pemerintah setempat dalam pencairan sumber air tanah di daerah Gunung Kidul ,Yogyakarta, yang wilayahnya sangat kering dan kerap kekurangan air. Caranya adalah dengan mempelajari isotop yang berasal dari molekul air itu sendiri. “Jadi sebetulnya kita tidak menambahkan apa-apa, kita justru mempelajari molekul air itu sendiri, radiasinya radiasi alam, jadi aman,” jelas Paston (tnt).