Semarang, undip.ac.id – Saat ini Indonesia tengah di timpa berbagai bencana alam, salah satunya bencana gunung meletus. Seperti yang terjadi beberapa bulan kemarin ketika Gunung Slamet mengalami kenaikan aktivitas vulkanik sehingga Badan Pengawasan Gunung Slamet harus menaikkan status menjadi Siaga. Ditambah lagi sebagian besar gunung yang ada di Jawa merupakan gunung api, baik yang masih aktif atau hanya mengeluarkan semburan belerang seperti di Gunung Ungaran. Hal ini tidak menutup kemungkinan beberapa wisata alam dekat dengan gas belerang. Misalnya, wisata Krakatau, Tangkuban Perahu, Dieng, Candi Gedong Songo, dan lain sebagainya. Sehingga tempat-tempat tersebut perlu pemantauan lebih intensif dan efektif untuk menjaga keamanan dan keselamatan terutama bagi wisatawan. Oleh karena itu 4 mahasiswa Fakultas Sains dan Matematika UNDIP yaitu Agus Sulistiyo, Figur Humani, Inayatul Inayah, dan Eva Yulianti bergerak bersama untuk membuat suatu program Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) Aquacopter. 

 

Ketua Tim Agus Sulistiyo mengatakan bahwa Aquacopter merupakan pesawat tanpa awak dengan 4 baling-baling (Quadcopter) yang dapat bergerak di air dan dapat mendeteksi kadar gas H2S dan CO2. Inovasi Aquacopter ini dapat bergerak di air bukan tanpa alasan, karena ketika pemantauan gas di sekitar perairan maka Aquacopter turun ke permukaan air apabila daya baterai sudah hampir habis. Sehingga Aquacopter tetap dapat bergerak di permukaan air dengan daya yang masih tersisa untuk menggerakkan 1 motor. Hasil pengambilan data kadar gas dapat di pantau secara realtime melalui layar monitor di stasiun darat. Rentang waktu pelaksanaan untuk membuat alat tersebut  yaitu dari bulan Maret sampai Juni.

 

“Sasaran dari program Aquacopter yaitu sebuah prototype yang mampu mengirimkan data kadar gas secara realtime, sehingga proses pemantauan akan lebih mudah karena Badan Pemantauan tidak perlu meninjau langsung ke lapangan, apalagi jika medan lokasi pemantauan sulit di lalui”, ujar Inayatul Inayah salah satu anggota tim.

 

 “Apalagi jika terjadi kecelakaan seperti kejadian seorang pendaki jatuh di kawah Gunung Merapi beberapa hari yang lalu. Untuk mengevakuasi korban kita harus tahu posisinya terhadap pusat kawah yang mempunyai suhu ratusan derajat celcius dan kandungan gas beracun. Walaupun kemarin sudah menggunakan Quadcopter tetapi baru menggunakan kamera untuk mengetahui lokasi korban. Dengan menggunakan Aquacopter kita dapat mengetahui lokasi korban melalui kamera serta dapat mengetahui kadar gas sulfur di sekitar lokasi jatuhnya korban”, tambah Figur Humani.

 

Sumber : http://www.undip.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=3213:deteksi-gas-h2s-dan-co2-mahasiswa-undip-ciptakan-aquacopter&catid=78:latest-news&Itemid=1092