BALI – Revolusi Industri (RI) 4.0 dan ekonomi digital merupakan tantangan yang harus disikapi oleh dunia pendidikan tinggi secara cepat dan tepat. Perguruan tinggi baik negeri maupun swasta harus mampu adaptif terhadap setiap perubahan mulai dari pengelolaan kelembagaan, riset, kualitas sumber daya dosen, kurikulum maupun mahasiswa. Agar mampu bersaing dalam era RI 4.0, perguruan tinggi negeri dan swasta  harus membangun budaya mutu agar memiliki daya saing di tingkat global.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir saat membuka Rapat Kerja Daerah Kopertis Wilayah VIII di Bali, Jumat (02/02), mengatakan bahwa saat ini perguruan tinggi baik negeri maupun swasta memiliki nilai yang sama, hal yang membedakan hanyalah sumber dana pengelolaan. Artinya PTS dengan akreditasi A sama nilainya dengan PTN dengan akreditasi A.

“Kita harus merubah paradigma perguruan tinggi ke depan, dikotomi perguruan tinggi swasta dan negeri harus dihilangkan. Mutu jadi tujuan utama sebuah perguruan tinggi dan akreditasi menjadi ukurannya,” ujar Menristekdikti.

Menteri Nasir pada kesempatan ini juga menyampaikan pesan Presiden Joko Widodo agar perguruan tinggi menjaga budaya mutu, sehingga menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Oleh karena itu dibutuhkan komitmen bersama antara pimpinan perguran tinggi dan badan pengelola perguruan tinggi.

Dalam sesi tanya jawab dengan peserta Rakerda, Menteri Nasir menyampaikan salah satu upaya meningkatkan mutu perguruan tinggi adalah dengan melakukan penggabungan (merger) perguruan tinggi-perguruan tinggi kecil. Tujuannya adalah agar dihasilkan perguruan tinggi yang lebih sehat dan bermutu. “Saat ini sudah ada 3 perguruan tinggi yang melakukan merger. Jika yayasan perguruan tingginya sama akan lebih mudah untuk bergabung,” tutur Menteri Nasir.

Terkait Perguruan Tinggi Asing (PTA), Undang Undang No. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi mengatur bahwa perguruan tinggi asing dapat beroperasi di Indonesia, namun demikian tidak semua perguruan tinggi asing yang dapat masuk Indonesia. Ada syarat-syarat ketat yang harus dipenuhi PTA jika ingin beroperasi di Indonesia. “Hanya perguruan tinggi asing dengan kualitas baiklah yang dapat masuk Indonesia. Harapan saya minimal perguruan tinggi dengan peringkat 200 besar dunia yang masuk Indonesia,” ujar Menteri Nasir.

Salah satu upaya Kemristekdikti untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia adalah dengan melakukan revitalisasi pendidikan politeknik. Lulusan pendidikan politeknik akan dibekali berbagai kompetensi dan sertifikasi dengan standar nasional maupun internasional sehingga siap bersaing di era global, baik sebagai tenaga kerja yang handal dan siap pakai maupun membuka usaha sendiri.

Terkait revitalisasi pendidikan vokasi, Dirjen Kelembagaan Iptek dan Dikti Patdono Suwignjo pada kesempatan yang sama mengatakan Kemenristekdikti memberikan 400 beasiswa bagi mahasiswa untuk mendapatkan sertifikasi kompetensi baik di dalam maupun luar negeri. Beasiswa ini khususnya ditujukan bagi mahasiswa vokasi sehingga mereka dapat bersaing di era global.

Koordinator Kopertis VIII, I Nengah Dasi Astawa dalam kesempatan yang sama mengajak perguruan tinggi swasta di wilayah Kopertis VIII untuk memiliki komitmen bersama untuk menghasilkan  perguruan tinggi yang sehat dan unggul. Dengan demikian PTS di wilayah Kopertis VIII dapat menghasilkan alumni dapat bersaing tidak hanya di tingkat lokal namun juga di level nasional bahkan global.

Rakerda Kopertis VIII dihadiri Ketua Badan Penyelenggara PTS dan Pimpinan PTS wilayah Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Turut hadir dalam kegiatan ini Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Intan Ahmad, Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti Ali Ghufron Mukti, Koordinator Kopertis Wilayah VIII, Kepala Biro Kerjasama, dan Komunikasi Publik Nada Marsudi dan tamu undangan lainnya. (FH/HS)

Galeri