Manfaatkan potensi puyuh, tiga mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil menyabet juara kedua dalam Event of Young Researcher and Ecnomics Student (EVEREST) 2018 di Universitas Sumatera Utara, (20-22/4). Mereka adalah Hafzil Adli, Eva Kurniasih, dan Tanti Setiowati.

Data yang didapat dari Asosiasi Peternak Puyuh Indonesia,  tahun 2014 sampai dengan 2017 menunjukkan bahwa Indonesia masih kekurangan dalam memenuhi permintaan telur puyuh. Permintaan jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah produksi yang ada. Dibutuhkkan pemberdayaan masyarakat untuk beternak puyuh agar permintaan dapat terpenuhi. Hal itulah yang melatarbelakangi terciptanya ide untuk mengangkat potensi puyuh.

“Tahun 2017 jumlah permintaan telur puyuh di Indonesia itu sebesar 728 juta sedangkan penawaran atau supply telur puyuh dari peternak kita hanya sebesar 212,4 juta. Menurut kami, permintaan puyuh ini harus terpenuhi oleh peternak-peternak lokal. Maka kami merancang sistem usaha bersama dengan penerapan pertanian terpadu berbasis kewirausahaan ternak puyuh,” kata Hafzil Adli, mahasiswa dari Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB.

Menurutnya potensi yang terdapat pada puyuh, tidak hanya pada telurnya saja. Daging sampai kotoran puyuh pun memiliki potensi yang sangat baik apabila dikembangkan. Daging puyuh mempunyai tingkat kolesterol yang lebih rendah daripada daging ayam maupun itik. Kotorannya pun dapat dimanfaatkan sebagai pupuk ataupun pakan lele.

Sistem pertanian terpadu yang dikembangkannya lebih terfokus pada pakan lele. Kotoran puyuh yang kaya protein untuk ikan lele dapat memperpendek masa panen dari ikan lele,

“Kotoran puyuh memiliki protein yang tinggi untuk pakan lele. Terlebih kotoran puyuh sebagai pakan lele dapat mempersingkat waktu panen yang biasanya dilakukan selama tiga bulan menjadi hanya satu bulan. Minimalisasi cost sudah diterapkan, efisiensi waktu dan sumber daya juga sudah sangat baik,” kata Eva Kurniasih.

Lebih lanjut, Eva menjelaskan bahwa kotoran puyuh tak hanya digunakan untuk pakan saja tapi bisa juga untuk pertanian hidroponik. Kotorannya difermentasi terlebih dahulu dan ditambah dengan unsur-unsur lain.

“Kalau hanya kotoran puyuhnya saja, nanti tidak akan mencukupi zat yang dibutuhkan tanamannya. Sehingga yang kami gunakan di sini adalah hidroponik substrat. Jadi ada pipa kecil sebagai salurannya dan hidroponiknya ini tidak pakai air, tetapi memakai arang sekam. Nah fermentasi kotorannya itu nanti akan masuk ke situ,” ujar Eva.

Sistem usaha bersama yang dirancang oleh tiga mahasiswa agribisnis IPB itu adalah sistem usaha bersama dengan prinsip ruhiyah rupiah atau social capital. Konsep ruhiyah rupiah adalah suatu kelompok pengajian atau arisan yang sudah memiliki kepercayaan dan keterbukaan antar masing-masing anggota sehingga dapat membentuk suatu usaha bersama.

“Konsep ruhiyah rupiah di sini adalah suatu kelompok pengajian atau arisan membentuk suatu usaha bersama. Manajemen maupun permodalan akan ditetapkan sesuai kesepakatan awal dengan berlandaskan kepercayaan. Nilai-nilai dalam modal sosial yang mereka miliki menjadi kunci utama dalam membangun hubungan bisnis sehingga perilaku oportunis dari anggota kelompok dapat berkurang dan sikap partisipatoris dapat meningkat,” kata Hafzil, mahasiswa yang pernah juara lomba busines plan tingkat nasional sewaktu SMA. (Ath/Zul)