Indonesia dikenal sebagai negara paling kaya di dunia atas keragaman genetika kelapa. Khusus kelapa kopyor, paling tidak ada empat wilayah di Indonesia yang dikenal sebagai penghasil kelapa kopyor, yaitu Jombang (Jatim), Kalianda (Lampung), Pati dan Purbalingga (Jateng). Khususnya Jawa Tengah, provinsi tersebut dikenal sebagai pusat kelapa kopyor di Indonesia karena kelapa kopyor genjah hanya ditemukan didaerah tersebut.

Namun demikian, sampai saat ini belum memiliki kebun benih kelapa kopyor true-to-type sehingga pembangunan kebun tersebut menjadi kebutuhan yang mendesak. Kebun benih akan mengoleksi kelapa kopyor dari seluruh wilayah Indonesia sehingga bisa dijadikan pusat penelitian dan pengembangan kelapa kopyor sekaligus sebagai upaya pelestarian kekayaan hayati di Indonesia.

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi mendorong Universitas Muhammadiyah Purwokerto untuk menjadi Pusat Unggulan Kelapa Kopyor di Indonesia. Pusat Unggulan Iptek diarahkan untuk menguatkan perguruan tinggi agar bisa menghasilkan inovasi teknologi yang berbasis demand driven dalam rangka mendukung peningkatan daya saing disetiap koridor ekonomi sesuai potensi daerahnya masing-masing.

Berkaitan dengan hal tersebut, Universitas Muhammadiyah  Purwokerto telah diresmikan oleh sebagai Science Techno Park pada Sabtu, 13 Juni 2015. Science Techno Park memiliki peran yang strategis guna mengembangkan IPTEK Inovasi di Indonesia.   Degan keberadaan Science Techno Park dapat memberikan ruang seluas-luasnya bagi masyarakat, peneliti dan mahasiswa untuk mengembangkan riset-riset yang hasilnya dihilirkan ke dunia Industri untuk meningkatkan kesehjateraaan rakyat.

Peneliti dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Sisunandar selaku Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purwokerto berhasil menemukan riset bibit kelapa kopyor. Sebelumnya Sisunandar pernah lolos seleksi proposal Unggulan Berpotensi Hak kekayaan Intelektual (UBER HAKI) dengan judul “Perbanyakan Kelapa Kopyor Secara in Vitro melalui Teknik Embrio Incision” dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Setelah itu, Dosen Program Studi Pendidikan Biologi ini juga berhasil menjadi pemenang dalam program Nusantara 2012. Sebanyak 6 peneliti dari Indonesia dan 6 Perancis telah terpilih, Sisunandar mengangkat judul penelitian “Development of Molecular Early  Detection Tehnique to Support Seedling Production and Germplasm Conservation of Indonesian Elite Coconut Type Kopyor” dan meneliti bersama peneliti Perancis.
Sisunandar mengatakan produksi kelapa kopyor di Indonesia memang masih rendah, padahal jika dikelola dengan baik dapat menjadi komoditas nasional. Menurut Sisunandar, dari segi kuantitas, kelapa kopyor yang banyak dibudidayakan petani saat ini hanya mampu menghasilkan buah kopyor antara 10 sampai 30 %.

“Sedangkan pembibitannya masih dilakukan secara alami dengan cara menanam kelapa normal  yang dihasilkan dari pohon yang mampu menghasilkan buah kopyor. Padahal buah kopyor tidak dapat ditumbuhkan secara alami. Kesulitan itu juga yang menjadikan kelapa kopyor sebagai komoditas alam yang mahal harga pasaraanya.  Satu satunya cara agar bisa ditanam adalah dengan mengambil embrionya, ditanam melalui kultur jaringan,”ujarnya. (md-amr-pkl/humasristek)