PIH UNAIR – Menteri Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Mohamad Nasir membuka pameran bertajuk Inovator Inovasi Indonesia Expo (I3E), Kamis (19/10). Pameran yang berlangsung di Grand City Convention and Exhibition Hall, Surabaya, itu digelar dengan tujuan menumbuhkan iklim yang kondusif bagi pengembangan inovasi di Indonesia.

Pemeran inovasi yang akan berlangsung selama empat hari itu melibatkan 458 peserta dari seluruh Indonesia. Tujuh bidang yang dipamerkan meliputi pangan dan pertanian, kesehatan dan obat-obatan, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), transportasi (laut, darat, dan udara), teknologi maju termasuk nano teknologi, teknologi pertahanan dan keamanan, dan bidang energi terbarukan. Tujuh bidang itu yang menjadi fokus pemerintah saat ini.

“Pertumbuhan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) Indonesia masih kalah dengan negara tetangga. Singapura tumbuh sebesar 7% dari jumlah penduduk, Malaysia 5%, sedangakan Indonesia hanya 1,6%. Riset di Indonesia harus bisa mendorong inovasi di Indonesia,” papar Nasir.

Nasir menambahkan, pertumbuhan 1,6% di Indonesia yang berbasis teknologi hanya 0,4%. Sebanyak 1,2% berbasis pada lingkungan dan budaya.

“Biasanya karena orang tua pebisnis, anak ngikut menjadi pebisnis, yang artinya UMKM di Indonesia masih berbasis pada lingkungan dan budaya,” ucap Nasir.

Dalam pameran itu, Universitas Airlangga menempatkan berapa inovasi unggulannya. Seperti Illuminator CNC-Photodynamic Laser, Bio Imuno Formula, Bhagenta, Nonikit, Bio KSB-1, Permen Susu Kedelai, Bio-N Oils, Dentolaser Varises Indonesia berupa aplikasi, dan masih ada beberapa produk yang lain.

Rektor UNAIR Prof. Dr. Moh. Nasih mengapresiasi inovasi dari dosen dan mahasiswa di UNAIR yang mengikuti pameran.

“Produk ini siap untuk dipasarkan. Hilirisasi tinggal menunggu waktu dan akan terus didorong untuk bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat,” ucap Nasih sambil menunjuk stan-stan dari dosen dan mahasiswa UNAIR.

Nasih menyebutkan, pertumbuhan UMKM saat ini sudah sangat signifikan. Tahun 2017 dengan target 400 startup company, ternyata hingga kini sudah menembus 661. Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis itu menambahkan, ke depan UMKM bisa berbasis pada teknologi, bukan hanya sebatas pada tema lingkungan dan budaya. Dengan berbasis teknologi, akan memberi nilai tambah bagi perusahaan di tengah perkembangan era digital.

Menambahkan pernyataan Nasih, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengatakan, pertumbuhan sturtup company ini dapat membawa tren positif menyikapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Selain itu, pertumbuhan sturtup company dapat memengaruhi masyarakat untuk terus bersaing.

“Era yang memerlukan daya saing ini harus direspon dengan inovasi yang memiliki nilai jual secara global,” ucap gus Ipul sapaan akrabnya.

Idealnya, pertumbuhan UMKM indonesia harus mencapai 5% pertahun. Untuk itu, Kemenristek Dikti mewakili pemerintah berupaya mengumpulkan investor. Teknologi yang paling banyak diminati yaitu pangan, energi, dan Teknologi Informasi (IT). Ke depan, IT harus mengusai informasi yang lebih spesifik lagi. Hal ini karena Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan UMKM berbasis teknologi. (PIH UNAIR)