BANDUNG – Untuk yang kedua kalinya purwarupa pesawat pertama N219 karya anak bangsa sukses melakukan dua kali flight test,  pertama pada 16 Agustus 2017 dan yang kedua pada 23 Agustus 2017.  Flight test dilaksanakan di Landasan Pacu Bandara  Husein Sastranegara, Jl. Pajajaran No. 154 Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

Flight test purwarupa pesawat pertama N219 dilakukan dalam rangka uji terbang perdana setelah menjalani pembuatan selama setahun dan Agustus 2017 ini diyakini pesawat telah sempurna. Flight test perdana pada 16 Agustus sekaligus didedikasikan sebagai kado istimewa untuk memperingati Hari Kelahiran Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72. Sementara untuk flight test yang kedua 23 Agustus didedikasikan untuk memperingati ulang tahun PT Dirgantara Indonesia (PT DI) yang ke- 41.

Purwarupa pesawat pertama N219 take off dari Landasan Bandara Husein Sastranegara pada pukul 09.15 WIB, lama penerbangan sekitar 30 menit dengan rute di atas kawasan Batujajar dan Waduk Saguling. Kemudian pesawat mendarat dengan baik pada pukul 09.45 di Landasan Bandara Husein Sastranegara.

Flight test dihadiri Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin, Direktur Utama PTDI Budi Santoso beserta seluruh jajaran Direksi dan Dewan Komisaris PTDI. Captain Esther Gayatri Saleh, Chief Test Pilot PTDI sebagai Pilot In Command (PIC), dan Captain Adi Budi Atmoko sebagai First Officer (FO) yang melakukan flight test purwarupa pesawat pertama N219. Selain Pilot In Command dan First Officer, di dalam purwarupa pesawat pertama N219 kut serta Yustinus Kus Wardana dan M. Iqbal Hoedaya sebagai Flight Test Engineer (FTE), untuk memastikan setiap tahapan pengujian terbang dilaksanakan dengan baik dan benar serta terjamin unsur keselamatannya.

Flight test terhadap pesawat N219 ini merupakan salah satu rangkaian uji terbang dari 300 jam terbang yang harus dipenuhi sesuai regulasi sebelum pesawat ini diproduksi massal dan dipasarkan secara umum pada 2018 mendatang.

Menurut Direktur Utama PT DI Budi Santoso, keberhasilan flight test purwarupa pesawat pertama N219 sangat penting artinya bagi PTDI dan bagi industri kedirgantaraan Indonesia, karena merupakan pembuktian bahwa bangsa Indonesia mampu melakukan rancang bangun, testing, sertifikasi sampai produksi adalah hasil karya anak bangsa. Tidak ada technical assistance dari bangsa asing.

“Semua adalah hasil kerja keras olah pikir atau brainware bertahun-tahun dari para engineer Indonesia untuk merancang dan nantinya memproduksi pesawat N219,’’ tegas  Budi.

Sementara itu, menurut Program Manager Pesawat N219 Budi Sampurno, purwarupa pesawat pertama N219 sudah melakukan serangkaian pengujian dimulai dari wing static test, landing gear drop test, functional test engine off, medium speed taxi, high speed taxi dan hopping yaitu pengujian berjalan dengan kecepatan tinggi di landasan dan mengangkat roda depan, kemudian mendarat lagi. Dan pada tanggal 16 Agustus 2017, purwarupa pesawat pertama N219 telah berhasil dengan lancar dan sukses, melakukan penerbangan perdananya.

Budi menambahkan, serangkaian tes, analisa, dan improvement ini tidak berhenti sampai first flight saja. Purwarupa pesawat pertama N219 masih harus melalui tahap fatigue test, flight test development dan flight test certification yang membutuhkan 3000 cycle fatigue test dan 300 Flight Hours untuk mendapatkan Type Certificate di tahun 2018.

Type certificate adalah sertifikasi kelaikan udara dari desain manufaktur pesawat. Sertifikat ini dikeluarkan oleh badan pengatur dalam hal ini yang berwenang di wilayah Indonesia adalah Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara, Kementerian Perhubungan.

