Dasar pembuatan alat tersebut adalah Hukum Faraday. Hukum tersebut menyatakan, perubahan medan magnet akan menghasilkan medan listrik. “Hal tersebut menjadi inspirasi kami untuk menciptakan alat ini,” terang Niki Etruly salah satu anggota tim.

SMAGER tersebut dapat mengubah gelombang elektromagnetik di udara menjadi listrik sebagai solusi alternatif. Hal tersebutlah yang menjadi latar belakang Niki dan keempat temannya menciptakan SMAGER. Menurutnya, kapasitas baterai yang terbatas mendorong banyak peneliti dan perusahaan untuk menciptakan teknologi untuk membangitkan energi listrik dari lingkungan. “Jika energinya berasal dari lingkungan maka akan tersedia setiap saat, terbarukan dan gratis,” jelas Niki.

Salah satu energi yang berasal dari lingkungan dan dapat dimanfaatkan yakni frekuensi radio. Frekuensi radio mencakup radio FM dan AM, TV, GSM, 3G, dan WiFi. Naiknya intensitas energi frekuensi radio didorong oleh teknologi nirkabel yang semakin hari semakin berkembang. Gelombang radio terdapat dimana-mana sejak pengaplikasiannya pada transmisi sinyal radio, handphone, modem dan lain-lain.

Mengingat piranti jinjing atau yang banyak dikenal sebagai portable device hanya berdaya listrik kecil pada satuan miliwatt dan mikrowatt. Karenanya, prospek pemanen energi listrik dari frekuensi radio akan sangat menjanjikan di masa depan. “Untuk mendapatkan daya yang lebih besar dipengaruhi oleh antena, rangkaian gelombang radio dan jarak terhadap pemancar,” jelas Niki.

Karya Niki Etruly, Nur Fadhilah, Niza Rosyda Amalia, Nur Abdillah Shiddiq dan M Yudha Yudhistira ini fokus merancang pemanen energi listrik dengan sumber energi frekuensi radio yang dapat digunakan sebagai sumber listrik pada gadget. Alat ini dilengkapi denganfrequency selector melalui banyak antena sehingga dapat memilih rentang frekuensi yang memiliki intensitas terkuat yang selanjutnya dikonversikan menjadi daya listrik menggunakan AVR Microcontroller ATtiny13.

Prinsip kerja SMAGER mengandalkan sebuah antena sebagai penangkap gelombang elektromagnetik di udara. Lalu diproses dengan AVR Microcontroller ATtiny13 untuk memilih frekuensi terkuat. “Alat ini berpotensi sebagai energi terbarukan juga gratis karena frekuensi radio lingkungan melimpah di bumi,” jelas Niki.

Diakui Niki dalam penggarapan PKM-KC tersebut terkendala dalam membangkitkan energi. “Kami masih menggunakan handy talky karena komponen untuk membuat alat pembangkit energi tidak tersedia,” jelas Niki. Ia dan timnya pun telah mengimpor komponen tersebut dari China yang akan sampai pada tiga bulan mendatang.

Pada ITS Online Niki menyampaikan harapannya, “Semoga alat ini bisa diproduksi secara massal di Indonesia sebagai energi terbarukan yang gratis untuk memenuhi kebutuhangadget.” (dza/oly)

Sumber: https://www.its.ac.id/berita/15189/en
Copyright © Institut Teknologi Sepuluh Nopember