Kampus ITS, ITS News – Bagi Tim Sapuangin, kembali memenangi Drivers’ World Championship (DWC) Grand Final London 2018 merupakan minuman segar usai menahan dahaga selama dua tahun berturut-turut. Tak adil rasanya jika mahasiswa ITS lainnya tidak turut mencicipi kesegaran minuman itu, karenanya Tim ITS Sapuangin ingin berbagi kisah di balik kabar gembira ini.

Sukses meraih juara dua dalam DWC Asia 2018 mengalahkan 120 tim yang berasal dari 18 negara, Tim Sapuangin ITS berhasil mengantongi tiket menuju Shell Eco-Marathon Drivers’ World Championship (DWC) Grand Final London seperti dua tahun sebelumnya. Mobil Sapuangin XI EVO generasi kedua yang telah dirancang sejak pertengahan tahun 2017 itu siap mengukir sejarah baru bagi ITS.

Berturut-turut dari mulai Inspeksi teknis pada Rabu (4/7), ITS Tim Sapuangin tak menempuh kendala berarti. Dilanjutkan dengan race validasi data saat SEM Asia pada Jumat, (6/7). Mobil dengan nomor urut 905 ini sukses menempuh 336 Km/liter dan menduduki peringkat ke tiga untuk kelas Internal Combustion Engine (ICE).

Pertandingan yang sesungguhnya dilakukan pada Minggu (8/7). Sirkuit Queen Elizabeth Olympic Park, London, Inggris, menjadi saksi bisu mobil ITS melintasi trek sepanjang 6,7 km dan elevasi naik turun antara tiga hingga 12 meter. Race berlangsung dalam Sepuluh lap.

Diungkapkan oleh Billy Firmansyah, Tim Sapuangin ITS sengaja mengatur strategi dengan terus menggunakan kecepatan sedang di lap awal. Driver harus mengatur kecepatan yang tak boleh lebih dari 40 km/jam agar efisiensi energi menjadi seimbang. Meski begitu, ITS selalu berada dalam posisi empat besar terdepan.

Pada putaran terakhir, berbekal kondisi bahan bakar yang masih memadai, Sapuangin tancap pedal gas dalam-dalam. “Di lap terakhir, Sapuangin mampu menyalip mobil lawan dan berhasil menempati posisi terdepan,” tuturnya.

Tangis haru pun segera menyelimuti wajah delapan mahasiswa delegasi ITS tersebut, meski sesaat setelahnya sempat merasa dicurangi lantaran panitia tiba-tiba menyatakan ITS baru menyelesaikan sembilan lap. Meski demikian, Tim ITS Sapuangin tetap mendapatkan gelar juara dunia setelah melakukan protes dan membuktikan pernyataannya melalui siaran ulang.

Di tahun 2016, mobil Tim Sapuangin untuk pertama kalinya mewakili Indonesia bertarung dalam ajang DWC sejak 30 tahun diselenggarakannya Shell Eco-Marathon. Naas, mobil terbakar dalam peti kemas. Tim yang beranggotakan tujuh mahasiswa itu merasa sangat terpukul atas kejadian tersebut dan tidak menduga musibah itu bisa terjadi.

Kemudian di tahun 2017, panitia memutuskan untuk menghentikan balapan disebabkan hujan lebat yang mengguyur arena ketika babak final berlangsung. “Dengan pertimbangan faktor keselamatan para pengemudi, panitia akhirnya memutuskan untuk menghentikan balapan,” tutur Billy.

“Sebenarnya dari tahun ke tahun yang menjadi kendala adalah masalah teknis. Yang kami titik beratkan bukan hanya pengembangan dari mobilnya, namun hal-hal di luar itu sangat berpengaruh besar. Jika tidak ada halangan-halangan tersebut mungkin kami bisa memenangan lomba sejak tahun pertama mengikuti,” tutur manajer non teknis Tim Sapuangin itu percaya diri.

Tim yang meraih gelar terbanyak di Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2017 ini tak mendapatkan gelar juara dunia semudah membalikkan telapak tangan. Menjadi mahasiswa biasa dengan setumpuk tugas-tugasnya tak menghalangi Tim Sapuangin ITS untuk rutin berlatih. “Untuk waktu pengerjaan sehari-hari kami mulai bekerja dari jam sebelas malam hingga dua pagi, sedangkan untuk keperluan lomba bisa sampai jam tujuh pagi,” kenang mahasiswa Departemen Teknik Mesin tersebut.

Peran dosen pun tak kalah penting dalam setiap kemenangan yang ditorehkan Tim ITS Sapuangin. “Dosen pembimbing kami ini sungguh luar biasa, loyalitas beliau di tengah kesibukan menjadi dosen sangat membantu kami,” ungkap Billy bangga. Dua pembimbing Tim ITS Sapuangin tersebut diantaranya Ir Witantyo M Eng Sc selaku pembimbing yang berkonsentrasi dalam pengembangan mobil secara teknis dan Dr Ir Atok Setiyawan M Eng Sc yang membantu keuangan tim melalui jalur sponsorship seperti PJB, Petrokimia, GMF dan Pertamina yang menjadi langganan sponsor bagi tim.

Tak hanya peran dosen pembimbing dan perjuangan tim yang begitu kerasnya, namun juga terselip doa dalam nama Sapuangin itu sendiri. Diungkapkan oleh Billy, nama Sapuangin dicetuskan oleh Prof Dr Ing Ir Herman Sasongko yang mengutip dari nama salah satu jurus Sunan Kalijaga. “Jurus sakti tersebut dipercaya mampu mengalahkan siapapun lawan sang sunan,” ujarnya bersemangat.

Tiap tahunnya, Tim ITS Sapuangin mengikuti tiga kompetisi. Diantaranya Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE), Shell Eco Marathon (SEM) Asia kemudia Drivers’ World Championship (DWC) dan Student Formula Japan (SFJ). Pada KMHE 2017, Lima penghargaan yang dibawa pulang oleh Sapuangin.

Tahun ini, gelar juara dunia sudah tersemat untuk Tim ITS Sapuangin pada ajang Drivers’ World Championship (DWC) London. Sementara itu, kompetisi terdekat yang akan diikuti Tim ITS Sapuangin saat ini adalah Student Formula Japan (SFJ). “Dalam ajang SFJ ini kita masih hutang gelar JAMA Chairman Award untuk riset mobil cepat kami. Doakan,” pungkas Billy meminta restu. (id/qi)

 

Sumber berita: https://www.its.ac.id/news/2018/08/03/rahasia-kesuksesan-sapuangin-si-juara-dunia/