PEKANBARU – Puncak peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Haktenas) ke-23 berlangsung meriah. Hadir sebagai tamu kehormatan Presiden Republik Indonesia ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie yang juga dikenal sebagai Bapak Teknologi Indonesia. Puncak peringatan Hakteknas yang diperingati di Komplek Gubernuran Provinsi Riau, Pekanbaru, Jumat (10/8) itu dihadiri oleh pimpinan dan anggota lembaga tinggi negara, Duta Besar dan perwakilan negara-negara sahabat, Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman, Gubernur Daerah Istimewa Yoyakarta Sultan Hamengkubuwono X, para Kepala LPNK, Pejabat Eselon I dan II Kementerian dan Lembaga, Direktur BUMN, Pimpinan dan Anggota AIPI, DRN dan DRD, para rektor/pimpinan perguruan tinggi, para Kepala Balitbangda, serta komunitas iptek dan inovasi, mahasiswa dan para pemenang dan penerima penghargaan Anugerah Iptek dan Inovasi, Kekayaan Intelektual, SPMI dan Lomba Produk Inovasi Nasional.

Hari Puncak Peringatan Hakteknas ke-23 yang dipusatkan di Kota Pekanbaru dengan tema Inovasi untuk Kemandirian Pangan dan Energi dan sub tema : Sektor Pangan dan Energi di Era Revolusi Industri 4.0 menjadi sangat istimewa, mengingat bahwa selama 23 tahun diperingati sejak 1995, inilah pertama kalinya Hakteknas diselenggarakan di Pulau Sumatera. Pemilihan Riau sebagai tuan rumah sesuai dengan predikat Riau sebagai salah satu lumbung energi nasional dan penyangga utama kebutuhan pangan di Pulau Sumatera.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir dalam sambutannya mengatakan bahwa kesiapan kita memasuki era industri 4.0 sangat tergantung kepada kemampuan sumber daya manusia dalam menguasai dan memanfaatkan Iptek dan Inovasi.

“Untuk menata proses transformasi struktur ekonomi kita ke arah industri berteknologi tinggi hingga mencapai _creative innovation_ maka kunci utamanya adalah berinovasi,” tegas Menteri Nasir.

Nasir menambahkan sebagaimana negara-negara maju di dunia yang menata ekosistem inovasinya melalui visi perencanaan yang futuristik, strategi perekeyasaan serta riset dan pengembangan yang terfokus.

“Oleh karena itu keberadaan Perpres Nomor 38 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) menjadi sangat strategis karena RIRN dirancang secara holistik, lintas institusi, lintas ranah dan berdasarkan fokus riset,” jelasnya.

RIRN merupakan pedoman dan peta jalan riset dan pengembangan iptek dan inovasi jangka menengah dan panjang yang mengintegrasikan dan mensinergikan program riset setiap kementerian dan lembaga, pemerintah daerah dan masyarakat/komunitas peneliti.

Nasir pun memaparkan fakta bahwa hingga saat ini pemanfaatan Iptek dan inovasi bagi masyarakat, khususnya pelaku ekonomi dan industri, masih belum optimal. Untuk itu, lanjut Nasir, pemerintah terus mendorong sinergi antar institusi iptek dan pelaku industri, sehingga iptek dan inovasi memberikan kontribusi maksimal.

“Juga harus dibenahi adalah meningkatkan kapasitas sumber daya manusia sebagai faktor kunci keberhasilan pendidikan, penelitian dan pengembangan iptek dan inovasi,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut Nasir juga menyebutkan bahwa anggaran riset kita belum berdampak besar untuk kemajuan bangsa. Pasalnya setelah dianalisis, anggaran sebesar Rp24,9 triliun ternyata hanya Rp10,9 triliun yang menghasilkan riset dan pengembangan.

“Lebih dari setengahnya yakni Rp14 triliun belum menghasilkan output riset yang maksimal. Itulah sebabnya Bapak Presiden menekankan bahwa anggaran risetnya tidak boleh lagi diecer,” terangnya.

Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman sebagai tuan rumah dalam sambutannya menyampaikan penerapan inovasi di Provinsi Riau telah memberikan dampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di Provinsi Riau. Hal ini dapat dilihat pada angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang telah mengalami peningkatan pada tahun 2017 dan menempati posisi ke-6 di Indonesia. Selain itu angka penduduk miskin di Provinsi Riau pun menurun dari 8,82% di tahun 2016 menjadi 7,41% di tahun 2017.

