UNAIR NEWS – Insiden teror bom yang terjadi pada 3 gereja pada Minggu (13/5) dan kantor Polrestasbes Surabaya pada Senin (14/5) telah memakan banyak korban jiwa. Baik dari jemaah gereja, polisi pengaman, dan bahkan ada korban yang masih anak-anak.

Dari kejadian itu banyak kerugian yang ditimbulkan. Mulai rasa trauma yang dirasakan oleh kelurga korban, kecemasan yang terjadi di tengah masyarakat, hingga citra Kota Surabaya yang semula sebagai kota yang nyaman dan aman untuk ditinggali berubah menjadi kota yang rawan teror.

Menanggapi hal itu, Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Moh. Nasih bersama jajaran pimpinan dengan seluruh dekan dan wakil dekan melangsungkan pertemuan untuk menanggulangi dampak buruk yang berkepanjangan dari aksi teror. Pertemuan berlangsung di Ruang Siang Pleno, Kantor Manajemen, Kampus C UNAIR, Senin (14/5).

Pada kesempatan tersebut, Prof. Nasih mengimbau kepada seluruh pimpinan yang hadir untuk terlibat aktif dan responsif dengan insiden yang baru saja terjadi di Surabaya. Pasalnya, bagi Prof. Nasih, insiden teror bom yang terjadi juga berdampak buruk bagi UNAIR.

“Ini tentu sangat berdampak pada program internasionalisasi yang terus kita lakukan. Mahasiswa asing yang akan ke UNAIR dan Surabaya ini kan jadi berfikir ulang,” tutur Prof. Nasih.

Selian itu, mengenai dampak buruk lainnya seperti trauma yang terjadi di keluarga korban, Prof. Nasih menegaskan bahwa untuk menolong keluarga korban yang trauma dengan insiden teror bom, UNAIR melalui fakultas psikologi telah melakukan trauma healing. Puluhan dosen di lingkungan Fakultas Psikologi telah dilibatkan untuk melakukan trauma healing bagi keluarga korban.

“Pasca kejadian, pihak ahli dari fakultas psikologi langsung tanggap untuk melakukan trauma healing bagi keluarga korban,” ungkapnya. “Layanan sendiri dilakukan di RS Bhayangkara dan juga on call, bisa dipanggil,” imbuhnya.

Selanjutnya, mengenai cara untuk mengembalikan situasi Kota Surabaya yang aman dan kondusif, Prof. Nasih juga memberikan instruksi kepada para civitas dari berbagai lintas keilmuan untuk melakukan beberapa kajian untuk kemudian diapliksikan.

“UNAIR harus menjadi garda terdepan dalam menciptakan situasi kota yang aman dan nyaman untuk ditinggali,” pungkasnya. (PIH UNAIR)