PIH UNAIR – Universitas Airlangga sedang gencar menggarap penelitian bidang kesehatan yang berpotensi untuk dihilirisasi industri dan lembaga-lembaga. Buktinya, kedua pimpinan UNAIR dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memperpanjang kerjasama terkait hilirisasi produk, Sabtu (5/8).

Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan oleh Wakil Rektor IV UNAIR Junaidi Khotib, Ph.D dan Ketua Balitbang Kemenkes Siswanto, dr., MHP., DTM. Pada saat bersamaan, Ketua Lembaga Penelitian dan Inovasi Prof. Hery Purnobasuki, Ph.D melakukan penandatanganan nota kesepakatan bersama Kepala Balitbangkes Tanaman Obat dan Obat Tradisional Dra. Lucie Widowati, M.Si., Apt.

Menurut Junaidi, kolaborasi antara UNAIR dengan Balitbangkes dapat mempercepat proses hilirisasi produk.

“Penelitian UNAIR di bidang kesehatan bisa dilakukan untuk percepatan hilirisasi hanya jika peneliti menjalin kerjasama dengan industri dan regulator. Tujuannya agar suatu produk mendapat approve (persetujuan) yang sesuai dengan persyaratan dari Balitbangkes dan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan),” tuturnya usai acara di Ruang Sidang Pleno, Kantor Manajemen UNAIR.

Junaidi mengatakan, produk penelitian yang akan dihilirisasi dalam kolaborasi kali ini adalah obat anti malaria yang berasal dari tanaman Johar (Cassia siamea lamk). Saat ini, obat anti malaria yang diriset oleh dosen Fakultas Farmasi UNAIR Dr. Wiwied Ekasari, M.Si., Apt., tersebut sedang dalam tahap uji klinik fase satu. Artinya, peneliti sedang melakukan riset tentang profil genetika senyawa aktif pada tanaman Johar.

Guna menunjang penelitian tersebut, Balitbangkes akan mengucurkan sejumlah dana penelitian untuk dimanfaatkan dalam riset senyawa aktif tanaman Johar. Dana tersebut akan digunakan untuk proses penelitian, publikasi riset di jurnal-jurnal internasional bereputasi, hingga terciptanya obat program.

rilis-pih-unair-riset-obat-anti-malaria-2
Ketua Balitbangkes mengatakan, obat herbal anti malaria yang tengah dikembangkan oleh Wiwied berpotensi untuk menjadi alternatif obat malaria yang biasa digunakan. Oleh sebab itu, Balitbangkes dan industri merasa perlu mengawal perkembangan riset obat yang dibuat dari tanaman Johar.

“Kami ingin ada pemanduan riset-riset di Tanah Air yang nantinya berujung pada proses hilirisasi,” terang Siswanto.

Kerja sama serupa sebelumnya pernah dijalin antara UNAIR dan Balitbangkes. Pada periode sebelumnya, UNAIR dan Balitbangkes bersama-sama mengawal riset produk obat antidengue AviMac. Kerja sama ini diperpanjang dan akan berlaku sampai lima tahun mendatang. (PIH UNAIR)