Jakarta, Senin, 29 Januari 2018.  Globalisasi Pendidikan dan Revolusi Industri ke 4 (RI 4.0) tidak terelakkan dan harus dihadapi oleh generasi muda Indonesia.

Menyambut tahun 2018, Kemenristekdikti telah aktif menyuarakan kebijakan, program dan pandangannya, untuk menghadapi Globalisasi Pendidikan dan RI 4.0 tersebut.

Dimulai dengan suksesnya acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kemristekdikti di USU, Medan, 16-17 Januari 2018, yang dilanjutkan dengan partisipasi Indonesia di London, Inggris, 22-24 Januari 2018 dalam forum ‘’The Education World Forum 2018: Global Summit for Education Minister”; Kemristekdikti tetap konsisten dalam mensosialisasikan program dan kebijakan Kemristekdikti menghadapi Gobalisasi Pendidikan dan Revolusi Industri ke-4 (RI 4.0).

Urgensi untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia yang berkualitas, sehingga mereka menjadi SDM yang kompeten, mampu untuk berfikir inovatif, serta optimum menguasai bidang ilmunya, dan  menerapkannya dalam dunia pekerjaannya, memperbaiki kualitas hidup manusia Indonesia, maupun dalam rangka berkontribusi terhadap pembangunan nasional, adalah tujuan utama dari Kemenristekdikti saat ini.

Lingkungan Baru ‘Era Global & RI 4.0: Memerlukan Kebijakan Pendidikan Tinggi Yang Berbeda.

Tiga elemen utama yang mengharuskan Indonesia merubah pandangannya dalam mengembangkan dunia pendidikan adalah:

  • Globalisasi Pendidikan — LINGKUNGAN

(Cyber Tech, Internet of Things (IoT), Competition, Cloud Computing, New TechnologyKualitas, Habitat dan Keunikan ? STRATEGI (Business Model, Technology, etc)

  • Kelembagaan dan Struktur (Creativity, Innovation, Multi discipline, entrepreneur etc)

Definisi Globalisasi, seperti dilansir dari BBC, adalah proses dimana dunia menjadi semakin terhubung. Hal ini diakibatkan dari meningkatnya perdagangan secara masif, serta terjadinya pertukaran budaya.

Dampak positif dari Globalisasi:

  1. Mendorong perusahaan multinasional investasi ke negara negara berkembang yang akan mendorong dan menyediakan lapangan kerja serta keahlian baru bagi penduduk negara negara berkembang.
  2. Pertukaran ide, informasi, pengalaman, dan gaya hidup.
  3. Globalisasi membuat kesadaran terhadap kualitas lingkungan menjadi lebih tinggi seperti global warming dan deforestation (penebangan hutan).
  4. Meningkatkan efisiensi kerja akibat penyerapan teknologi contohnya tulis tangan yang kemudian berpindah ke mesin ketik, lalu ke komputer lawas lalu berpindah ke komputer modern dan selanjutnya dari segi software.

Dampak negative dari Globalisasi:

  1. Globalisasi dapat melemahkan kedaulatan nasional.
  2. Jika kurang daya saing, dapat tergerus oleh kekuatan superpower.
  3. Globalisasi dapat mengakibatkan hilangnya identitas budaya nasional.
  4. Dapat menimbulkan eksploitasi terhadap negara kurang berkembang
  5. Tantangan Revolusi Industri 4.0 dan Digital Economy

Perubahan global dalam tenaga kerja: 75-375 juta pekerja di dunia berubah profesi pekerjaannya.

Menurut Parray (ILO, 2017), Indonesia harus memperbaiki kualitas tenaga kerjanya dengan teknologi digital dan berinovasi.   Era ‘technology disruption’, memerlukan penguasaan kombinasi teknologi, seperti fisika, digital dan biologi (Schwab, 2017).

Beberapa disiplin ilmu/ketrampilan yang berkembang dan perlu dikuasai oleh generasi muda Indonesia antara lain adalah: ‘Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), New Materials, Big Data, Robotics, Augmented Reality, Cloud Computing, Additive Manufacturing 3-D Printing, Nanotechnology, Biotechnology, Genetic Editing, e-Learning’.

