Fisiologi stress

Kata stress menghantui hampir semua kalangan di hampir seluruh unit perkerjaan.  Tidak jarang stress dituduh sebagai biang kerok munculnya berbagai permasalahan yang lebih besar, seperti perceraian, kegagalan berkarir, munculnya konflik, korupsi  dll.  Benarkah demikian ?

Secara garis besar fase stress dibagi ke dalam tiga tingkatan, yaitu pertama fase normal, kedua fase kompensasi, ketiga fase exhausted dan keempat Fase kematian.  Semua mahluk hidup tidak terkecuali manusia dalam suasana dan lingkungan yang normal memiliki  Zona Homestasis nya masing masing.  Zona ini merupakan kisaran dimana individu dapat tumbuh, kerkembang  serta bereproduksi dengan normal.  Apabila terjadi stress (catatan : stress didefinisikan dengan semua kondisi lingkungan eksternal dan internal yang mengganggu status fisiologi suatu individu) maka sistem di dalam tubuh akan bekerja sama mulai dari sensor yang ada seluruh tubuh  akan menangkap stress signal dan meneruskan pesan stress tersebut ke hipothalamus untuk selanjutnya akan dikoordinasikan tindakan apa yang harus dilakukan oleh tubuh untuk mengatasi stress tersebut.

Apabila stress tergolong ringan, maka mekanisme yang diambil dapat berupa evasi (menghindar dari kondisi stress) atau menggunakan mekanisme kelenturan fenotik (phenotypic plasticity) yang berupa modifikasi fenotipik agar stess tersebut dapat segera diatasi.  Sebagai contoh dalam menghadapi kondisi panas dan stess lingkungan di wilayah tropik ukuran tubuh kita yang tinggal di daerah tropis lebih kecil dibandingkan dengan orang yang tinggal di wilayah  temperet.  Kecilnya ukuran tubuh orang yang tinggal di wilayah tropis merupakan keuntungan agar dapat tetap bertahan di wilayah tropis.  Dalam upaya mempertahankan diri terhadap stress melalui mekanisme  kelenturan fenotipik berlaku mekanisme trade off, dimana ada hal yang harus dikorbankan dalam bertahan dalam kondisi stress.  Kemampuan bertahan di daerah tropis akan disertai dengan pengorbanan ukuran tubuh yang lebih kecil.  Kondisi lain yang memicu fenomena kelenturan fenotipik ini adalah kekurangan makanan, tereksposnya individu terhadap radioaktif, berbagai zak kimia,  tekanan mental dll

Seperti yang telah diuraikan di atas fenomena yang paling menarik adalah fase kompensasi, dimana stress yang ringan dapat memicu dan meningkatkan performans kita.  Mengapa demikian?  Dalam keadaan normal ada sebagian gen ada yang tidak bekerja (ada dalam keadaan dorman).  Kelompok gen yang masuk kategori ini antara lain kelompok stress genes, misalnya HSP, ADH, MDH dll.  Gen gen ini hanya aktif dan berfungsi jika toleransi stress yang dimiliki oleh individu sudah terlampaui.   Gen HSP (Heat Shock Protein atau Stress Protein) misalnya akan bekerja jika dalam kondisi stress sudah berada  di luar batas kirasan zona homestasis.  Dalam kondisi ini  semua fungsi vital tubuh akan dihentikan untuk sementara waktu dan akan diambil alih oleh aktifnya kelompok stress gene ini.  Jika kondisi lingkungan kembali normal dalam waktu yang sesaat maka semua fungsi vital tubuh akan diaktifkan kembali dan kelompok stress gene ini akan kembali  non aktif.  Jika stress intensitasnya bertambah dan berlangsung lama, maka individu akan masuk ke dalam fase exhausted, suatu kondisi dimana stress gene tidak mampu lagi menanggulangi stress dan individu sudah mulai terpengaruh oleh stress.  Kondisi stress berat yang terus menerus  akan merubah metabolisme dan bahkan beberapa penelitian menjunjukkan dalam kondisi yang berat gen  tertentu akan mengalami mutasi. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka  dapat berakibat pada kematian individu tersebut.

Dalam kehidupan sehari hari stress yang ringan akan memicu dan meningkatkan performans akibat diaktifkannya gen gen yang  selama ini dorman  dalam kondisi normal.  Pimpinan yang sukses biasanya sudah berkali kali terkespos pada kondisi stress ringan ini.  Demikian juga individu individu yang biasa terkespos pada stress ringan biasanya akan lebih sukses  berkarir jika dibandingkan dengan individu yang  tidak pernah mengalami stress dan selalu dalam kondisi zona homestasi (zona normal).

Stress vs Koruptor

Mekanisme stress seperti yang telah diuraikan di atas berlaku juga pada kasus korupsi yang semakin marak di negara ini.  Orang yang pertama kali melakukan korupsi biasanya akan mengalami stress.  Salah satu mekanisme yang bisa dirasakan adalah rasa ketakutan yang luar biasa apabila perbuatannya diketahui  oleh orang lain.  Perasaan berdebar, ketakutan, gelisah, was was, curiga dan terkadang disertai dengan keringat dingin merupakan mekanisme perubahan fisiologi yang terjadi akibat adanya stress ini.  Perbuatan korupsi yang pertama kali ini akan mengganggu sistem fisiologis tubuh dan jika berlanjut akan menggeser zona homestasisnya ke zona yang baru yang kita namakan “Zona homestasis Korupsi”.  Tanda tanda telah terjadi perubahan zona ini adalah tidak tampaknya gejala stress pada tindakan korupsi selanjutnya. Jika perbuatan korupsi ini terus dilakukan maka fungsi fisiologis tubuh dan kejiwaan akan  terbiasa dan tidak akan berdampak lagi bagi individu tersebut.  Para koruptor yang telah berada di zona homestasis baru ini tidak akan merasakan stress.  Kondisi “Stress ringan” yang dialami oleh para koruptor ini akan meningkatkan performanya.  Sebaliknya jika para koruptor  yang sudah ada dalam zona ini berhenti melakukan korupsi, dia akan kembali mengalami stress karena harus merubah status fisiologi dan kejiwaannya kembali ke zona homestasis lamanya yaitu “zona homestasis jujur”.  Stress yang muncul ditimbulkan akibat perubahan dari kebiasaan melakukan korupsi ke kondisi yang penuh dengan kejujuran.

Perubahan dari satu zona homestasis ke zona homestasis lainnya bukanlah semudah membalik tangan. Diperlukan waktu yang cukup lama dan kondisi yang berulang ulang.  Magnanya hukuman yang ringan bagi koruptor kelas kakap tidak akan merubah “zona homestasis korupsi” nya. Secara teoritis koruptor kelas teri akan lebih mudah dikembalikan “Zona Homestasi jujur” nya dibandingkan dengan koruptor kelas kakap.  Jadi diperlukan kondisi stress yang berat untuk menggertak dan mengaktifkan  kelompok stress gene ini.   Salah satu kondisi stress berat ini adalah pemiskinan total bagi para koruptor.  Memang para koruptor kelas kakap akan mengalami stress berat, akan tetapi melalui perlakukan stress berat  bertahap dan  berulang ulang, masih ada kemungkinan untuk mengembalikan para koruptor ke “Zona homestasis jujur” nya sebagaimana hakekat fitrahnya manusia.

_____________________________________

Prof. Ronny Rachman Noor, Ir, MRur.Sc, PhD.
Wakil Kepala LPPM IPB Bidang Penelitian
Institut Pertanian Bogor