Masyarakat kini tidak perlu khawatir dan susah payah dalam meniriskan makanan sejenis keripik. Pasalnya, mahasiswa ITS telah melakukan inovasi dengan menawarkan cara yang lebih efektif melalui mesin sentrifugal dan teknologi vakum. Alat tersebut lebih efektif dan membuat tirisan makanan tidak perlu lagi menggunakan cara manual yaitu meletakkan ke wadah lalu menunggu hingga minyak tak lagi menetes.
Mahasiswa ITS yang menciptakan mesin itu adalah Armanda Siryogiawan, Ashwin Showabi, Anton Putra Widyatama, Anisa Ambarwati, dan Nabilah Nurdianah. Mesin yang mereka ciptakan ini telah dilakukan uji coba pada salah satu Usaha Kecil Menengah (UKM) yang memproduksi rempeyek. Saat uji coba, mesin ini mampu meniriskan minyak 20 rempeyek hanya dalam waktu tiga menit.
Menurut Armanda, ketua tim, ketika uji coba dilakukan, pemilik UKM merasa puas dengan kinerja mesin. “Hasil rempeyeknya juga berbeda menggunakan mesin sentrik. Tidak ada minyak dan lebih gurih,” kata pria yang berkuliah di Departemen Diploma Tiga Mesin Industri ITS ini.
Dari ceritanya, rempeyek yang berjumlah ratusan seketika habis dinikmati orang-orang yang mengikuti uji coba. Mesin sentrik ini merupakan penyempurnaan dari mesin spinner peniris minyak yang sudah ada. Namun mesin spinner tersebut memiliki kelemahan tidak dapat digunakan untuk meniriskan minyak pada olahan keripik yang mudah pecah.
Apabila tidak menggunakan mesin sentrik, Armanda mengatakan produksi UKM yang ditemui akan melambat dan rempeyek bisa jadi melempem. “Waktunya bisa sampai satu hingga dua jam hanya untuk meniriskan minyak. Sedangkan mesin ini bisa melakukan dalam hitungan menit tergantung banyaknya rempeyek,” jelas Armanda.
Selama uji coba sendiri, mesin ini berhasil mengolah 20 rempeyek dalam waktu hanya tiga menit. Dalam waktu tersebut, sebanyak tiga gram minyak tertiriskan dan lima rempeyek pecah. Saat waktunya diubah menjadi tujuh menit, massa minyak yang tertiriskan menjadi enam gram dan tujuh buah rempeyek pecah.
Mesin ini dibuat oleh Armanda dan timnya mulai dari akhir Maret hingga bulan Juli lalu. Ia mengatakan dalam proses pembuatan mesin hanya terdapat kendala kecil seperti ketidakcocokan komponen pembuatan mesin. Mesin berbentuk balok ini menggunakan transmisi pulley and belt dan penggerak motor listrik seperempat paardechracht. “Selebihnya, masyarakat pengguna bisa merespons baik hasil kreasi dan inovasi anak negeri”, harapnya. (Humas ITS)