  • Berdasar Evaluasi Awal Tentang Kesiapan Negara dalam RI-04, Indonesia diperkirakan sebagai negara dengan potensi tinggi

Adopsi teknologi baru kedalam Revolusi Industri-4, juga ditandai dengan kemampuan SDM untuk melakukan berbagai terobosan inovasi, meningkatkan kemampuan untuk menggunakan informasi dari internet dengan optimum, memperluas akses dan meningkat proteksi ‘Cyber Security’.

Yang menggembirakan adalah Indonesia masuk dalam kategori Negara yang siap untuk menjalankan Revolusi Industri ke-4 tersebut.  Hal ini merujuk kepada report awal dari “the preliminary 4IR Country Readiness Evaluation”, dimana Negara Indonesia dikatakan sebagai kandidat yang potensial dan siap untuk menyambut Revolusi Industri ke-4 (RI 4.0). Untuk ini, Indonesia yang mendapatkan keuntungan dari ‘foreign direct investment (FDI)’, terus menerus membangun infrastruktur dalam bidang pendidikan tinggi, untuk mempersiapkan 4 IR.

  • Indonesia telah meratifikasi WTO Agreement melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994

General Agreement on Trade in Services (GATS) merupakan bagian dari kesepakatan WTO (World Trade Organization).

GATS dipandang sebagai instrumen untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan.

Dua belas bidang/sektor layanan dalam GATS adalah

(i) Layanan Bisnis, (ii) Layanan Keuangan,

(iii) Layanan Konstruksi,

(iv)  Layanan Pendidikan,

(v) Layanan Travel/Pariwisata,

(vi) Layanan Transportasi,

(vii) Layanan Komunikasi,

(viii) Layanan Distribusi,

(ix) Layanan Lingkungan,

(x) Layanan Kesehatan,

(xi) Layanan Rekreasi dan Budaya,

(xii) Layanan lainnya.

  • Visi-Misi Pembangunan 2015-2019

Dalam menjalankan program pendidikan tinggi, riset, teknologi dan inovasi, Kemenristekdiktii tetap mengacu pada Program Nawacita 2015 – 2019, dengan visi Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong-royong.

  • Rencana/ Sasaran Strategis Kemenristekdikti 2015-2019

Pada saat Ini, sasaran strategis Kemenristekdikti dianggap masih relevan, perubahan dilakukan pada “Program dan Model Layanan yang labih banyak menyediakan/menggunakan teknologi digital/on line.

Tiga Sasaran Strategis (SS) dan Indikator Kinerja Sasaran Strategis (IKSS) adalah:

(i)            SS-1: Meningkatkatnya kemampuan Iptek dan Inovasi, IKSS-1: Iptek dan Inovasi, Tahun 2017, 2018, 2019 (6.85; 24.82; 32. 41).

(ii)           SS=2:  Meningkatnya relevansi, kualitas dan kuantitas pendidikan tinggi, IKSS-2: Indeks Pendidikan Tinggi, Tahun 2017, 2018, 2019 (26.12; 34.12; 42.25).

(iii)          SS-3: Terlaksananya Reformasi Birokrasi: IKSS-3: Indeks Reformasi Birokrasi Tahun 2017, 2018, 2019 (75, 80, 85)

  1. Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Merupakan Faktor Yang Semakin Penting Dalam Membangun Daya Saing Bangsa, Meningkatkan Kesejahteraan dan Keadilan

Tiga bidang/faktoryang harus dikuasai oleh suatu negara untuk memajukan indeks daya saing bangsa, yaitu

(i)            Pendidikan Tinggi dan Pelatihan,

(ii)           Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dan Kesiapan Teknologi,

(iii)          Inovasi dan ‘Business Sophistication’.

Penguasaan ketiga elemen utama ini diharapkan dapat Meningkatkan daya saing,Kesejahteraan, dan Keadilan (mengurangi kesenjangan).

