JAKARTA – Tiga tahun Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla telah membawa perubahan dan perkembangan positif dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat Indonesia. Pemerintah terus berupaya meningkatkan kinerja untuk merealisasikan Nawacita yang telah ditetapkan pemerintahan Jokowi-JK.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir hari ini menyampaikan Capaian Kinerja Selama 3 tahun Kemristekdikti pada acara Jumpa Pers Forum Merdeka Barat di Gedung Binagraha Jakarta, Senin (23/10). Menristekdikti mengatakan telah berhasil merealisasikan berbagai target dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan tinggi, kemampuan iptek dan inovasi untuk mendukung daya saing bangsa.

Menristekdikti memberi catatan khusus mengenai peningkatan publikasi ilmiah Indonesia dan peningkatan rasio belanja penelitian dan pengembangan terhadap PDB (Gross Expenditure on R&D (GERD) dalam paparan 3 Tahun Kinerja Kemristekdikti.

“Sesuai hasil penghitungan yang dilakukan oleh Kemristekdikti bersama Tim LIPI angka GERD Indonesia tahun 2016 adalah 0,25%, naik dibandingkan sebelumnya yang 0,20% pada 2015. Kita akan terus memperjuangkan percepatan kenaikan pada masa mendatang sampai mencapai 4,20% pada tahun 2040. Sedangkan pertumbuhan publikasi ilmiah Indonesia meningkat sangat tinggi yakni sebesar 1567%, berdasarkan data Islamic World Science Citation Center (ISC),” ujar Nasir.

Sekretaris Jenderal Kemristekdikti Ainun Na’im dalam sesi tanya jawab dengan jurnalis mengatakan World Class Professor  (WCP) merupakan salah satu program Kemristekdikti yang mengundang akademisi dan ilmuan diaspora Indonesia yang bereputasi internasional dan berkiprah di luar negeri untuk berbagi pengetahuan dan pengalamannya kepada akademisi dan ilmuan Indonesia dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Indonesia. Seleksi WCP tahun ini akan sangat selektif dengan melihat track record calon peserta WCP.

Adapun capaian kinerja Kemenrisekdikti meliputi peningkatan mutu, peningkatan relevansi, peningkatan akses, peningkatan inovasi, peningkatan daya saing perguruan tinggi, dan peningkatan tata kelola.

Peningkatan Mutu

Dalam hal peningkatan mutu, beberapa capaian penting yang bisa menjadi tolak ukur mutu pendidikan tinggi Indonesia meliputi jumlah Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang telah didaftarkan, jumlah publikasi internasional, serta akreditasi perguruan tinggi. Jumlah HKI yang didaftarkan dari 2015 mengalami peningkatan hingga Oktober 2017. Tercatat di tahun 2015 HKI yang didaftarkan sebanyak 1.877, tahun 2016 sebanyak 3.184, dan Oktober 2017 sebanyak 4.018.

Jumlah publikasi Indonesia di jurnal internasional pun melonjak naik, dimana pada tahun 2015 jumlah publikasi sebanyak 8.098, tahun 2016 11.936, dan per Oktober 2017 sebanyak 12.077. Bahkan per Oktober 2017 Indonesia telah berhasil menyalip Thailand dimana di tahun sebelumnya jumlah publikasi Indonesia berada di  bawah Thailand. Jika dibandingan dengan negara ASEAN lain, tahun lalu, jumlah publikasi Indonesia sebanyak 11.936, Thailand sebanyak 14.436, sedangkan Vietnam sebanyak 5.678. Per Oktober 2017, jumlah publikasi Indonesia sebanyak 12.077, Thailand sebanyak 10.797, dan Vietnam sebanyak 4.520. Tidak puas sampai disitu saja, Kemenristekdikti berambisi untuk bisa mencapai jumlah publikasi 15.000-16.000 dan bisa mengejar Singapura yang masih berada di atas Indonesia.

Untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi, Kemenristekdikti juga terus mendorong perguruan tinggi untuk meningkatkan akreditasinya. Dari 1.279 perguruan tinggi yang terdiri Perguruan Tinggi Swasta (PTS), Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perguruan Tinggi Kementerian Lain (PTKL), Perguruan Tinggi Agama Swasta (PTAS), Perguruan Tinggi Agama Negeri (PTAN). sebanyak 56 perguruan tinggi memiliki akreditasi A, 391 perguruan tinggi akreditasi B dan 832 akreditasi C. Lebih detilnya, PTS dengan akreditasi A sebanyak 20 perguruan tinggi, akreditasi B sebanyak 272, dan akreditasi C sebanyak 623. Sementara PTN terakreditasi A sebanyak 30 perguruan tinggi, akreditasi B sebanyak 45, dan akreditasi C sebanyak 8 perguruan tinggi. PTKL yang memiliki akreditasi A sebanyak 3 perguruan tinggi, akreditasi B sebanyak 29, dan akreditasi C sebanyak 5 perguruan tinggi. Sementara 11 PTAS terakreditasi B dan 177 PTAS terakreditasi akreditasi C. PTAN dengan akreditasi A sebanyak 3 perguruan tinggi, akreditasi B sebanyak 34, dan 19 PTAN terakreditasi C.

Peningkatan Relevansi

Sesuai dengan arahan dari Presiden Jokowi untuk membangun sumber daya manusia yang kompeten untuk menghadapi tantangan ekonomi global, Kemenristekdikti fokus menyiapkan pendidikan vokasi. Kondisi yang ada saat ini kompetensi lulusan perguruan tinggi masih rendah dan tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Akibatnya, industri harus melatih lulusan  perguruan tinggi dimana membutuhkan waktu dan biaya. Solusi dari hal tersebut, Kemenristekdikti berupaya meningkatkan jumlah dan mutu politeknik secara drastis melalui afirmasi pendirian politeknik dan revitalisasi pendidikan vokasi. Di samping itu juga dilakukan upaya peningkatan kontribusi industri dalam pendidikan tinggi dengan cara (i) industri mendirikan politeknik; (ii) industri menyediakan dosen politekniik; dan (iii) industri menyediakan tempat magang. Hasil yang diharapkan adalah lulusan politeknik kompeten dan industri dapat pasokan tenaga kerja yang terampil dan siap pakai.

Jumlah mahasiswa yang memperoleh sertifikasi kompetensi meningkat dari tahun 2015 sampai Triwulan 3 2017. Di tahun 2015 sejumlah 2.527 mahasiswa, 2016 sejumlah 9.280, dan Triwulan 3 2017 sejumlah 12.333. Target yang akan dicapai pada tahun 2018 adalah 14.400 dan tahun 2019 sebesar 15.600.

Sementara itu, jumlah dosen politeknik yang tersertifikasi juga mengalami peningkatan pada tahun 2015 sebanyak 1.442 dosen, 2016 sebanyak 3.126, dan Triwulan 3 2017 sebanyak 3.836. Target Kemristekditi di tahun 2018 agar bisa mencapai angka 4.286 dan tahun 2019 targetnya sebesar 4.786.

Peningkatan Akses

Peningkatan akses pendidikan tinggi, trennya meningkat dari tahun 2015 sebesar 29,15%, 2016 sebesar 31,61%, dan di triwulan 3 2017 mencapai 28,14%. Target akhir 2017 akses pendidikan tinggi oleh  masyarakat di Indonesia mencapai angka 31,75%, sementara target 2018 dan 2019 adalah 32,05% dan 32,55%.

Pemberian beasiswa baik diploma maupun sarjana di tahun 2015 sebanyak 370.751, 2016 sebanyak 371.424, di triwulan 3 2017 sebanyak 405.587 dari target total 2017 sebanyak 475.180. Lebih besar dari tahun sebelumnya, target 2018 sebanyak 504.704 dan 2019 sebanyak 804.383. Tahun 2015-2017, rata-rata 74% beasiswa diberikan kepada mahasiswa kurang mampu dan afirmasi Papua & 3T.

