Indonesia kaya akan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati menjadi modal dasar untuk memenuhi kebutuhan 240 juta jiwa penduduk Indonesia pada khususnya dan kebutuhan seluruh bangsa di dunia pada umumnya.  Kemampuan negara dalam memenuhi pangannya dari produksi sendiri dan mandiri dalam kebijakan pangan merupakan arti dari Kedaulatan Pangan, seperti yang dikemukakan oleh Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Prof. Dr. Ir. Sumarjo Gatot Irianto, MS., DAA bahwa apapun yang terjadi perkayalah petani sendiri. Namun pada kenyataannya Indonesia masih bertumpu pada impor beras untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduknya.

Prasyarat tercapainya kedaulatan pangan yaitu penguasaan iptek dan kebijakan mandiri baik dalam proses baik di hulu, on farm dan hilir. Hulu yaitu mencakup industri pupuk, benih, pestisida, alat mesin pertanian, on farm mencakup lahan, air dan sumber daya mineral sedangkan hilir mencakup kebijakan pemerintah dalam pasca panen dan pengolahan hasil.

Dalam bedah buku yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Sekretariat Wakil Presiden pada hari Kamis 11 Juni 2015 di Sekretariat Wakil Presiden dibahas 4 topik yang bersumber dari artikel-artikel yang pernah ditulis oleh Prof. Gatot di media cetak yang kemudian dibukukan. Topik tersebut yaitu mengenai banjir dan kekeringan, prasarana dan sarana bagi petani, ketahanan pangan dan ekonomi dagang serta posisi Indonesia di peta pertanian dunia. Banjir dan kekeringan merupakan salah satu kendala bagi petani di Indonesia, fakto banjir yang paling esensi yaitu dikarenakan adanya alih fungsi lahan pertanian menjadi industri. Prof. Gatot menyatakan bahwa solusi untuk masalah banjir dan kekeringan yaitu diperlukan partisipasi publik dalam penanggulangan bencana dan dilibatkan dalam pengembangan proyek-proyek pemberdayaan masyarakat pola padat karya, solusi lain untuk mengatasi banjir yaitu dengan stop pembangunan horisontal dan digalakannya pembangunan vertikal agar degradasi lahan dapat diminimalkan serta moratorium alih fungsi lahan dan pembatasan zona otonom untuk perbaikan RT/RW.

Permasalahan yang dipaparkan oleh Prof. Gatot terkait lahan dan air ini diantaranya adalah kekeringan, konflik air, lahan kritis dan hilangnya Daerah Aliran Sungai (DAS), permasalahan tersebut dapat diatasi dengan adanya teknologi yang mendukung untuk menciptakan efisiensi dan penciptaan varietas unggul, didukung oleh birokrasi yang direformasi secara efisien dan efektif serta pro pada petani, sera supply yang mumpuni. Apabila teknologi, birokrasi dan supply saling berkesinambungan maka akan terwujud petani yang merdeka.

Ketahanan pangan sangat diperlukan untuk terwujudnya swasembada pangan, swasembada pangan merupakan solusi agar bisa keluar dari perangkap pangan yaitu ketergantungan impor pangan. Prof. Dr. Ir. Irsal Las, MS. Peneliti senior pada Balitbang Kementerian Pertanian menyatakan rasio jumlah penduduk Indonesia dengan lahan pertanian yang tersedia rata-rata 1,49% per tahun, kita hanya ditopang oleh 23,1 juta lahan yang 8.1 ha nya merupakan lahan sawah.

Apakah kita bisa berdaulat pangan?. Prof. Gatot menyatakan kita harus bisa berdaulat pangan, kalau bukan kita siapa lagi. Jangan budayakan impor menjadi solusi dalam memecahkan masalah kebutuhan pangan di Indonesia, didukung dengan kondisi tipisnya suplai pasar beras dunia. Impor juga dapat menyebabkan petani menjadi enggan menanam padi, kemudian akan berdampak lahan pertanian dijual dan beralih menjadi industri. Sehingga apabila itu terjadi 240 juta jiwa penduduk indonesia akan bergantung pada impor dan utang negara tak kunjung lunas. (sf/humasristek)