Kuala Lumpur, UPI

Sebuah prestasi berhasil ditorehkan Zeed Hamdy Rukman, mahasantri penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) lewat partisipasinya dalam kegiatan konferensi Asia Youth International Model United Nation (AYIMUN) di Kuala Lumpur, Malaysia.

Menyikapi banyaknya isu internasional, AYIMUN bekerjasama dengan PBB menyelenggarakan model simulasi sidang dimana siswa SMA/sederajat dan mahasiswa sedunia diperkenalkan  teknik dan tata cara sidang di PBB. Peserta seminar dituntut untuk dapat memaparkan sebuah isu secara lebih kritis dan lebih mendalam dan mencoba mencari solusi dari permasalahan yang diangkat. Kegiatan ini berlangsung selama empat hari yaitu pada tanggal 3 hingga 6 November 2017.

Pemuda yang akrab dipanggil Hamdy ini mengaku bahwa ia mendapat banyak pengalaman baru dan luar biasa. Tuntutan untuk berpikir kritis dan menuangkan pikiran dalam bentuk tulis merupakan tantangan yang harus ditaklukkan untuk bersaing dalam penyaringan kurang lebih 5000 pendaftar sedunia. Hamdy merupakan salah satu dari hanya lima ratus orang yang terpilih dari Indonesia.

Sebagai mahasiswa program studi Bimbingan dan Konseling, Hamdi memandang bahwa isu-isu global seputar pendidikan adalah masalah yang relevan dengan bidang keilmuan yang ia geluti. Berbagai pengalaman di organisasi kepenulisan seperti LEPPIM UPI juga turut memberikan sumbangsih besar dalam persiapan Hamdy mengikuti penyaringan peserta. Berbekal semangat mencari pengalaman baru dan senang dengan tantangan, Hamdy tetap bersemangat mengikuti kegiatan AYIMUN meskipun ia sedikit tepat mendapat informasi. Hanya beberapa jam sebelum pendaftaran ditutup, Hamdy berhasil melengkapi persyaratan-persyaratan berupa pengisian identitas diri, karya tulis, dan kemampuan nalar.

Hamdy merasakan perbedaan besar sebelum dan setelah mengikuti konferensi internasional ini. Kebanyakan orang, mahasiswa khususnya, harus mampu berpikir secara lebih teliti dan lebih kritis dan melihat permasalahan dari sisi yang lebih luas. Keterlambatan menyadari permasalahan dunia berarti keterlambatan dalam mencapai kehidupan yang lebih baik. Di luaran sana ada banyak sebab-akibat yang harus diperhatikan baik-baik sebelum menjudge sesuatu. Harapan Hamdy, akan lebih banyak masyarakat Indonesia yang peduli dan berkotribusi aktif dalam membantu sesama manusia tanpa memandang ras dan suku asalnya. Hamdy kini merasa lebih percaya diri dan siap terlibat lebih jauh dalam kontribusi nyata kedepannya. (matahari)

Sumber: www.upi.edu/