Jakarta – Indonesia sangat rentan terhadap beberapa jenis penyakit tropis, terutama terhadap beberapa penyakit yang disebarkan melalui nyamuk. Salah satunya penyakit malaria yang masih menghantui masyarakat di Indonesa, disebabkan karena memiliki iklim tropis yang hanya ada dua musim saja yaitu panas dan juga hujan.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, mengatakan, dengan kondisi penyakit malaria yang rentan, membuat para peneliti di Indonesia khususnya peneliti dari Lembaga Eijkman melakukan berbagai penelitian penyakit malaria ini.

“Saya menyambut baik atas perkembangan penelitian terhadap penyakit malaria ini. Banyak peneliti dari Eijkman telah mampu dan menguasai untuk membuat obat-obatan terhadap penyakit ini, ditengah kondisi kesehatan penduduk Indonesia yang masih rendah,” ujar Menteri Nasir.

Ketua Lembaga Eijkman, Amin Soebandrio meyakini, pentingnya melakukan tes asam deoksiribonukleat atau yang lebih dikenal tes DNA kepada masing-masing individu terkait penyakit, khususnya penyakit tropis di Indonesia. Tes DNA dapat membuat pengobatan terhadap penyakit tropis dapat ditingkatkan.

“Sekarang ini adalah eranya penyakit dapat di obati secara individu, bukan secara umum, karena era yang akan datang, seseorang akan di obati penyakitnya melalui deteksi latar belakang genetiknya. Tes DNA ini yang ingin kami perkuat agar pengobatan terhadap penyakit malaria, bisa semakin baik,” tutur Ketua Eijkman.

Seperti yang dikatakan Menteri Nasir, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi akan mendorong riset-riset yang dihasilkan peneliti-peneliti anak bangsa dalam meningkatkan kualitas pengobatan di Indonesia.

“Pemerintah akan berupaya untuk memfasilitasi lembaga Eijkman dalam menghasilkan riset yang dapat dimanfaatkan masyarakat Indonesia. Saya juga berharap lembaga Eijkman dapat terus bersinergi dengan pemerintah guna mencetak peneliti anak bangsa yang profesional dengan standar internasional,” harapnya

Pada kesempatan yang sama, Menristekdikti Mohamad Nasir, dan Ketua Lembaga Eijkman, Amin Soebandrio, membuka acara “The 6th International Eijkman Conference – 25th Year Celebration of Eijkman Institute” di Hotel DoubleTree, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (1/8).

Konferensi internasional yang bertepatan dengan peringatan 25 tahun lembaga Eijkman ini diikuti oleh 332 peserta yang mewakili 64 institusi lokal dan 20 institusi dari 11 negara lain. Pembicara, pemakalah, dan peserta akan menyampaikan hasil topik simposium seperti penyakit malaria, kesehatan global, kerentanan terhadap penyakit, dan penyakit genetik dan diagnosisnya. (ard)

Galeri