Peningkatan Inovasi

Arah kebijakan Kemristekdikti agar riset di perguruan tinggi tidak berhenti sampai publikasi, namun dapat dihilirisasi ke industri menjadi suatu produk inovasi yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat.

Dari tahun ke tahun jumlah inovasi yang berhasil start-up ke dunia industri lebih besar dari target yang ditetapkan. Di tahun 2015, tercatat sebanyak 54 inovasi berhasil dicapai dari target 25, tahun 2016 dari target 150 dapat dicapai 205 inovasi, tahun 2017 inovasi yang berhasil dicapai lebih banyak yaitu 663 dari target 375. Beberapa produk inovasi yang berhasil start-up ke dunia industri antara lain Garam Farmasi oleh BPPT dengan PT Kimia Farma, Skuter Listrik Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan Garasindo.

Program Science and Techno Park (STP) yang merupakan program nasional pemerintahan Presiden Jokowi terus dioptimalkan agar dapat mencapai target 100 STP. Sebanyak 15 STP yang telah resmi diluncurkan antara lain : Bandung Techno Park, Solo Techno Park, ITB Science Park, IPB Science Park, Unpad Science Park,  UGM Science Park, ITS Science Park, Puslit Koka Jember, Taman Sains Pertanian Nasional Sukamandi, NSTP Pasar Jumat-Jakarta Selatan (BATAN), Science and Technology Park Cibinong (LIPI), Techno Park Bantaeng (BPPT), Batam Techno Park (BPPT), Cimahi Techno Park (BPPT), dan MSTP Jepara (Ristekdikti).

Peningkatan Daya Saing Perguruan Tinggi

Kemristekdikti pun mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk bersaing di kancah internasional dan masuk World Class University (WCU). Tiga perguruan tinggi yang berhasil masuk 500 WCU adalah Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Peringkat ketiga perguruan tinggi tersebut di WCU terus mengalami kenaikan. Di tahun 2015, UI berada di peringkat 358, tahun 2016 peringkat 325, dan tahun 2017 naik di peringkat 277. ITB di tahun 2015 berada di peringkat 431, tahun 2016 peringkat 401, dan tahun 2017 naik ke peringkat 331. Sementara UGM di tahun 2015 menduduki peringkat 551, tahun 2016 naik ke 501, dan 2017 berhasil menduduki peringkat 401.

Peningkatan Tata Kelola

Sebagai instansi pemerintah, dalam tata kelolanya Kemristekdikti menganut prinsip good governance, meliputi transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, dan berkeadilan. Dalam laporan keuangan tahun 2016, Kemristekdikti mendapatkan nilai Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari opini yang dikeluarkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Kemristekdikti juga berkomitmen untuk mengoptimalkan pelayanan kepada publik melalui Pusat Informasi dan Pelayanan Terpadu (PINTU). Hasil survei yang dilakukan Kemristekdikti mengenai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terhadap berbagai jenis layanan di Kemenristekdikti adalah sebagai berikut : IKM Perizinan Peneliti Asing (96,59), IKM Layanan Sertifikasi Dosen (79,26), IKM Perizinan Mahasiswa Asing & Tenaga Ahli (78,57), IKM Layanan Pengajuan Guru Besar (76,08), IKM Layanan Penyetaraan Ijazah Luar Negeri (74,77), IKM Layanan Penetapan Nomor Registrasi Pendidik (73,61), IKM Layanan Beasiswa Bidikmisi (72,21), IKM Layanan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (71,79), IKM Layanan Penilaian Angka Kredit (71,78), IKM Perizinan Pendirian Prodi (71,4), IKM Perizinan Pendirian & Perubahan PT (67,78). (FH)