  • Mengapa Harus Ada Kebijakan Baru: Strategic Inflection Point

Strategic Inflection Point, menurur Andrew S. Grove, didefinisikan dengan, suatu waktu dalam proses bisnis, dimana suatu aspek fundamental akan berubah. Perubahan ini dapat berarti suatu kesempatan untuk menjadi lebih baik, atau hanya suatu signal dari berakhirnya suatu proses atau model.

  • Kinerja sebelum terjadi strategic inflection point.

Periode yang lalu, dimana (i) tidak ada PT asing beroperasi di Indonesia (Globalisasi), (ii) Tidak ada Disruptive Innovation di Pendidikan Tinggi (online dan distance learning massive)

  • Pada titik ‘Strategic Inflection Point’.

Globalisasi (Perguruan Tinggi Asing beroperasi di Indonesia).

Disruptive Innovation di Pendidikan Tinggi (online and distance learning massive)

  1. Kinerja yang akan terjadi jika strategi baru diterapkan cenderung meningkat.
  2. Kinerja yang akan terjadi jika strategi lama terus diterapkan cenderung menurun.
  3. Perubahan maupun kebijakan baru Kemenristekdikti dalam menghadapi RI 4.0:
  • Khususnya perubahan kebijakan dan program yang terkait dengan

(i)            Kelembagaan

(ii)           Pembelajaran & Kemahasiswaan

(iii)          Sumber Daya Iptekdikti

(iv)         Riset dan Pengembangan, Inovasi

  • Program terkait Pelaksanaan Prioritas Nasional dan Kementerian selama ini, adalah tetap dan relevan dengan era RI 4.0. Kegiatan tersebut meliputi kegiatan Bidik Misi, Revitalisasi PT Vokasi, Pembelajaran daring, dan Peningkatan Kualitas PT (akreditasi dan reputasi internasional).
  • Program terkait Riset dan Pengembangan diarahkan pada penciptaan teknologi-teknologi masa depan yang mendukung RI 4.0.
  • Program terkait inovasi diarahkan pada pemanfaatan teknologi maju untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam.

G (i) Perubahan dalam bidang Kelembagaan

  • Perguruan Tinggi agar mulai mempersiapkan pembelajaran daring (Online/Distance Learning) dengan merujuk pada Peraturan Menteri tentang Standar Pendidikan Tinggi Jarak Jauh (PJJ).
  • Kemenristekdikti menyiapkan kebijakan baru:

a. Permen PJJ agar perguruan tinggi Indonesia segera melaksanakan distance learning.

b. Akan memberikan fleksibilitas, otonomi atau pendelegasian kewenangan kepada unit, untuk mendorong kreatifitas dan inovasi.

c. Memberi kesempatan untuk beroperasinya Universitas Unggul di dunia (internasional/ negara lain) beroperasi di Indonesia.

Permenristekdikti Untuk Mengatur dan atau Menfasilitasi Pembukaan dan Pengembangan Pendidikan Jarak Jauh (Daring)

– PJJ ditujukan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas pendidikan tinggi secara fleksibel lintas ruang dan waktu, dengan menggunakan teknologi informasi.

– PJJ dapat dilaksanakan pada tingkat mata kuliah, program studi, dan perguruan tinggi (cyber university).

– Indonesia mempunyai Universitas Terbuka, yang dikembangkan lebih lanjut sehingga dapat berperan sebagai Cyber University of Indonesia.

– PT selain UT juga didorong untuk mengembangkan PJJ.

– Pelaksanaan PJJ tetap harus memperhatikan kualitas, memenuhi standar PJJ yang meliputi aspek sistem, proses pembelajaran, pendidik dan dosen, serta infrastruktur teknologi informasi yang diperlukan.

G (ii) Perubahan dalam bidang Pembelajaran dan Mahasiswa

  • Reorientasi kurikulum dilakukan untuk membangun kompetensi yang diperlukan oleh RI 4.0.
  • Kementerian akan memberikan Hibah dan Bimbingan Teknis (BIMTEK) untuk reorientasi kurikulum (GEN-RI 4.0) untuk 400 PT.
  • Perguruan Tinggi agar mempersiapkan:

1)            Reorientasi Kurikulum.

