LAPAN menyelenggarakan workshop terkait peran operasi pesawat terbang dalam mendukung riset. Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor Pusat LAPAN, Rawamangun, Jakarta, Senin (2/7). Dalam acara ini dibahas mengenai kegunaan pesawat terbang yang tidak hanya untuk keperluan transportasi, tapi juga untuk berbagai riset misalnya terkait cuaca, pengamatan bumi dan laut, serta uji coba sensor. Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, saat membuka acara mengatakan bahwa LAPAN sepenuhnya mendukung semua kegiatan riset untuk kemajuan teknologi penerbangan dan antariksa.
Saat ini, LAPAN telah mengembangkan pesawat perintis N219 hasil kerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia. Nama N219 diambil dari Nusantara, bermesin dua, dan mampu mengankut 19 penumpang. Tahun lalu, pesawat ini resmi diberi nama Nurtanio. Pesawat tersebut diharapkan akan menjadi andalan penghubung pulau-pulau di Indonesia. Bagi Indonesia, pesawat kecil seperti N219 sangat diperlukan sebagai penghubung dan alat transportasi antar pulau.
Selain untuk transportasi, pesawat terbang juga dapat menjadi sarana yang baik untuk penelitian. Validasi data-data yang diperoleh dari wahana udara seperti balon sonda dan satelit cuaca dapat dilakukan dengan pesawat terbang. Kegunaan lainnya yaitu untuk modifikasi cuaca dan pengamatan secara real time.
Untuk dapat digunakan dalam penelitian, pesawat terbang tentunya harus memenuhi kaidah-kaidah sertifikasi penerbangan. Selain itu, alat atau sensor yang dipasang pada pesawat tersebut juga harus memenuhi spesifikasi yang menunjang penelitian.
Workshop ini juga membahas mengenai pengajuan perizinan dan peningkatan kemampuan pesawat dan peralatan penunjang lainnya agar dapat menjadi laboratorium terbang yang optimal.
sumber: https://www.lapan.go.id/index.php/subblog/read/2018/4575/Pesawat-Terbang-Bermanfaat-untuk-Riset/berita