SIARAN PERS

No. 19/SP/HM/BKKP/III/2017

Jakarta, 20 Maret 2017

Peningkatan kapasitas inovasi dan teknologi sebagai salah satu sub agenda pembangunan nasional yang tertuang dalam RPJMN 2015-2019 menuntut penyelenggaraan kegiatan riset secara bertahap dari eksplorasi hingga difusi teknologi. Tahap eksplorasi mencakup perumusan ide/konsep, riset eksplorasi hingga feasibility. Kemudian temuan baru hasil dari tahap eksplorasi dikembangkan menjadi prototipe (uji alpha) yang kemudian diujikan di lapangan (uji beta). Hasil dari uji beta ini adalah produk inovasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Peralihan dari uji beta ke tahap difusi merupakan tahapan terberat dari pengembangan inovasi. Banyak riset yang berakhir di death of valley karena tidak mampu maju ke tahap komersialisasi. Untuk itu, perlu campur tangan pemerintah untuk menjembatani tahapan peralihan dari uji beta ke tahap difusi hingga menghasilkan produk inovasi.

Di samping itu, program pemerintah yang bersifat pengadaan bisa menjadi salah satu captive market bagi produk riset dalam negeri. Berdasarkan data dari The Global Competitiveness Report 2016-2017, pengadaan pemerintah masih belum berdampak besar terhadap iklim inovasi di Indonesia (nilai 4.3 dari skala 7.0, menduduki peringkat 12 dari 138 negara). Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mendorong pengembangan produk-produk inovasi hasil kerjasama lembaga litbang/ perguruan tinggi dengan industri. Selain diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor, penggunaan produk hasil riset dalam negeri juga dapat memberikan nilai ekonomi pada produk hasil riset, sehingga dapat berganti status menjadi produk inovasi. Namun, saat ini pengembangan produk inovasi masih menjadi keengganan industri karena prototipe yang dihasilkan belum sesuai dengan kebutuhan pasar atau teknologi yang dihasilkan belum tersertifikasi.

Sebagai salah satu upaya untuk mengatasi kendala-kendala di atas, Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Ristekdikti menetapkan 3 (tiga) platform penguatan inovasi, yaitu executing, regulating, dan empowering. Executing berkaitan dengan pendanaan inovasi, kolaborasi dengan industri, start-up, klaster inovasi dan teaching industry; empowering terkait dengan fungsi peningkatan kapasitas dan kapabilitas, mediasi, difusi, dan diseminasi, standarisasi, dan sertifikasi sedangkan regulating berhubungan dengan perumusan dan penetapan kebijakan dan harmonisasi kebijakan sektoral. Dalam menjalankan ketiga strategi ini, pendekatan yang akan digunakan adalah dengan mengintegrasikan dan memobilisasi kapasitas iptek nasional untuk mendukung capaian target sektoral. Untuk mencapai tujuan penguatan inovasi diperlukan adanya keselarasan antara kebijakan dan program iptek, kebijakan dan program sektoral, dan kapasitas iptek nasional.

Di antara Skema Pendanaan bantuan pemerintah yang ada di Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi adalah Skema Pendanaan Inovasi Industri dan Skema Pendanaan Inovasi Perguruan Tinggi di Industri.

Skema pendanaan inovasi industri diberikan untuk meningkatkan kapasitas inovasi industri yang bekerja sama dengan lembaga litbang atau industri yang mengembangkan riset sendiri yang siap dikomersialisasikan. Namun tidak menutup kemungkinan diberikan kepada lembaga litbang yang telah memiliki komitmen kerja sama dengan industri calon pengguna teknologi. Pendanaan ini dapat digunakan untuk penyempurnaan prototipe yang belum kompatibel dengan kebutuhan pasar, pembangunan prototipe industri, uji di lingkungan yang relevan, sertifikasi, standardisasi, audit teknologi, alih teknologi, izin produksi/izin edar hingga set up initial production. Melalui skema ini, diharapkan hasil riset yang dihasilkan dapat menjadi produk inovasi yang bermanfaat untuk masyarakat dan meningkatkan daya saing bangsa.

