MAKASSAR – Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Ditjen Belmawa) terus melakukan berbagai upaya sistematis, terencana, dan berkelanjutan untuk meningkatkan mutu Pendidikan Tinggi di Indonesia. Salah satunya adalah melalui pengembangan strategi yang efektif dan efisien dalam sebuah program studi atau institusi yang pengakuannya tidak hanya di Indonesia, namun juga secara global.

Seminar dan workshop internasional yang digagas oleh Ditjen Belmawa Kemenristekdikti di Hotel Aryaduta Makassar, Selasa (8/8/2017), dibuka secara resmi oleh Direktur Jenderal Belmawa Intan Ahmad didampingi Direktur Penjaminan Mutu Aris Junaidi, dengan memukul alat musik tradisional, berupa gendang.

Mengangkat tema Penguatan Sistem Penjaminan Mutu Internal berbasis Outcomes, seminar tersebut merupakan salah satu dari rangkaian Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-22 yang digelar di Makassar, Sulawesi Selatan. Acara tersebut diikuti oleh sebanyak dua ratus peserta yang berasal dari pimpinan perguruan tinggi dan pimpinan penjaminan mutu dari lima puluh empat perguruan tinggi terakreditasi A, dan dua orang peserta dari tujuh puluh perguruan tinggi yang perguruan tingginya terakreditasi A.

Dirjen Belmawa Intan Ahmad mengungkapkan bahwa guna meningkatkan mutu pendidikan tinggi di Indonesia, pihaknya sengaja mendatangkan ahli penjaminan mutu dari Australia, Singapura, Selandia Baru, dan Filipina untuk berbagi ilmu dan pengalaman.

“Banyak program studi perguruan tinggi di Indonesia yang harus ditingkatkan mutunya, kita memiliki lebih dari 25.000 program studi yang akreditasinya bervariasi dan masih banyak yang berada pada posisi akreditasi C. Kita bisa belajar dari para ahli ini bagaimana meningkatkan mutu, yang tentu saja cara meningkatkan mutu yang ada di negara maju belum tentu pas dengan yang ada di Indonesia. Tapi kita bisa belajar dari mereka,” jelas Intan yang mengenakan batik merah.

Intan berharap melalui diskusi yang dihadiri oleh pimpinan perguruan tinggi di Indonesia yang bertanggung jawab terhadap mutu, dapat menjadi wadah untuk saling cerita bertukar pikiran melalui pengalaman-pengalaman baik untuk meningkatkan mutu. “Karna faktanya juga di Indonesia tidak sedikit program studi yang memperoleh akreditasi internasional dari Amerika, Eropa, Jepang, Korea, jadi kita bisa belajar disini,” ujarnya.

Lebih lanjut Intan menjelaskan Ditjen Belmawa telah melakukan peningkatan mutu program studi perguruan tinggi melalui program bimbingan teknis yang dilakukan di berbagai Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) 1-14, dan kemudian dilakukan juga secara regional.

“Di pembelajaran dan kemahasiswaan banyak ahli dosen-dosen dari perguruan tinggi yang membantu kami untuk meningkatkan mutu. Karena mutu ini adalah lebih kepada hal-hal yang secara internal yang harus dibangun. Semoga dengan adanya seminar ini para peserta mendapatkan ide yang lebih baik bagaimana cara meningkatkan mutu, dan ini merupakan pesan yang akan dibawa ke kampusnya masing-masing untuk meningkatkan mutu,” jelas Intan secara antusias.

Narasumber yang hadir dalam seminar dan workshop internasional tersebut adalah Eve McMahon, Manajer Quality Assurance Strategy NZQA (New Zealand Qualifications Authority), Karen Treloar, Ahli Ekonomi, Penjaminan Mutu, dan Manajemen dari Australia yang juga menjabat sebagai Direktur Audit di Australian Universities Quality Agency (AUQA), Professor Lyn Karstadt, Dekan Eksekutif Fakultas Kesehatan, Teknik, dan Sains University of Southern Queensland, Johnson Ong Chee Bin, Ahli dari ASEAN University Network for Quality Assurance (AUN-QA) dan anggota dari tim teknis AUN-QA, dan Raymund Sison, Pimpinan Assessor di ASEAN University Network.