Siaran Pers Kemenristekdikti
Nomor : 41/SP/HM/BKKP/III/2018

 

 

Jakarta, 26 Maret 2018

Indonesia tengah memasuki fase transformasi dari negara yang berpendapatan menengah (Middle Income Countries) mejadi negara berpendapatan tinggi (High Income Countries). Upaya membangun kemampuan ekonomi untuk kemandirian dan daya saing bangsa merupakan bagian dari cita-cita Indonesia untuk sejajar dengan negara lain, oleh karena itu Indonesia perlu menata sistem ekonomi yang berbasis iptek dan inovasi.

Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan bahwa potensi ekonomi dan inovasi yang ada di daerah merupakan hal penting untuk dikembangkan. Strategi pembangunan di daerah harus difokuskan kepada pengembangan potensi bisnis yang berbasis pada Produk Unggulan Daerah (PUD). Berbagai macam PUD yang bisa dikembangkan, antara lain komoditas pertanian, perkebunan, kehutanan, hortikultura hingga industri kreatif.

“Inovasi berangkat dari suatu riset yang dapat dikomersialkan. Potensi-potensi yang ada di daerah menjadi sangat penting. Untuk itu saya mohon kepada semua pihak agar terus mendorong semua potensi yang ada di daerah ditingkatkan, agar bertambah nilai kemanfaatannya bagi masyarakat, ” ucapnya pada acara Sosialiasi Program Pengembangan Klaster Inovasi, di Hotel Sultan, Jakarta (26/3).

Program ini lahir sebagai upaya untuk mencari dan memanfaatkan peluang bisnis baru di daerah. Menteri Nasir berharap program ini dapat memacu daya saing nasional, karena tingkat daya saing nasional dibentuk dan didukung oleh kemampuan daya saing daerah yang memiliki karakteristik aktivitas ekonomi, infrastruktur, sumber daya alam, kearifan lokal serta kualitas sumber daya manusia yang beragam.

Menteri Nasir menambahkan bahwa pengembangan ekonomi di daerah berbasis iptek dan inovasi hendaklah sesuai dengan kebutuhan (demand) dari industri dan masyarakat. “ Dalam pengembangan riset di daerah Industri harus diajak bicara. Industri butuh apa, potensi alam daerah apa,” tutur Nasir.

Nasir berharap pertumbuhan riset dan inovasi di daerah baik secara langsung maupun tidak langsung dapat meningkatkan taraf kesejahteraan dan tingkat perekonomian masyarakat di daerah. “ Mari berinovasi untuk negeri. Mari berinovasi untuk kesejahteraan masyarakat,” pungkas Menteri Nasir.

Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Jumain Appe pada kesempatan ini mengatakan bahwa model pengembangan klaster inovasi berbasis PUD ini adalah upaya mendorong kolaborasi dan sinergi peran serta fungsi para aktor inovasi di daerah dalam upaya mengembangkan potensi lokal untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pendekatan Model Klaster Inovasi dilakukan melalui peningkatan peran perguruan tinggi sebagai salah satu elemen penting dalam pembangunan sumber daya manusia yang mampu menciptakan invensi dan inovasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah berbasis sumber daya lokal.

Selain itu, perguruan tinggi dapat menjadi pusat unggulan yang menghasilkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan industri di daerah tempat perguruan tinggi tersebut berada. Perguruan Tinggi harus menjadi ‘agent of region economic development’. Peran pemerintah yang optimal dalam merangsang pertumbuhan investasi bisnis, serta menciptakan iklim usaha yang kondusif, dan dunia usaha/industri yang mampu menciptakan iklim bisnis yang sehat sesuai etika bisnis, sedangkan komunitas sebagai pihak pemakai barang dan jasa atau output ekonomi lebih menyadari pentingnya memakai produk dalam negeri.

Jumain dalam laporannya menyampaikan bahwa agenda dari sosialisasi ini adalah membahas Strategi Kebijakan Penguatan Inovasi dan Program Pengembangan Klaster Inovasi Berbasis Produk Unggulan Daerah (PUD). Kegiatan ini dihadiri 30 provinsi se-Indonesia dari unsur Sekretaris Daerah Provinsi, Balitbangdaprov, Perguruan Tinggi, Dunia Usaha/industry.  Turut hadir dalam pembukaan acara Sesjen Kemenristekdikti Ainun Na’im, Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Intan Ahmad, Kepala Biro Kerjasama dan Komunikasi Pubik Nada Marsudi dan tamu undangan lainnya.

Pada kesempatan ini,  Atrsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala, salah satu penerima hibah Program Pengembangan Klaster Inovasi pada tahun 2017, memaparkan manfaat yang diterima pusat penelitian ini bagi pengembangan industri Nilam di Aceh. Kepala ARC Syaifullah Muhammad mengatakan bahwa kehadiran ARC sangat penting untuk memperkuat subsistem agroindustri di Aceh terutama nilam. Program Riset yang dikembangkan ARC bersifat inklusif, artinya hasil riset terbuka dan ditujukan bagi peningkatan kesejahteraan petani nilam di Aceh.

Syaifullah Muhammad mengatakan pada tahun 2017 ARC mendapatkan bantuan pendanaan riset dari Program Pengembangan Klaster Inovasi Kemenristekdikti sebesar 1,69 milyar rupiah untuk inovasi industri nilam di Aceh. Kepala ARC ini yakin bahwa dengan inovasi yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, akan mengurangi tindak kriminal di Aceh, salah satunya akan mengurangi penanaman ganja.

 

Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik
Kemenristekdikti