UNAIR NEWS – Di bidang pendidikan tinggi, berdasar peringkat 2016 Times Higher Education, Australia memiliki 16 universitas yang masuk di antara seratus universitas teratas dunia dengan usia di bawah 50 tahun. Soal biaya pendidikan, Australia juga terjangkau jika dibandingkan dengan Amerika Serikat dan universitas-universitas di Eropa.

Bahkan, di universitas yang masuk peringkat seratus teratas itu, rata-rata uang kuliahnya kurang dari setengah biaya di universitas-universitas teratas di Amerika Serikat. Selain itu, terbaru, berdasar data 2016 Economist Cost of Living Survey, kota-kota di Australia jauh dari kota-kota termahal di dunia seperti Singapura, Paris, London, New York, dan Seoul.

Melihat potensi tersebut, Universitas Airlangga membahas peluang-peluang kerja sama dengan Australia pada Senin siang (9/4), terutama soal pendidikan tinggi. Bertempat di ruang rektor, Lantai 4, Gedung Manajemen Kampus C, Rektor UNAIR Prof. Dr. H. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak, CMA., bertemu dengan Konsulat Jenderal Australia di Surabaya Chris Bernes bersama rombongan.

Turut hadir dalam pertemuan itu, Wakil Rektor III Prof. Ir. Moch. Amin Alamsjah M.Si., Ph.D.; Direktur Airlangga Global Engagement (AGE) Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih Dra., M.Si.; Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) Dr. Purnawan Basundoro, S.S., M.Hum.; serta jajaran pimpinan lainnya. Pembahasan selama tiga jam tersebut berlansung sangat cair.

Chris mengungkapkan bahwa peluang kerja sama tersebut dapat berupa kolaborasi SDM, keilmuan, dan  research. Khususnya research menjadi hal yang bisa ditekankan. Termasuk informasi-informasi beasiswa dan pertukaran mahasiswa.

”Perlu diketahui, Indonesia menjadi yang nomor satu destinasi wisata di Australia. Jadi, Indonesia begitu familiar,” ujarnya. ”Kolaborasi dan kerja sama semacam ini mesti juga turut dikembangkan sekaligus diperkuat,” imbuhnya dalam penjajakan itu.

Di sisi lain, Prof. Ni Nyoman menyampaikan bahwa bidang lecture, scholarship, learning, dan seminar menjadi peluang kolaborasi yang dapat dijajaki. Selain itu, dalam pertemuan tersebut turut dibicarakan soal pendirian Australia Banget Corner. Yakni, sebuah wadah konsulat jenderal menyosialisasikan Australia, terutama pendidikan, di UNAIR.

”Bidang-bidang humanity dan social culture juga menjadi peluang kerja sama,” ujarnya. ”Tadi juga dibahas terkait dengan volunteer mahasiswa yang dilibatkan dalam bakal mengelola Australia Banget Corner melalui program-program kegiatan,” tambahnya.

Dalam kunjungan itu, Chris yang didampingi Prof. Ni Nyoman dan Prof. Nasih meninjau beberapa fasilitas UNAIR. Khususnya beberapa lokasi yang berkemungkinan diminati sebagai tempat Australia Banget Corner di Kampus C serta Kampus B UNAIR. (PIH UNAIR)