Siaran Pers Kemenristekdikti
Nomor : 118/SP/HM/BKKP/VI/2019

Jakarta – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir membuka seminar regional mengenai Kerangka Kualifikasi dan Pengakuan Kualifikasi di Era Digital yang diselenggarakan untuk meningkatkan pemahaman peran kerangka kualifikasi nasional dan regional ASEAN dalam memastikan pengakuan gelar, keterampilan dan kompetensi di pendidikan tinggi dalam menghadapi tantangan era digital, di Le Meridien, Jakarta (25/6).

Para stakeholder nasional dan regional, termasuk anggota panitia Kerangka Kualifikasi Referensi ASEAN hadir untuk mengeksplorasi tantangan digitalisasi terhadap rekognisi pendidikan tinggi. Bersama ahli dari Eropa dan ahli internasional lainnya, peserta akan mendiskusikan berbagai kerangka yang telah ada dan menggali bagaimana Support to Higher Education in the ASEAN Region (SHARE) dapat berkontribusi pada pembinaan potensi-potensi yang ada di masa mendatang.

Seminar yang akan dilaksanakan pada tanggal 25-26 Juni 2019 ini merupakan program kerja sama ASEAN dan Uni Eropa dalam konsorsium The European Union Support to Higher Education in the ASEAN Region (SHARE). Konsorsium ini terdiri dari ASEAN bersama British Council sebagai pimpinan, Campus France, the German Academic Exchange Service (DAAD), Nuffic, the European Association for Quality Assurance in Higher Education (ENQ).

Menristekdikti menggambarkan Kerangka Kualifikasi Indonesia (Indonesian Qualification Framework – IQF) dan penerapannya dalam pengakuan di seluruh perguruan tinggi. Pada tingkat nasional, IQF berperan sebagai referensi netral yang memperbolehkan perbandingan hasil pembelajaran dari pendidikan formal ataupun non-formal, dan juga hasil pembelajaran yang tercapai melalui pengalaman bekerja. Kerangka kualifikasi juga memberi masukan berharga dalam menciptakan standar dan kriteria nasional yang memfasilitasi pengakuan keterampilan dan kualifikasi yang telah didapatkan para pelajar.

Bala Kumar Palaniappan, Direktur Hubungan Eksternal ASEAN, menyoroti aspirasi kawasan ASEAN untuk memfasilitasi mulusnya pergerakan tenaga kerja terdidik dalam ASEAN melalui harmonisasi dan standardidasi. Mengingat bahwa ASEAN memiliki sekitar 7.000 perguruan tinggi, penjamiman mutu dan pengakuan gelar yang adil sangat penting dalam menciptakan ruang bersama untuk pendidikan tinggi ASEAN. Karenanya, diperlukan landasan bersama untuk kepercayaan yang difasilitasi oleh kerangka kualifikasi.

Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN, Francisco Fontan, menerangkan bahwa SHARE berkomitment untuk membangun harmonisasi pendidikan tinggi dI Kawasan ASEAN. Tujuannya untuk memperkuat dan menyebarluaskan Kerangka Kualifikasi Referensi ASEAN (ASEAN Quality Reference Framework – AQRF) dan Kerangka Penjaminan Mutu ASEAN (ASEAN Quality Assurance Framework – AQAF) dengan fokus pada bidang pendidikan tinggi. Dalam kerangka dialog dan kerja sama antara dua kawasan, para mitra Eropa berbagi pengetahuan dan pengalaan lapangan dari Proses Bologna (Bologna Process) dan mengembangkan program-program yang sudah berjalan di Kawasan ASEAN, terutama pencapaian Panitia AQRF dan Jaringan Penjaminan Mutu ASEAN (ASEAN Quality Assurance Network – AQAN).

Turut hadir mendampingi Meristekdikti Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ismunandar, serta tamu undangan lainnya.


Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik
Dan
Layanan Informasi Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan
Kemenristekdikti