Jakarta – Generasi Emas tahun 2030 adalah suatu generasi ideal yang mampu menjadi lokomotif (penggerak/pendorong) pembangunan masyarakat dan bangsa untuk lepas dari kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Cita-cita Indonesia adalah mewujudkan generasi emas yang didukung oleh semua komponen bangsa dengan bersatu, bergotongroyong, bekerja keras, dan bekerja cerdas.

Staf Ahli Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Bidang Akademik Paulina Pannen mengatakan, demi mewujudkan cita-cita bangsa tersebut, Indonesia harus menyiapkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas dengan cara mendorong perguruan tinggi agar melahirkan lulusan yang siap bersaing dan kompetitif.

Indonesia perlu SDM yang siap kerja dan siap bersaing. Maka dari itu, pemerintah pusat melalui Kemenristekdikti telah melakukan upaya revitaliasi pendidikan tinggi vokasi/politeknik demi menyiapkan tenaga kerja yang diperlukan oleh industri, dan telah menjadi tenaga kerja yang terampil,” ujar Paulina saat menjadi narasumber sarasehan dengan tema “Pengembangan Program Studi Dalam Rangka Menyambut Generasi Emas 2030” bertempat di Gedung SMESCO, Jakarta Selatan, Kamis (9/11).

Dalam momen ini, Paulina juga meminta bantuan kepada para pimpinan perguruan tinggi khususnya politeknik, agar dapat saling bersinergi dengan rencana-rencana pemerintah untuk menjadikan politeknik menjadi pendidikan tinggi vokasi yang favorit di mata masyarakat Indonesia.

“Kita harus buktikan bahwa politeknik tidak boleh dipandang sebelah mata, politeknik mampu meluluskan tenaga kerja yang kompetitif, siap bekerja, dan mampu menghadapi persaingan,” tambah Paulina.

Dirinya juga menjelaskan, dalam pendidikan tinggi vokasi atau politeknik, Kemenristekdikti mempunyai beberapa skema diantaranya, kurikulumnya harus mengikuti kebutuhan industri, program studi di perguruan tinggi haruslah mempunyai kolaborasi dengan industri sebab program studi harus dibuat sesuai kebutuhan industri dan bukan keinginan dari perguruan tinggi.

Saat ini ada 12 Politeknik di lingkungan Kemenristekdikti yang sedang berpartisipasi dalam melakukan revitalisasi pendidikan tinggi vokasi dengan skema ini. Kami mengharapkan nantinya skema ini dapat berjalan sesuai keinginan, yaitu menghasilkan tenaga kerja terampil yang siap dengan kebutuhan industri saat ini,” harapnya.

Selain itu, Staf Ahli Paulina juga menjabarkan isi dari revitalisasi pendidikan tinggi vokasi ini seperti, nantinya dosen politeknik dibolehkan berasal dari industri asalkan memiliki pengalaman khusus dari industri tersebut, penerapan sistem kurikulum 3-2-1 khusus bagi mahasiswa Diploma 3 (tiga) di politeknik antara lain; 3 (tiga) semester di dalam kampus, 2 (dua) semester di industri, 1 (satu) semester melakukan makalah atau boleh mengajukan kembali ke industri untuk lebih mengembangkan keterampilannya. Lalu berikutnya pembangunan ‘Teaching Factory di politeknik.

Acara sarasehan ini merupakan bagian ‘side event’ dari Sebelas Tahun Pekan Pendidikan Tinggi Jakarta yang rencananya akan digelar Jakarta International Campus Expo 2018 mulai 22-24 Januari 2018 di Hall D, JIEXPO Kemayoran Jakarta. (ard)

Galeri