BEKASI – Guna mempromosikan produk-produk inovasi yang dihasilkan oleh perusahaan pemula berbasis teknologi/startup, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menyelenggarakan Pameran “Indonesia Innovations and Innovators Expo (I3E) 2016″.

Tujuan dari I3E ini adalah untuk mendorong hilirisasi dan komersialisasi hasil penelitian dan pengembangan (litbang) di Indonesia.

Pameran I3E berlangsung selama 4 hari dari tanggal 17-20 November 2016 di Grand Metropolitan, Bekasi. Pameran ini diikuti lebih dari 100 produk inovasi teknologi karya inovator anak bangsa (Indonesia) yang merupakan binaan Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi – Kemristekdikti serta para inovator lainnya binaan dari Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF).

Produk inovasi teknologi yang dipamerkan mencakup 8 bidang fokus: pangan, kesehatan dan obat, teknologi informasi dan komunikasi, energi, transportasi, bahan baku dan material maju, dan maritim.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, M. Nasir mengatakan saat ini Indonesia memiliki pengusaha sebanyak 1,65% dari populasi jumlah penduduk dan diperkirakan hanya 0,43% yang berbasis teknologi.

“Artinya pertumbuhan ekonomi yang digerakkan dari produk-produk hasil teknologi dan inovasi masih sangat rendah. Apabila dibandingkan dengan Singapura yang sudah mencapai nilai 7%, Malaysia 5%, dan Thailand 4,5%, Indonesia masih tertinggal,” imbuh Menteri Nasir saat pembukaan Pameran I3E, Kamis (17/11).

Terkait rendahnya tingkat kewirausahaan berbasis teknologi tersebut dapat teratasi jika di dalam berwirausaha “Iptek dan Inovasi” menjadi faktor kunci. Dengan Iptek dan Inovasi, maka suatu bangsa dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang dimiliki secara efektif dan efisien, sehingga pada akhirnya dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian bangsa. Selain itu, dukungan kebijakan dan regulasi yang saling mendukung antar stakeholder yang terkait, perlu untuk disinergikan.

Saat ini, Kemenristekdikti terus berupaya mendorong dan mengarahkan institusi perguruan tinggi dan lembaga litbang, untuk tidak hanya berorientasi pada litbang yang hanya menghasilkan ‘sebatas publikasi ilmiah’, namun juga harus lebih berorientasi pada litbang yang bisa menghasilkan ‘produk-produk inovatif’ bernilai tambah tinggi, yang bisa di pasarkan dan bermanfaat bagi masyarakat.

Sudah saatnya hasil litbang di Indonesia harus banyak dihilirisasikan dan dikomersialiasikan, serta menjadi inovasi yang berkontribusi untuk pertumbuhan ekonomi, peningkatan daya saing, dan kesejahteraan masyarakat.

Apresiasi yang tinggi juga diberikan Menristekdikti kepada para Rektor dan Kepala LPNK (Lembaga Pemerintah Non Kementerian) yang telah menginisiasi terciptanya berbagai inovasi.

Menteri Nasir menyebutkan bahwa penyelenggaraan Pameran I3E sengaja dilakukan di mall (pusat perbelanjaan), karena disinilah tempat terjadinya ‘demand dan supply’, sehingga potensial market yang ada, bisa dimanfaatkan bagi para ‘Indonesian Inovators’ sehingga produk-produk inovasi dapat memenuhi pasar Indonesia maupun dunia.

Pameran I3E ini dihadiri aktor-aktor inovasi dari lingkungan pemerintahan, lembaga litbang, swasta, serta masyarakat dan atau komunitas pencinta Iptek dan Inovasi.

Pada acara pembukaan pameran I3E, juga dilakukan pemberian penghargaan kepada tenant yang berprestasi dari beberapa bidang fokus prioritas seperti yang telah disebutkan di atas

Dukungan untuk komersialisasi hasil riset inovasi anak bangsa memang telah dilakukan Kemenristekdikti, dengan menyelengarakan program insentif “Inkubasi Bisnis Teknologi (IBT)” untuk membantu menciptakan “Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT)” dan juga program insentif “Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT)”, yang dimaksudkan untuk mendorong hasil-hasil riset perguruan tinggi siap dikembangkan menjadi calon “Startup Capital”.

Program insentif Inkubasi Bisnis Teknologi (IBT) merupakan instrumen kebijakan dalam bentuk skema pendanaan dari Pemerintah RI melalui Kemenristekdikti yang diberikan kepada lembaga inkubator, pelaku perusahaan pemula berbasis teknologi yang berasal dari masyarakat umum, lembaga litbang K/L, dan perguruan tinggi. Diharapkan stimulan ini mampu meningkatkan nilai tambah dari produk-produk inovasi mereka.

Inkubator Bisnis Teknologi (IBT) menjadi sangat penting, karena pada umumnya perusahan pemula sangat rentan terhadap kegagalan atau kebangkrutan terutama di fase awal pendirian atau start-up.

Kegagalan tersebut disebabkan diantaranya karena kekurangan modal, manajemen bisnis yang belum baik, serta minimnya pengalaman di dunia bisnis.

Oleh sebab itu, melalui proses inkubasi; seperti pendampingan, pemberian pelatihan, bimbingan kepada para ‘start-up players’ sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan bisnis, yang pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing produk dan usahanya.

Selain itu, pasca kegiatan ini juga dilaksanakan penandatangan kerja sama antara Perusahaan Pemula/Startup dari peserta insentif Inkubasi Bisnis Teknologi (IBT) Kemenristekdikti dengan beberapa Industri.

Penandatanganan Perjanjian Kerjasama antara PPBT IBT dan Industri :

  1. Direktur CV. SUMI INOTECH, Sumiyanto dengan Direktur Utama PT. Triangle Motorindo, Ignatius Kartiman, SH, tentang Magic Ring, Penghemat Bahan Bakar dan Pengurang Emisi Gas Beracun Pada Kendaraan Bermotor;
  2. Direktur PT. Meta Sukses Pratama, Slamet Haryadi dengan Direktur PT. Trimitra Citra Hasta, tentang penggunaan Satpam Pintar;
  3. Direktur PT Inovasi Cipta Teknologi dengan Bank Muammalat, tentang penggunaan Smarttech (Smart Payment);
  4. Direktur PT. INSITEK (Integrasi Sinergi Teknologi), Hagorly Mohamad Hutasuhut dengan Bendahara APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), Bapak Agus Budi Raharjo tentang Pengembangan Platform Peralatan WIFI Internet Dengan Menggunakan Teknologi Balon Udara – Helion (Flying BTS); dan
  5. Direktur PT. Gunung Raja Paksi dengan PT. Juragan Kapal, tentang produksi Kapal Plat Datar.

Penandatanganan ini menunjukkan bahwa produk-produk inovasi dari startup tersebut mampu dikomersialisasikan dan dimanfaatkan oleh dunia industri.

Kegiatan pameran I3E semakin semarak dengan dilaksanakannya beberapa kegiatan pendukung, seperti ‘talkshow inovasi dan bisnis’; ‘business pitching’; ‘education games dari Pusat Peragaan IPTEK’; serta ‘konsultasi klinik mengenai Hak Kekayaan Intelektual’, Standar Nasional Indonesia, hingga Pengawasan Obat dan Makananan.

Kegiatan-kegiatan ini diharapkan mampu memberikan nilai manfaat yang positif bagi para peserta dan pengunjung.

 

Galeri