Surabaya, 7 Juli 2018
Baterai kerap dijadikan masyarakat sebagai sumber energi listrik yang efisien. Dalam komposisinya, baterai memiliki elektrolit (zat kimia) yang berbahaya bagi lingkungan, seperti lithium dan timbal. Terlebih, jika zat tersebut bereaksi akan menimbulkan ledakan dan keracunan pada tubuh.

Beranjak dari kondisi tersebut, tiga mahasiswa dari Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berhasil memanfaatkan sari buah tomat sebagai pengganti zat kimia berbahaya pada baterai. Ketiganya yakni Febrilia Agar Pramesti, Abduh Muharram Chairacita, dan Putri Augista Nur Azizah. Sedang pencetus ide dan pengarah dari karya inovasi tersebut adalah mahasiswa pascasarjana Kimia, Randy Yusuf Kurniawan, di bawah bimbingan dosen Ir Endang Purwanti Setya N MT.

Menurut Randy, buah tomat dianggap tim sebagai buah berasa asam yang sangat mudah dijumpai di wilayah tropis seperti Indonesia. Selain harganya yang relatif murah di pasaran, buah tomat juga digemari masyarakat. Lain halnya, dengan buah berasa asam seperti lemon, jeruk, dan kedondong yang harganya relatif mahal.

“Buah tomat berasa asam tersebut diukur keasamannya melalui kadar vitamin C dan menghasilkan 10-40 miligram vitamin C per 100 gram tomat,” jelasnya. Tomat yang menjadi bahan uji, lanjut Randy, yakni tomat mentah sampai masak dengan mengambil sari tomat terlebih dahulu dengan cara dijus kemudian diuji.

Randy mengatakan, asam merupakan sumber proton, di mana proton ini ketika bereaksi dengan elektroda menghasilkan elektron yang mengalir ke sirkuit luar sehingga terjadi aliran listrik. “Tetapi, sari tomat tersebut masih berbentuk cairan, di mana elektrolit yang berupa cairan menghasilkan tegangan listrik yang kecil,” ujarnya.

Alhasil, papar Randy lagi, sebelum dirangkai menjadi baterai, sari tomat ditambahkan biopolimer berupa agarose untuk menjadi elektrolit berbentuk gel. Penambahan agarose mampu meningkatkan densitas atau kerapatan elektrolit. “Rapatnya elektrolit membuat nilai tegangan listrik menjadi tinggi”, sambung mahasiswa asal Surabaya itu.

Dalam penelitiannya, menurut Febrilia Agar Pramesti, tegangan listrik yang dihasilkan dan diperoleh yakni 1 volt dengan memberikan perlakuan melalui perbandingan volume sari tomat dan agarose encer sebesar 1:2. “Untuk agarose encer sendiri dibuat dengan melarutkan biopolimer agarose ke dalam air dengan perbandingan volume 1:3,” tutur mahasiswa yang akrab disapa Febri itu.

Febri juga menjelaskan bahwa nilai tegangan 1 volt yang dihasilkan itu hanya dalam skala kecil. “Bisa jadi jika dilakukan scale up atau pembesaran skala volume, tegangan listrik pada baterai gel ini akan lebih besar”, ungkap mahasiswa semester tujuh yang juga bertindak sebagai ketua tim itu.

Tak hanya itu, lanjut Febri, baterai gel dari buah tomat ini juga dinilai tim mampu menghasilkan tegangan dan arus yang sangat stabil. “Kami menjalankan baterai selama 30 menit, tegangannya menjadi 0,985 volt, hanya selisih 0,015 volt saja, selisih ini sangat sulit diperoleh pada penelitian baterai umumnya,” beber Febri.

Melalui inovasi ini pun, tim berharap baterai gel dari buah tomat ini bisa digunakan oleh masyarakat sebagai baterai yang ramah lingkungan, serta mampu mengantarkan timnya untuk lolos bertarung di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-31 yang bakal digelar bulan Agustus mendatang di Yogyakarta. (HUMAS ITS)