Sanggar Kesenian Aceh Universitas Gadjah Mada (SAKA UGM) kembali menorehkan prestasi. Kali ini prestasi tersebut ditorehkan SAKA UGM dalam Lomba Tari Nusantara 6th PADATARA 2018. SAKA UGM dinobatkan sebagai juara favorit dalam perlombaan tingkat nasional tersebut. Kompetisi yang dilaksanakan pada Sabtu (12/5) di ICT Universitas Diponegoro Semarang tersebut diikuti oleh 18 tim dari Jawa Tengah dan DIY.

Kreativitas SAKA UGM memang kerap berbuah prestasi. Sebelumnya, SAKA UGM juga sempat menjuarai kompetisi tingkat internasional dengan gelar Grand Prix Winner di ajang 11th International Competition of Folklore, Dance, and Music “Les Etoiles de Paris” 2018 di Paris, Perancis. Meski begitu, berbeda dengan Tim SAKA UGM yang diterbangkan ke Perancis, pada ajang perlombaan tari kreasi ini Tim SAKA UGM membawa 12 penari dan 4 pemusik, serta 2 orang selaku official.

Kemenangan yang berhasil diraih SAKA UGM dalam Lomba Tari Nusantara 6th PADATARA 2018 tidaklah mudah. SAKA UGM setidaknya mumbutuhkan persiapan kurun waktu satu bulan untuk membuat kreasi tarian serta latihan untuk para penari. Pada perlombaan di Semarang tersebut, SAKA UGM membawakan tari kreasi yaitu Ratoh Pukat. Sebenarnya, Ratoh Pukat merupakan tarian perpaduan antara tari Ratoh Jaroe dan Tarek Pukat. Tari Ratoh Jaroe merupakan perpaduan harmonis antara gerak badan dan tangan atau menari dengan posisi duduk dengan mengikuti irama lagu dan musik pengiring. Sementara itu, Tarek Pukat diawali dengan gerakan seperti tarian Aceh pada umumnya kemudian dilanjutkan dengan saling mengaitkan tali satu sama lain membentuk pukat.

Pelatih Tim SAKA UGM, Fahreza, mengatakan persiapan untuk mengikuti lomba terbilang cukup singkat. Akan tetapi, kecekatan dan kemampuan penari cukup hebat untuk mempersiapkan tarian meski dengan waktu yang terbatas. Meskipun telah giat berlatih, terdapat beberapa kesalahan yang dilakukan penari SAKA UGM saat penampilan. Fahreza menjelaskan kesalahan tersebut mampu disikapi para penari dengan tetap profesional dan melanjutkan tarian dengan baik.

Diharapkan dari perlombaan ini para penari mampu belajar untuk membawakan tarian dengan hati yang bahagia sehingga apapun hasilnya dapat diterima dengan bahagia pula serta gelar juara merupakan bonus semata,” ungkap Fahreza, Selasa (15/5).

Harapan juga disampaikan Ketua SAKA UGM, Taufik. Ia berharap SAKA UGM dapat terus berprestasi dan mengharumkan nama baik UGM serta dapat menginspirasi dan berkontribusi dalam melestarikan kebudayaan Indonesia. (Humas UGM/Catur)