Dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keahlian di bidang antena, Jurusan Teknik Fisika, Fakultas Teknik UGM menyelenggarakan Techno Antenna Fair 2015 (TAF 2015) pada  tanggal 6-7 Juni 2015. Techno Antenna Fair ke-8 kali ini yang bertema “Teknologi Early Warning System Tanggap Bencana dan Sistem Komunikasi Darurat”  merupakan  pekan tingkat nasional yang mencakup 4 kategori lomba antena, pameran teknologi, dan kontes. TAF 2015 terselenggara atas kerjasama Jurusan Teknik Fisika Fakultas Teknik UGM dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dan  ORARI  Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pada tahun ke-8 dalam penyelenggaraannya kali ini ada 4 kategori lomba antenna yaitu, lomba Antenna Omnidirectional dengan Antenna Pattern Analyzer (APA), Lomba Antenna Omnidirectional dengan Signal Doubling Contest (OMNI-SDC), Lomba Antenna Directional dengan Directional Antenna Pattern Analyzer (DAPA), dan lomba Antenna Directional dengan Signal Doubling Contest (Direct-SDC), serta  HT Doubling Contest. Dalam ajang TAF 2015 para mahasiswa, para pengembang antena, dan praktisi telekomunikasi Indonesia berkumpul untuk berkompetisi mendapatkan desain antenna omnidirectional dan antenna directional  yang inovatif dan efektif. Selain sebagai ajang berkompetisi, TAF 2015 merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan minat dan potensi yang dimiliki khususnya di bidang elektromagnetik.

Dalam sambutannya, Budi Susilo, Pengurus ORARI DI Yogyakarta mengharapkan lomba antena ini menghasilkan produk antena yang dapat diimplementasikan sebagai sistem peringatan dini tanggap bencana dan sistem komunikasi darurat bencana. Dekan Fakultas Teknik UGM, Panut Mulyono, menekankan bahwa sistem antena yang baik sangat dibutuhkan di Indonesia, di antaranya digunakan dalam situasi bencana, seperti banjir, tanah longsor, dan gempa bumi. Dalam keadaan bencana, sistem berbasis listrik tidak dapat digunakan, hanya sistem radio yang bisa digunakan. Oleh karena itu, Inovasi terkait antena harus ditingkatkan terus, sehingga dapat menghasilkan teknologi yang lebih maju. Selain dari sisi teknis, diperlukan regulasi yang mendorong kemandirian teknologi dan penyediaan bahan baku lokal yang mendukung pengembangan teknologi, sehingga nantinya dari hulu sampai hilir produk teknologi dapat dibuat di Indonesia, pada akhirnya dapat berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selanjutnya, Deputi Relevansi dan Produktivitas IPTEK, DR. Ir. Agus Pudji Prasetyono, M.Eng., sekaligus membuka TAF 2015 menyampaikan bahwa link match dengan industri suatu hal yang sangat penting dan memungkinkan bagi para peneliti dan perekayasa bekerja di industri nasional, meningkatkan dukungan teknologi bagi industri, dan membangun industri nasional. Oleh karena itu Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi sangat mendukung TAF 2015 dan mengharapkan hasil dari TAF 2015 dapat memunculkan industri pemula berbasis teknologi dan lebih lanjut, hasil produk TAF 2015 dapat diterapkan ke produk teknologi yang lebih besar, seperti produk satelit, radar, dan alkom.

Techno Antenna Fair 2015 yang telah berlangsung selama dua hari tanggal 6-7 Juni 2015 dengan tema “Teknologi Early Warning System Tanggap Bencana dan Sistem Komunikasi Darurat”, TAF 2015 sebagai salah satu langkah untuk menggalang kemampuan iptek yang berdaya saing dan berdaya inovasi secara nasional dan internasional, dapat mengembangkan jejaring Iptek serta mampu meningkatkan kecintaan masyarakat pada iptek dan menimbulkan semangat kerjasama antara mahasiswa/akademisi/peneliti, industri dan komunitas iptek.   Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi sangat mengharapkan ajang lomba antena ini dapat meningkatkan kreativitas dan keterampilan peserta melalui kompetisi yang berkualitas dan berkesinambungan, dapat dihasilkan produk antena yang efisien dan dapat dijual ke pasar, terjadi kolaborasi antara para pengembang antena dan industri nasional untuk menghasilkan produk yang lebih strategis, di antaranya dalam pengembangan early warning system mitigasi bencana, satelit, radar, dan alkom.  Khusus bagi mahasiswa, ajang ini dapat meningkatkan pemahaman tentang pemanfaatan komunikasi berbasis radio sebagai alat komunikasi, dan dapat meningkatkan kolaborasi antara pengembang antena dan mahasiswa dalam pengembangan di bidang telekomunikasi. (dep-rpi/humasristek)