Makassar – Relevansi kompetensi pendidikan terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan sangatlah penting bagi pembangunan kesehatan bangsa sekaligus sebagai upaya peningkatan daya saing tenaga kesehatan, karena sistem pelayanan berpengaruh dalam proses mutu pendidikan untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri (RS PTN) didirikan untuk memperkuat fungsi pendidikan dan penelitian klinik yang berbasis pelayanan kesehatan. Proses pendidikan di RS PTN lebih ditekankan pada pendekatan pendidikan interprofesi kesehatan (inter-professional education) untuk menumbuhkan budaya kolaborasi di antara tenaga kesehatan, yang dimulai sejak menjadi mahasiswa. Selain itu, RS PTN juga didorong untuk menjadi ‘Center of Excellence’ dalam penelitian dan inovasi bidang kesehatan yang sesuai dengan kearifan lokal dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

“RS PTN harus punya sarana dan prasarana untuk menunjang proses pendidikan dan penelitian yang sesuai standar, dengan tetap mengutamakan fungsi pelayanan kesehatan yang menjamin keselamatan pasien,” ucap Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) dalam sambutannya di acara Lokakarya Asosiasi Rumah Sakit Pendidikan Indonesia (ARSPI) di Hotel Grand Clarion, Sulawesi Selatan, Kamis (30/11).

Pada tahun 2016, Kemenristekdikti dan Kemenkes bersepakat membentuk komite bersama untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan, Penelitian, dan Pelayanan Kesehatan. Salah satu bidang prioritas Komite Bersama adalah program pengembangan dan pembinaan RS PTN yang berupaya mengharmonisasi berbagai peraturan terkait implementasi RS PTN, dan berbagai peraturan teknisnya, juga melakukan pendampingan serta monev implementasi RS PTN agar dapat beroperasi sesuai dengan fungsinya.

“Perlu adanya sinergi antara Kemenristekdikti dengan RS PTN, RS PTS, RSD, dan RS Pusat Kemenkes dalam meningkatkan pendidikan kesehatan dan pelayanan publik di bidang kesehatan masyarakat,” ungkap Nasir.

Ketua umum Asosiasi Rumah Sakit Pendidikan Indonesia (ARSPI) Heru Hariyadi menambahkan, pada dunia pelayanan rumah sakit di Indonesia agar kerja sama sinergi antar profesi bisa dikembangkan dengan baik. Dan pada saat ini juga menurutnya sudah ada 726 RSD yang sudah siap digunakan oleh masyarakat dan dapat digunakan sebagai sarana pendidikan.

Selain itu, Nasir juga berpesan acara lokakarya kali ini bisa melakukan perbaikan kedepan bagi RS daerah dan RS PTN dengan tetap menjaga mutu dan kualitasnya.

“Asosiasi RS PTN ini harus terus bersinergi dengan pemangku kepentingan terkait dan ARSPI yang dalam hal ini menaungi seluruh RSP. Kita harus bersama memperkuat kolaborasi, baik itu RSP yang telah digunakan sebagai RSP utama maupun jejaring,” harap Nasir.

Pada Kesempatan yang sama, Menristekdikti Mohamad Nasir melantik pengurus Asosiasi Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (ARSPTN) periode 2017-2022 kedepan.

Dalam acara ini, hadir juga Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti (SDID) Ali Ghufron Mukti, Rektor Universitas Hasanuddin (UNHAS) Dwia Aries Tina Pulubuhu, para Rektor dan Direktur pengelola Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri (RS PTN) dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM PTN), Ketua Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSADA), dan Pimpinan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (WD)

Galeri