Pada tahun 2016-2017 telah dilakukan seleksi Pendanaan Inovasi Industri. Dari 177 proposal yang masuk setelah diseleksi diperoleh 53 proposal yang didanai, meliputi Bidang Fokus TIK = 7, Bidang Fokus Hankam = 4, Bidang Fokus Energi = 4, Bidang Fokus Transportasi = 10, Bidang Fokus Pangan = 6, Bidang Fokus Kesehatan & Obat = 9, Bidang Fokus Material Maju = 5 dan Bidang Fokus Bahan Baku = 8. Proposal tersebut diusulkan oleh industri (31), Perguruan Tinggi (13) dan Lembaga litbang (9). Pengusul dari industri antara lain yaitu PT. Xirka silicon Technology, CV. Amakusa, PT. Eyro Digital Teknologi, PT. INTI, PT Micromatis Sarana Pratama, PT. Dunia Catfish Kreatif Media, PT. Risea, PT. LEN, PT. Sumber Multi Atsiri, PT. Rancang Bangun Sejahtera, PT. Teknik Rekayasa Kereta Kapsul, PT. Juragan Kapal Indonesia, PT. Samudera Luas Paramacitra, PT. Jagung Indonesia Mandiri, CV. Biocel agro solusi, CV surya Inti Sejati, CV Gemilang Karya, Cv. Rigen Sarana Mukti, Pt. Sarandi Karya Nugraha, PT. Indofarmaka, PT. Djago, PT. Zenith Allmart Precissindo, PT. Timah, PT. Hikari Solusindo Sukses, PT. Tirta Gemah Ripah, PT. Berathi, Koperasi Industri dan Permesinan Batur Jaya, dan PT. Bangun Insan Perkasa. Pengusul dari Perguruan Tinggi antara lain yaitu ITS, PPNS, Polman, ITB, Unbraw, UI, Unpad, dan UGM, sedang dari lembaga litbang antara lain yaitu : PTSEIK, Balai Besar Industri Agro Kemenperin, BPPT, BATAN, dan Pusat Penelitian Karet.

Skema pendanaan inovasi perguruan tinggi diberikan kepada Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) untuk menghasilkan industri berbasis teknologi yang berfungsi sebagai sarana pembelajaran skala industri (teaching industry) dan mendorong inovasi perguruan tinggi ke industri melalui skema konsorium inovasi. Konsorsium inovasi merupakan kerjasama antar tiga atau lebih institusi yang dapat terdiri atas unsur perguruan tinggi, politeknik atau Lembaga Pemerintah Kementerian (LPK) atau Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) dan dunia usaha/industri yang bersepakat, bersinergi, berkomitmen dan saling berkontribusi dalam hal sumberdaya (SDM, sarana prasarana dan anggaran) dalam kegiatan komersialisasi produk inovasi. Pendanaan ini memungkinkan untuk pengadaan infrastruktur produksi dalam kerangka pengembangan produk inovasi.

Pada tahun 2016-2017 telah dilakukan seleksi Pendanaan Inovasi Perguruan Tinggi di Industri. Dari 29 proposal yang masuk setelah diseleksi diperoleh 13 proposal yang didanai, meliputi Bidang Fokus TIK = 2, Bidang Fokus Transportasi = 1, Bidang Fokus Pangan = 4, Bidang Fokus Kesehatan & Obat = 4, dan Bidang Fokus Material Maju = 2. Perguruan tinggi yang memperoleh pendanaan adalah UI, IPB, ITB, UNDIP, UGM, ITS, UNAIR dan UNHAS. Topik-topik yang akan dikerjakan antara lain : Start up industri bibit buah Tropis, Industri katalis, Industri Radar Cuaca, Industri Base Station dan Smartphone 4G, Industri sepeda motor listrik Gesits, Industri alat-alat kesehatan, industri biomaterial berbasis logam, Sel Punca dan produk metabolit nasional, Dentolaser antimikroba, Stem Cell untuk terapi degenerative, Teknologi plasma untuk pangan, industrialisasi garam rakyat dan industri perbibitan sapi.

##