Tangerang Selatan, Humas LIPI. Menjelang pergantian tahun 2017 ke 2018, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Fisika mempunyai cara unik untuk menyampaikan ucapan selamat tahun baru. Mengapa unik? Karena LIPI membuat kartu ucapan Selamat Tahun Baru 2018 seukuran virus polio.
Pencipta kartu ucapan ini adalah Tim Peneliti dari Laboratorium Focused Ion Beam(FIB), Pusat Penelitian Fiska LIPI. Tepatnya pada Jumat (29/12), kartu itu dirilis dengan ukuran panjang hanya 25 mikrometer (1 mikro= 1/1.000.000 m) atau sebesar virus polio yang merupakan jenis virus dengan ukuran terkecil. Pembuatan kartu ucapan ini menandai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dicapai para peneliti anak bangsa.

Metode yang digunakan dalam pembuatan kartu ucapan ini yakni melakukan proses ukiran (engraving) diatas material wafer silikon dengan memanfaatkan energi yang dihasilkan dari tembakan ion galium yang difokuskan. Alat yang digunakan yaitu Dual Beam FIB. Saat ini, Teknologi Dual Beam FIB yang dimiliki Pusat Penelitian Fisika LIPI menjadi satu-satunya yang ada di Indonesia.

“Kami bertekad untuk terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Ini adalah salah satu itikad kami, para peneliti untuk memperkenalkan teknologi terbaru yang Indonesia miliki kepada masyarakat luas,” kata Eni Sugiarti, peneliti dan pakar karakterisasi nano material Pusat Penelitian Fisika LIPI.

Kepala Pusat Penelitian Fisika LIPI, Rike Yudianti, mengungkapkan bahwa fasilitas Dual Beam FIB dari Pusat Penelitian Fisika terbuka pemanfaatannya bagi masyarakat luas. “Semua kalangan boleh memanfaatkannya. Kita bisa riset bersama nanti. Boleh dari kalangan mahasiswa, dosen, peneliti swasta, industri, bahkan kalangan pelajar, semua bisa manfaatkan,” tuturnya.

Dia pun menyambung, “Silahkan berkunjung dan kontak kami bagi semua kalangan masyarakat. Tidak hanya FIB, alat lain yang kami punya juga bisa dimanfaatkan.”

Sekedar diketahui, Dual Beam FIB dilengkapi dengan 4 detektor yang terdiri dari Secondary Electron, Back Scattered Electron, Energy Dispersive Spectroscopy (EDS), dan Electron Backscattered Diffraction (EBSD), serta dilengkapi pula omniprobe in-situ pick up system. Dengan keempat detektor beserta teknologi Schottky Field Emitter Gun (FEG) dan Galium Liquid Metal Ion source, (GIS) dengan material carbon, tungsten dan platina maka peralatan ini dapat berfungsi dalam beberapa hal.

Pertama, sebagai Field Emission-Scanning Electron Microscopy (FE-SEM). Kedua, peralatan pendukung preparasi sampel mikroskop transmisi/Transmission Electron Microscopy (TEM). Ketiga, sebagai Nano patterning/Scanning Vector

Kemudian yang keempat, sebagai dua dimensi dan tiga dimensi gambar nanostruktur, EDS dan EBSD yang memungkinan pengambilan data kuantitatif menggunakan mode point, mapping dan line analysis untuk EDS serta proses tiga dimensi yang dapat direkam dalam bentuk video. Dan kelima,  dilengkapi dengan cooling stage, sehingga memungkinkan pengamatan sampel-sampel yang bersifat non konduktif seperti beberapa aplikasi di bidang life sciences, polymer, dan sebagainya.

Dengan adanya teknologi ini, diharapkan kualitas penelitian di Indonesia terus meningkat dan tidak kalah dengan teknologi yang telah ada di negara-negara maju lainnya. (Pusat Penelitian Fisika LIPI, pwd)

Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI diolah dari Pusat Penelitian Fisika LIPI