Siaran Pers
Nomor: 141/SP/HM/BKKP/VIII/2018

Jakarta, 13 Agustus 2018

Simposium Cendekia Kelas Dunia Tahun 2018 resmi dibuka oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir. Kali ini, kegiatan tahunan yang sudah diinisiasi Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti sejak tahun 2016 itu diikuti oleh 47 ilmuwan diaspora yang telah sukses meniti karier di perguruan tinggi terbaik di luar negeri.

Selama sepekan di Tanah Air, para ilmuwan diaspora akan dipertemukan dengan akademisi dalam negeri dari berbagai perguruan tinggi. Mereka diwajibkan untuk menghasilkan output, baik berupa publikasi ilmiah, kerja sama riset, workshop dan coaching, serta kolaborasi lainnya yang bermanfaat bagi pembangunan bangsa.

Menristekdikti mengungkapkan, keberadaan para ilmuwan diaspora dapat menjadi pengungkit bagi pengembangan ilmu pengetahuan teknologi di Indonesia. Pasalnya, mereka yang diundang merupakan anak bangsa yang memiliki kompetensi mumpuni di bidangnya. Dari 47 orang diaspora, lima orang merupakan assistant professor, 13 orang merupakan associate professor, 12 orang merupakan full professor. Sedangkan sisanya merupakan dosen senior yang berperan sebagai academic leader, seperti dekan dan kepala pusat riset.

“Kita butuh lompatan yang lebih tinggi untuk bisa bersaing dengan negara lain. Dengan kemampuan dan kompetensi para ilmuwan diaspora, Kemenristekdikti mulai melibatkan mereka untuk berkontribusi bagi pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Langkah awal yang kami lakukan adalah membangun jembatan melalui kegiatan ini supaya mereka dapat berkolaborasi dengan perguruan tinggi dalam negeri,” ujar Menteri Nasir pada pembukaan SCKD Tahun 2018 di Royal Kuningan Hotel, Senin (13/8/2018).

Kendati demikian, Menteri Nasir mengatakan, perlu adanya suatu kebijakan untuk mengakomodasi para ilmuwan diaspora. Terkait hal tersebut, Menteri Nasir sudah berkoordinasi dengan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB), Asman Abnur. Salah satu wacana yang dibicarakan adalah status ilmuwan diaspora jika mereka kembali ke Indonesia.

“Saya sudah bicara dengan Menpan-RB terkait wacana menarik kembali ilmuwan diaspora yang berpotensi, dan memiliki kemampuan kelas dunia. Untuk itu, perlu ada kebijakan yang berpihak kepada para ilmuwan diaspora. Misalnya, jika mereka sudah profesor di sana, jangan sampai kembali harus mulai dari awal, itu semua perlu dihitung,” jelasnya.

Kegiatan SCKD di tahun sebelumnya sendiri telah menimbulkan impak positif bagi peningkatan publikasi internasional. Tercatat, sudah ada 28 publikasi internasional yang terbit di jurnal bereputasi. Sedangkan yang masih berupa manuskrip dan proses review berjumlah 15 publikasi. Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti menyebut, evaluasi output kegiatan SCKD tersebut menjadi pertimbangan ilmuwan diaspora yang akan diundang di kegiatan serupa tahun depan.

“Mereka didatangkan ke sini menggunakan uang negara sehingga wajib menghasilkan output dan outcome bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga peningkatan kualitas SDM dan perguruan tinggi Indonesia. Pada tanggal 15-17 Agustus, mereka akan disebar mengunjungi 55 perguruan tinggi di berbagai daerah,” tutur Dirjen Ghufron.

Pada sesi berikutnya Menteri Keuangan, Sri Mulyani memberikan kuliah umum terkait pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Negara, ucap Sri Mulyani, berkewajiban untuk menyisihkan 20% dari APBN untuk pendidikan. Meski begitu dia mengakui bahwa penggunaan anggaran masih belum dimanfaatkan secara efisien.

“Untuk itu saya harap para insan cendekia yang hadir dalam pertemuan ini menjadi pemikir, mencari solusi bagi indonesia. Saat ini kita dihadapkan pada dunia yang terus bergerak secara cepat,” ujar Menkeu.

Pada kesempatan tersebut Sri Mulyani juga mengungkapkan pentingnya kolaborasi antar ilmuwan dalam dan luar negeri. Seorang individu, imbuhnya, relatif lebih mudah untuk menjadi pintar. Sedangkan untuk menghasilkan jutaan manusia jenius di suatu bangsa merupakan tantangan yang harus dipecahkan bersama-sama.

“Para cendekia, ilmuwan diaspora harus menjadi role model dan inspirator, menyelesaikan pekerjaan rumah negara. Seperti infrastruktur yang pembangunannya sedang dikejar saat ini harus dibangun berkelanjutan,” sebutnya.

Senada dengan Menkeu, pada sesi ketiga Menteri Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro menegaskan pentingnya kualitas sumber daya manusia bagi Indonesia. Beberapa negara yang cakap dalam memanfaatkan para ilmuwan diasporanya adalah Korea Selatan dan Vietnam. Menteri Bambang berpendapat, kedua negara tersebut secara historis hampir sama dengan Indonesia. Tetapi mereka mampu menangkap potensi dan peluang ilmuwan diasporanya untuk berkontribusi sehingga mampu meningkatkan ekonominya.

“kualitas manusia menentukan negara maju atau tidak. Indonesia harus mengejar agar pembangunan infrastruktur memberikan nilai tambah maksimal. Research and development juga perlu terus dikembangkan,” kata Menteri Bambang.

Pada sesi terakhir pembukaan SCKD Tahun 2018, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Bisar Panjaitan memberikan masukan kepada para ilmuwan diaspiora dan akademisi yang hadir untuk bersama berupaya meningkatkan daya saing Indonesia. Tak hanya itu, Menko Luhut juga menantang para ilmuwan diaspora untuk berani mengembangkan sebuah inovasi yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Selain dihadiri Menristekdikti, Menkeu, Menteri PPN, dan Menko Bidang Kemaritiman, SCKD Tahun 2018 juga dihadiri oleh Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur Hari Purwanto, sejumlah pejabat eselon II dan III di lingkungan Ditjen SDID, dan Ketua Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI), Prof Jamaluddin Jompa. Adapun jumlah peserta umum yang hadir mengikuti acara mencapai 450 orang.

 

Layanan Informasi
Ditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti