SURABAYA – Kapal cepat bertenaga surya buatan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya akan kembali berpartisipasi dalam Dutch Solar Challenge (DSC) di Belanda. Kapal yang diberi nama Jalapatih 2 itu akan mencoba mengulang sukses pendahulunya, Jalapatih 1, yang ikut kompetisi yang sama pada 2014.

“Ini merupakan seri kedua dari kapal tenaga surya yang disebut-sebut sebagai penguasa air, atau dalam bahasa Jawa dikenal sebagai Jalapatih,” kata Rektor ITS Prof Ir Joni Hermana MScEs PhD seusai peluncuran Jalapatih 2 di Kolam 8 ITS Surabaya, Jumat (16/10/2015). Ia mengatakan, DSC 2016 akan digelar di Amsterdam, Belanda, selama 11 hari mulai 29 Juni 2016.

Meski telah melakukan berbagai upaya modifikasi, tim yang lahir dari Jurusan Teknik Sistem Perkapalan (JTSP) ini masih harus melakukan berbagai persiapan karena tahap lomba paling awal, yaitu pengiriman desain lambung kapal baru akan dilangsungkan pada Februari 2016. Satu bulan setelahnya, kata dia, akan dilanjutkan dengan pengiriman desain elektrikal. Sementara desain konstruksi kapal akan dikirim pada April 2016,.

“Untuk pihak ITS sendiri, kami hanya memfasilitasi mereka untuk menjadi yang terbaik dalam rangka persiapan menuju lomba. Efektivitas kinerja tim pun dibagi dalam empat divisi, yaitu divisi desain, manajemen, body, dan elektrikal,” paparnya.

Menurutnya, untuk pembiayaan kapal Jalapatih 2 tersebut pihak ITS harus membagi kepada sembilan tim yang berangkat ke luar negeri untuk bertanding. Sehingga, setiap tim harus mencari dana secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan tim dengan cara menggandeng pihak sponsor.

“Kami harus bisa melalui setiap tahapnya sebaik mungkin agar benar-benar bisa berlaga di Amsterdam nanti. Jika dulu Indonesia dijajah Belanda, sebagai negara maritim terbesar, sekarang kalianlah yang harus ‘menjajah’ Belanda dalam kompetisi internasional ini,” kata Joni memberi semangat tim Jalapatih 2.

Di sisi lain, ketua tim ITS Marine Solar Boat Ginanjar Basuki mengatakan, Jalapatih 2 memiliki panjang 5 meter, lebar 1,6 meter, tinggi 0,5 meter, sedangkan tinggi garis air sekira 15 centimeter. Kapal itu memiliki kecepatan 7,5 knot, meskipun target kecepatan Jalapatih mencapai 10 knot dengan proses pembuatan dimulai bulan Juni lalu.

“Kelebihan dari Jalapatih 1 dan Jalapatih 2 yakni memiliki tiga lambung, menggunakan baterai manajemen sistem, bahan menggunakan fiber carbon yang lebih ringan sekira 100 gram per meter persegi daripada Jalapatih 1 yang menggunakan fiber glas,” paparnya. Lebih lanjut dia mengungkapkan, yang akan diperbaiki dari Jalapatih 2 adalah sistem elektronika yang akan dicoba di sungai Brantas atau pantai Kenjeran. Menurutnya di kompetisi tersebut banyak peserta yang gugur karena sistem elektronika baterai piropospat hanya menyimpan daya yang sedikit.

“Jika kami pakai aki, maka pengisian daya akinya sangat lama. Sedangkan kami memakai baterai piropospat atau Fe Eo4, jadi lebih cepat pengisiannya. Artinya untuk proses pengisian, kami 1,5 jam bisa digunakan kecepatan secara penuh. Sedangkan untuk total biaya yang dikeluarkan, sekira Rp150 juta,” tandas Mahasiswa Fakultas Teknologi Kelautan itu. (Fal)

Sumber : http://news.okezone.com/read/2015/10/16/65/1233135/kapal-its-bertenaga-surya-siap-berlaga-di-belanda