Selanjutnya dimulailah tahapan serial production untuk mendapatkan Production Certificate, sehingga pada tahun 2019 nanti, purwarupa pesawat pertama N219 sudah siap dan laik untuk memasuki pasar, dengan prioritas memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan harga yang kompetitif.

 

Keunggulan Purwarupa Pesawat Pertama N219

Budi Sampurno yang memiliki pengalaman turut serta dalam pembuatan pesawat N250 buatan Habibie tahun 1995 mengaku kalau tim pembuat pesawat N219 kali ini sebagian juga merekrut tim yang sama pembuat N250. Mereka yang sudah pensiun dipanggil kembali untuk membantu pesawat N219.

Purwarupa pesawat pertama N219 merupakan pesawat penumpang dengan kapasitas 19 orang dengan dua mesin turboprop yang mengacu kepada regulasi CASR Part 23. Ide dan desain dari pesawat dikembangkan oleh PTDI dengan pengembangan program dilakukan oleh PTDI dan LAPAN.

Purwarupa pesawat pertama N219 ditenagai sepasang engine Pratt and Whitney PT6A-52 dengan kemampuan 850 shp dan daya jelajahnya 1580 NM dengan kecepatan maksimum 213 knots. Pesawat N219 memiliki keunggulan antara lain: pertama, Purwarupa pesawat pertama N219 didesain sesuai dengan kebutuhan masyarakat terutama wilayah perintis, sehingga memiliki kemampuan short take of landing dan mudah dioperasikan di daerah terpencil, bisa self starting tanpa bantuan ground support unit.

Kedua, menggunakan teknologi yang sudah banyak ditemui di pasaran atau menggunakan, common technology sehingga harga pesawat bisa lebih murah dengan biaya operasi dan pemeliharaan yang rendah. Ketiga, menggunakan teknologi avionik yang lebih modern dan banyak digunakan di pasaran yakni Garmin G-1000 dengan Flight Management System yang di dalamnya sudah terdapat Global Positioning System (GPS), sistem Autopilot dan Terrain Awareness and Warning System.

Keempat, memiliki kabin terluas di kelasnya dan serbaguna untuk berbagai macam kebutuhan seperti pengangkut barang, evakuasi medis, pengangkut penumpang bahkan pengangkut pasukan. Kelima, Multihop Capability Fuel Tank, teknologi yang memungkinkan pesawat tidak perlu mengisi ulang bahan bakar untuk melanjutkan penerbangan ke rute berikutnya.

Keenam, purwarupa pesawat pertama N219 memiliki kecapatan (speed) maksimum mencapai 210 knot, dan kecepatan terendah mencapai 59 knot, artinya kecepatan cukup rendah namun pesawat masih bisa terkontrol, ini sangat penting terutama saat memasuki wilayah yang bertebing-tebing, diantara pegunungan-pegunungan yang membutuhkan pesawat dengan kemampuan manuver dan kecepatan rendah.

Ketujuh, purwarupa pesawat pertama N219 juga dilengkapi dengan Terrain Awareness and Warning System, seperangkat alat yang bisa mendeteksi bahwa pesawat ini sedang menuju kepada atau mendekati wilayah perbukitan, sistem pesawat akan memberikan tanda, visualisasi secara 3 Dimensi (3D) sehingga pilot bisa melihat secara langsung kondisi perbukitan yang akan dilaluinya.

Kedelapan, Purwarupa pesawat pertama N219 memiliki nose landing gear dan main landing gear tetap atau tidak dapat dimasukan ke dalam pesawat saat terbang sehingga akan memudahkan pesawat melakukan pendaratan di landasan yang tidak beraspal bahkan berbatu serta akan mengurangi biaya pemeliharaan.

“Harapan utama kami, pesawat N219 dapat terus digunakan dan menjadi salah satu roda penggerak ekonomi sebagai alat transportasi untuk penghubung dan meningkatkan konektivitas di daerah-daerah terpencil,’’ harap Budi Sampurno. (RN)