Sejumlah mahasiswa Fakultas Teknik UI kembali membuat inovasi pesawat tanpa awak atau disebut drone.

Drone ini menjadi berbeda dari biasanya, karena bisa membantu dalam melakukan pertanian serta mencari mayat.

Josua Christanto, perwakilan tim, mengatakan bahwa teknologi  drone ini berbeda dengan drone-drone yang sudah dibuat sebelumnya, karena menggunakan teknologi Artificial Intelligence (jaringan saraf tiruan).

Teknologi ini  membuat drone ini bisa mendeteksi bentuk benda atau barang yang dilewati.

Drone ini bisa membaca tanaman yang kekeringan. Jika tanaman tersebut terdeteksi kering, maka drone dapat diprogram untuk otomatis menyiram tanaman tersebut.

Selain untuk pertanian, drone ini juga dapat digunakan untuk mencari objek-objek tertentu yang diinginkan.

Teknologi drone mendeteksi, lalu kemudian mengirimkan titik Global Positioning System (GPS) ke objek tersebut, lalu menyimpan data tersebut di memorinya untuk dipergunakan kembali.

Sistem seperti ini memungkinkan drone dimanfaatkan untuk membantu pihak berwenang untuk membantu mereka, seperti pencarian barang-barang bukti atau mencari mayat untuk keperluan analisis kasus.

Kedepan, teknologi ini dikembangkan untuk bisa memahami pola-pola yang berguna untuk pertanian, seperti mencari tanaman rusak, layu tidaknya daun, serta perubahan warna yang terjadi.

Untuk baterai, drone ini memiliki daya tahan 20-an menit. Mereka mengembangkan dua bentuk drone, empat dan enam kaki.

Biaya pembuatannya, drone empat kaki sekitar 7 juta dan untuk versi drone enam kaki 9 juta.

Mahasiswa UI Ciptakan Drone untuk Pertanian dan Pencarian Mayat