UNAIR NEWS – Kesukaannya terhadap pelajaran berbau mekanika, kuantum, dan cahaya dimulai sejak ia studi di bangku sekolah menengah atas. Ditambah dengan perhatiannya yang memang tertuju pada Fisika, ia berhasil menjadi salah satu profesor yang karya penelitiannya diakui di skala nasional maupun global.

Di sela-sela kesibukannya sebagai kepala departemen sekaligus koordinator program studi S-1 Fisika, Prof. Dr. M. Yasin, M.Si., ia menyempatkan sebagian besar waktunya untuk melakukan penelitian dan publikasi. Buktinya, pada Senin (6/2) lalu, Yasin memperoleh penghargaan sebagai dosen dengan jumlah publikasi penelitian terbanyak di Universitas Airlangga.

Sepanjang tahun 2016, ia mempublikasikan 16 penelitiannya. Ia mempublikasikan penelitiannya di jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus. Sejalan dengan target yang didengung-dengungkan pemerintah maupun universitas.

Karir penelitiannya mulai dipupuk sejak ia menjalani studi doktor di Universitas Gadjah Mada pada tahun 2006 lalu. Sejak tahun 2006 itu lah, ia mulai fokus melakukan riset. Ditambah ia memiliki mitra penelitian yang strategis.

Yasin bermitra dengan para peneliti di bawah Photonics Research Centre di Universitas Malaya. Di pusat riset tersebut, ia berkolaborasi dengan peneliti asal Universitas Glasgow, Southampton, Aalto, Herrior-Watt, University College London, Bangkok, Australian National University, dan Northwest University Xi An. Selain di Malaya, ia juga bermitra dengan Universiti Teknologi Malaysia. Bagi Yasin, penelitian kemitraan adalah titik kekuatan untuk melakukan publikasi setiap bulan.

Publikasi penelitian pertamanya dimulai sejak tahun 2008. Sejak tahun 2008 dan setahun setelahnya, 2009, ia berhasil memublikasikan sembilan penelitian.

“Ada 9 paper, tapi gak bisa buat naik pangkat. Tapi nggak apa-apa karena dari situ ada kesempatan untuk jadi visiting professor. Sambil kita nyelengi (mencicil pembelian) alat-alat penelitian di sini (UNAIR) dengan dana yang dialokasikan oleh Dikti dari tahun ke tahun. Dengan alat yang lumayan sudah bisa mulai nyicil untuk publikasi sendiri,” tutur Yasin ketika ditemui di Fakultas Sains dan Teknologi UNAIR.

Sampai saat ini, Yasin sudah mempublikasikan sebanyak 52 penelitian. Apa yang lantas mendorongnya untuk rutin melakukan penelitian dan publikasi? Bagi Yasin, melakukan penelitian dan publikasi ibarat minum kopi. “Publikasi itu seperti minum kopi. Bikin ketagihan,” tutur Yasin.

Pengalaman risetnya tak jauh-jauh dari bidang Biofotonik, Optik Laser, serta Fiber Optik dan Endoskopi. Ia tertarik untuk mengamati perilaku cahaya (foton) khususnya apabila foton berinteraksi dengan suatu material.

“Perilaku cahaya ini menarik apalagi interaksinya dengan bahan atau material. Sifat-sifat cahaya seperti pantulan, pembiasan, hamburan. Dengan adanya interaksi antara cahaya dan bahan, misalnya ketika cahaya ditembakkan atau dipantulkan, kita bisa mendeteksi perilaku bahan dengan mengamati cahaya yang dipantulkan,” tutur Yasin.

Deteksi jantung

Penelitian terbarunya baru saja terbit di jurnal Optik Optics pertengahan Januari 2017 lalu. Dalam jurnal tersebut, Yasin dan dua peneliti UNAIR lainnya, Prof. Dr. Retna Apsari dan Yhosep Gita Yhun Yuwana, S.Si., M.T., menulis penelitian berjudul “Fiber Optic Sensor for Heart Rate Detection”. Artikel penelitiannya hanya butuh waktu 26 hari untuk melewati proses pengiriman artikel, revisi hingga terbit.

Yasin mengembangkan metode deteksi aktivitas listrik yang dihasilkan jantung dengan menggunakan sinar laser dan sensor fiber optik. Fiber optik ini berfungsi untuk merambatkan cahaya laser. Fiber optik dipasangi sebuah instrumen bernama bundle probe yang memang digunakan untuk memeriksa luka atau bagian tubuh. Instrumen tersebut diarahkan ke objek yang dilapisi kaca.

Saat praktikum, Yasin dan tim memanfaatkan pengeras suara untuk mengganti detak jantung asli. Proses kerjanya adalah sinar laser ditransmisikan melalui serat ke arah pengeras suara yang diatur dengan penguat sinyal audio. Sinyal dari pengeras suara dipantulkan melalui kaca dan diterima oleh fiber. Sinyal suara tersebut dikonversi menjadi sinyal listrik. Hasil deteksi aktivitas listrik dilihat melalui osiloskop.

“Objek benda ditembak dan ditampilkan di osiloskop. Ini bisa juga dimanfaatkan untuk endoskopi organ,” tutur Yasin. “Fiber itu seperti kabel yang merambatkan cahaya. Fiber ini bergelombang bila kena gelombang suara. Nah, perubahan itu yang dideteksi dan kita ukur,” tutur penerima penghargaan Emerald Publisher pada kategori Highly Recommended Paper Award tahun 2013.

Biasanya, dalam memeriksa detak jantung pasien, tenaga medis menggunakan alat bernama elektrocardiogram (ECG). Dengan metode yang kini tengah dikembangkan Yasin, tubuh pasien tak perlu dipasangi peralatan karena cukup ‘ditembak’ dengan sinar laser. Keunggulan lainnya, hasil aktivitas listrik yang diukur lebih presisi. Tingkat ketelitiannya sama dengan panjang gelombang cahaya dengan satuan nanometer.

Saat ini, Yasin dan tim terus berupaya memantapkan penelitian tersebut. Di penelitian lanjutan, ia akan mengoptimasi sistem sensor sinyal dengan metode microbending atau lengkungan.

“Jadi, fiber itu kan lurus. Kalau ditekan kan melengkung. Lengkungan itu akan mengakibatkan perubahan intensitas cahaya. Perubahan itulah nanti yang akan diteliti lebih detail. Apakah detak jantung akan seirama dengan pergeseran fiber itu. Baru setelah itu bisa diterapkan pada manusia,” imbuh dosen berprestasi tahun 2013. (*)