Siaran Pers Kemenristekdikti

Nomor : 209/SP/HM/BKKP/XI/2018

 

Peningkatan daya saing di era modern ini mutlak didukung oleh kapasitas dan kompetensi riset yang memadai, sehingga mampu menghasilkan inovasi yang kompetitif secara global. Untuk itu, pemahaman tentang sains dan hasil riset perlu semakin digaungkan di tengah masyarakat luas.

Indonesia Science Expo (ISE) merupakan salah satu sarana penting untuk membumikan sains dan hasil-hasil riset para peneliti maupun inovator yang ada di Indonesia sehingga masyarakat luas dapat memahami betapa pentingnya sains dalam kehidupan sehari-hari dan mendorong terciptanya science-based society.

Untuk ketiga kalinya, ISE kembali digelar tahun ini dari tanggal 1-4 November 2018 di Indonesia Convention Exhibition BSD, Serpong.

Dalam acara pembukaan ISE 2018 Presiden Joko Widodo menyampaikan tentang bagaimana dunia yang cepat berubah melalui banyaknya kejutan-kejutan yang kita saksikan dalam keseharian kita baik di negara kita maupun dunia. Presiden Jokowi mencontohkan Belanda yang merupakan negara yang wilayahnya sempit namun menjadi pengekspor pangan terbesar kedua di dunia, Facebook menjadi media terpopuler di dunia saat ini padahal tidak memiliki redaktur, redaksi, bahkan wartawan dan tidak pernah membuat konten berita, Uber menjadi perusahaan taksi terbesar di dunia padahal tidak memiliki kendaraan, Alibaba menjadi perusahaan ritel dengan omset terbesar di dunia tapi tidak memiliki toko, Air BNB menjadi penyedia akomodasi terbesar didunia tapi tidak memiliki hotel bahkan tidak memiliki properti, hal ini menunjukan tidak ada yang paling relevan untuk menghadapi tantangan kehidupan kecuali lembaga penelitian. Menurutnya, semua keterbatasan dan ketidakmungkinan bisa diterobos oleh ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.

“Kehadiran saya di sini untuk menyaksikan karya-karya besar yang mengubah ketidakmungkinan menjadi kenyataan, yang membuat kesulitan menjadi kemudahan, jangan dibalik-balik, inilah yang akan membawa Indonesia maju,” ucap Presiden Jokowi di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang, Kamis (1/11).

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kini semakin cepat dengan ditandai adanya revolusi industri 4.0. Salah satu dampak revolusi industri 4.0 adalah munculnya artifical intellegence, media digital, internet of thing, virtual reality, mobil tanpa pengemudi, 3-D printing, cryptocurrency, nanotechnology. Di tengah revolusi industri keempat ini, Presiden Jokowi berharap para peneliti ikut menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi. “Semua harus ikuti masalah ini, perkembangan ini melahirkan tantangan-tantangan baru, lahirnya teknologi baru membuat beberapa jenis pekerjaan menjadi hilang yang akan mempengaruhi formasi bisnis,” tambah Presiden Jokowi.

“Bisnis supermarket yang dulu mapan, sekarang menyusut karena dominasinya berpindah ke online, untuk itu, pemerintah juga dipaksa bekerja cepat dan efisien, kalau tidak maka akan ditinggal oleh negara lain,” tutur Presiden Jokowi. Menghadapi fenomena ini, regulasi pemerintah tidak menyelesaikan masalah. Sebab tidak semua bisa dipagari regulasi justru, yang dibutuhkan sekarang adalah standar moralitas yang semakin tinggi berbarengan dengan penggunaan teknologi.

Pada kesempatan yang sama Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir mengatakan Program Pemerintah melalui Nawa Cita ke-6 memberikan tekanan khusus kepada penguatan daya saing. Dalam meningkatkan daya saing, diperlukan kemampuan nasional untuk menyelesaikan masalah kebutuhan dasar, efisiensi ekonomi, dan inovasi.

“Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi menerjemahkan misi itu ke dalam penyatuan komponen kegiatan riset, teknologi dan pendidikan tinggi, baik yang dikelola oleh Pemerintah maupun oleh swasta, agar melahirkan riset yang menjadi awal bergeraknya inovasi, untuk kemudian disiapkan lembaga dan sumberdayanya untuk meningkatkan produktifitas dan daya saing,” ujar Menristekdikti.

Menteri Nasir menjelaskan riset yang selama ini dilakukan sebelum pemerintahan Presiden Jokowi, riset Indonesia selalu brada di ranking 4 di ASEAN dibawah Thailand, Malaysia, dan Singapura. Dimana saat itu Indonesia ada 5.250 riset yang dipublikasi di Internasional, sementara Thailand 9,500, Singapura 18000, dan Malaysia 28000. Sesuai dengan kebijakan dan arahan presiden riset-riset harus disederhanakan dalam pertanggungjawaban dan dihilirisasi pada Industri.

“Saat ini per tanggal 21 Oktober 2018 Riset Indonesia berada di ranking 2 ASEAN dengan jumlah riset sebanyak 22.222, Malaysia 24045, Singapura 17.600, dan Thailand 13200 dan saat ini sudah masuk 965 inovasi yang masuk industri baik industri kecil, menengah maupun besar,” tutur Nasir.

Indonesia Science Expo (ISE) 2018 yang ketiga kalinya ini, sebagai upaya mengenalkan dan menambah wawasan masyarakat terhadap hasil karya anak bangsa dan meningkatkan pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia serta diharapkan menjadi awal untuk kebangkitan inovasi yang ada di Indonesia.

Sementara itu, Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko mengatakan ISE 2018 adalah event yang menampilkan hasil riset karya anak bangsa sebagai kontribusi terhadap perkembangan iptek dan arah ilmu pengetahuan di Indonesia. “Tema ISE Tahun 2018 adalah Celebrating Science and Innovation dengan tujuan untuk mengomunikasikan atau memasyarakatkan apa yang telah dilakukan peneliti Indonesia dalam bidang riset dan manfaatnya bagi masyarakat luas,” ujar, Handoko.

Handoko menjelaskan bahwa ISE diharapkan mampu menyebarluaskan hasil-hasil riset karya anak bangsa sehingga, hasil-hasil riset terimplementasikan secara nyata. “Kami berharap hasil-hasil riset yang ditampikan di ISE dapat dimanfaatkan dalam pembuatan landasan kebijakan pemerintah sehingga bisa berkontribusi bagi peningkatan daya saing bangsa di tingkat dunia,” tegas Handoko.

Turut hadir juga pada acara ini Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Jumain Appe, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Dimyati, Anggota DPR RI, Jajaran Kepala LPNK, Kepala Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik Nada Marsudi, serta tamu undangan lainnya.

Heni Sukmawati
Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik Kemenristekdikti dan Humas LIPI