2)            Pembelajaran Daring dalam bentuk Hybrid/Blended Learning melalui SPADA-IdREN.

Solusi untuk Pendidikan Tinggi di Indonesia menghadapi RI 4.0

a. Human literacy (literasi manusia) adalah bagian dari bidang pendidikan secara umum, yang harus dikuasai oleh para mahasiswa/i.

b. Mata ajaran (courses) terkait Data dan technological literation (literasi data dan teknologi) harus ditawarkan kepada para masiswa/i.

Tiga literasi baru untuk memperbaharui pendidikan tinggi di Indonesia adalah

  1. Data Literation (Literasi Data)
  2. Technological Literation (Literasi Teknologi)
  3. Human Literation (Literasi Manusia)

Literasi Data adalah kemampuan untuk membaca, analisa dan menggunakan informasi dari Big Data dalam dunia digital.

Literasi Teknologi adalah kemampuan untuk memahami sistem mekanika dan teknologi dalam dunia kerja, seperti ‘Coding’, ‘Artifical Intellence (AI)’, dan prinsip-prinsip teknik rekayasa (engineering principles).

Literasi Manusia adalah dalam bidang Kemanusiaan, Komunikasi dan Desain (Rancangan) – yang perlu dikuasai oleh semua lulusan Sarjana di Indonesia. Khusus untuk Literasi Manusia, strategi yang harus diterapkan kepada generasi penerus adalah, mereka harus mampu berinteraksi dengan baik, tidak kaku, dapat melakukan pendekatan kemanusian dengan melaksanakan komunikasi yang baik dan berbobot, selain harus menguasi desain kreatif dan inovatif.

Untuk menghasil output SDM Indonesia yang berkualitas, berfikir kritis dan sistemik (thinking critically and systemic), mampu berkomunikasi secara lateral maupun dengan higher level, dan mempunyai keinginan berwirausaha (entrepreneurship), diperlukan beberapa elemen utama yaitu:

  1. General Education
  2. New literation (Data Literation, Technological Literation, Human Literation

iii. Program and Co-Extra Curricular

  1. Cognitive Ability
  2. Lifelong learning

G (iv) Perubahan Dalam Bidang Sumber Daya

  • Pengembangan kapasitas dosen dan tutor dalam pembelajaran daring.
  • Pengembangan infrastruktur MOOC (Massive Open Online Course), teaching industry, e-library.
  • Kementerian memfasilitasi kemudahan konektivitas melalui IdREN (backbone) untuk online learning system di Indonesia (SPADA Indonesia).

G (v) Penguatan Riset & Pengembangan, serta Penguatan Inovasi

  • Implementasi RIRN 2015-2025.
  • Penerapan teknologi digital dalam pengelolaan riset, antara lain dengan peningkatan intensitas penggunaan Sinta.
  • Perguruan Tinggi dan Lembaga Litbang wajib:
  • mengharmonisasi-kan hasil–hasil riset pengembangan dan penerapan teknologi melalui Lembaga Manajemen Inovasi.
  • melaksanakan proses inovasi produk melalui inkubasi dan pembelajaran berbasis industri.
  • Memanfaatkan kerjasama penelitian, publikasi, dan inovasi secara nasional & internasional dengan menjaga kepentingan nasional.
  • Mendorong Riset dan Inovasi di dunia usaha/industry dengan pemberian insentif baik insentif fiscal maupun non-fiscal.

Turut mendampingi Menristekdikti Mohamad Nasir adalah Sekretaris Jenderal Ainun Naím, Direktur Jenderal Kelembagaan Iptekdikti Patdono Soewignyo, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Mahasiswa Intan Ahmad, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Iptekdikti Muhammad Dimyati, Staf Ahli Menteri bidang Infrastruktur Iptekdikti Hari Purwanto, Staf Ahli Menteri bidang Akademik Paulina Pannen.

 

Nada Marsudi

Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik

Kemenristekdikti

Galeri