SEMARANG – Menristekdikti Mohamad Nasir menjadi narasumber dalam dialog pendidikan dengan tema “Pengelolaan Akademik di Era Disrupsi Teknologi”, di Aula Universitas Ngudi Waluyo (UNW), Rabu (28/03).

Era disrupsi menurut Nasir dalam penjelasannya adalah dimana evolusi atau perubahan ketika masyarakat menggeser aktivitas-aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata, ke dunia maya atau digitalisasi. Fenomena ini berkembang pada perubahan pola dunia bisnis.

Nasir katakan era ini akan menuntut kita untuk berubah atau punah, berinovasi atau tertinggal. Salah satu cara antisipasinya perguruan tinggi didorong untuk digitalisasi sistem pendidikan.

“Saat ini Indonesia tengah memasuki era Revolusi Industri 4.0, era disrupsi teknologi. World Economic Forum (WEF), menyebut Revolusi Industri 4.0 adalah revolusi berbasis Cyber Physical System yang secara garis besar merupakan gabungan tiga domain yaitu Digital, Fisik, dan Biologi. Ini ditandai dengan munculnya fungsi-fungsi kecerdasan buatan (artificial intelligence) dalam teknologi industri yang semakin pintar menyaingi manusia; eranya mobile supercomputing, intelligent robot, self-driving cars, neuro-technological brain enhancements, bahkan genetic editing (Manipulasi Gen),” papar Nasir.

Dalam pembahasannya Nasir mengungkapkan, keunggulan sebuah perguruan tinggi, tidak saja hanya dinilai dari jumlah gedung, fasilitas atau jumlah dosen dan mahasiswa yang dimiliki. Hal utama adalah kontribusinya dalam menghasilkan SDM yang memiliki kompetensi dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun global. Juga kontribusinya dalam menghasilkan dan mengaplikasikan IPTEK bagi masyarakat.

Menurut Nasir, Perguruan Tinggi Swasta juga mampu bersaing dengan Perguruan Tinggi Negeri.

“Perguruan Tinggi dituntut kesanggupannya dalam memproduksi SDM terdidik yang berkualitas, terampil, dinamis, dan menjadi learner yang mampu belajar, serta mengejar hal-hal baru. Bahkan menjadi garda terdepan dalam menghadapi perkembangan zaman,” jelasnya.

Tak hanya itu, lanjutnya, Perguruan Tinggi semakin dituntut untuk mempersiapkan para mahasiswanya akan pekerjaan yang belum ada. Di samping menciptakan iptek yang inovatif, adaptif, kompetitif sebagai konsep utama daya saing dan pembangunan bangsa di era industri 4.0.

Sementara itu, Subyantoro Rektor UNW mengatakan, UNW masih bisa memberikan layanan prima kepada masyarakat dan bersinergi dengan stakeholder di era revolusi industri 4.0. Perkembangan pendidikan tinggi harus makin dipacu dengan berbasis teknologi sehingga Perguruan Tinggi dapat memberikan dampak responsif terhadap perkembangan revolusi industri 4.0.

“Kedepan, pada era disrupsi ini, UNW akan memberikan layanan prima berbasis teknologi kepada civitas akademika, khususnya masyarakat luas,” tutup Subyantoro. (AP)

Galeri