Gubernur berharap melalui peringatan Hakteknas kali ini menjadi momentum bangkitnya iptek dan penguasaa teknologi sebagai pilar pembangunan bangsa sehingga Indonesia bisa berdaya saing global.

Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Jumain Appe selaku Ketua Umum Panitia Hakteknas ke-23 dalam laporannya menyampaikan bahwa Hakteknas kali ini akan berlangsung semarak karena dihadiri oleh 2000 komunitas iptek dan inovasi di seluruh Indonesia. Selain itu panitia Hakteknas menggelar beragam rangkaian acara meliputi : (1) Launching (2) Lomba Produk Inovasi Nasional (kategori industri, startup dan masyarakat), (3) Bakti Inovasi Teknologi, meliputi pelatihan teknologi, praktik penanaman varietas unggul padi dan buah tropis, dan penyerahan bantuan produk inovasi kepada petani, nelayan dan pelaku usaha, (4) Anugerah Iptek dan Inovasi Nasional (8 kategori Anugerah), (5) Kegiatan Ilmiah (84 kegiatan ilmiah nasional dan internasional), (6) Side Event (jalan sehat, lomba karya tulis/ foto/ vlog bertajuk Iptek dan Inovasi, dan demonstrasi dan peragaan iptek keliling, dll), (7) Welcome Dinner, (8) Peringatan Hari Puncak, (9) Malam Apresiasi dan (10) Ritech Expo (pameran produk inovasi teknologi).

“Dipamerkan juga produk inovasi teknologi terbaru yang dihasilkan oleh perguruan tinggi, lembaga litbang dan industri, khusus bidang fokus pangan dan energi di Ritech Expo dalam format pameran “eye cathcing”,” ujar Jumain.

Pameran Ritech Expo diikuti oleh kurang lebih 120 institusi yang berasal dari perguruan tinggi, Balitbang daerah, kementerian dan lembaga, dunia usaha/industri dan BUMN, unit utama dan program unggulan Kemenristekdikti, asosiasi dan komunitas, demo produk, workshop/seminar, temu bisnis, dan rangkaian perlombaan.

Pada kesempatan tersebut Menristekdikti selain menyerahkan bantuan produk inovasi kepada masyarakat dan mahasiswa terbaik, juga berkesempatan memberi penghargaan kepada para pemenang Anugerah Iptek dan Inovasi 2018 untuk 8 kategori, yakni:
1. Anugerah Budhipura, untuk mengapresiasi prestasi Pemerintah Daerah Provinsi atas penguatan Sistem Inovasi Daerah, diberikan kepada: Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
2. Anugerah Budhipraja, untuk mengapresiasi prestasi Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota dalam penguatan Sistem Inovasi Daerah, dengan penerima: Pemerintah Kota Magelang.
3. Anugerah Widyapadhi, untuk mengapresiasi prestasi Perguruan Tinggi dalam membangun Sistem Inovasi melalui penguatan kebijakan, kelembagaan, sumber daya, dan jaringan inovasi untuk menghasilkan produk inovasi, dengan penerima: Institut Pertanian Bogor (IPB).
4. Anugerah Prayoga Sala, untuk mengapresiasi prestasi Lembaga Pemerintah Non Kementerian, Pusat Unggulan Iptek dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan dalam membangun Sistem Inovasi melalui penguatan kebijakan, kelembagaan, sumber daya, dan jaringan inovasi untuk menghasilkan produk inovasi, dengan penerima: Pusat Sains Teknologi Atmosfer, LAPAN.
5. Anugerah Abyudaya, untuk mengapresiasi prestasi industri dalam pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan dan membangun Sistem Inovasi melalui penguatan kebijakan, kelembagaan, sumber daya, dan jaringan inovasi untuk menghasilkan produk inovasi, dengan penerima: PT Industri Kereta Api (PT INKA).
6. Anugerah Adibrata, untuk mengapresiasi prestasi masyarakat ilmiah dalam menghasilkan produk inovasi, dengan penerima: Prof. Dr. Ir. Subagjo (ITB).
7. Anugerah Labdha Kretya, untuk mengapresiasi prestasi masyarakat umum dalam menghasilkan produk inovasi, dengan penerima: D. Rubiyanto Hadi Pramono.
8. Anugerah Widya Kridha, untuk mengapresiasi prestasi lembaga non-pemerintah dan kelompok masyarakat atas dukungannya dalam mendorong penguatan sistem inovasi, dengan penerima: Cikarang Techno Park. (SH)

Galeri