DENPASAR – Di era disrupsi teknologi revolusi industri 4.0, terjadi perubahan signifikan, hal tersebut antara lain dilihat dari keinginan masyarakat untuk mendapatkan sesuatu dengan mudah lewat teknologi. Karenanya menurut Nasir diperlukan banyak perusahaan pemula berbasis teknologi/startup agar masyarakat zaman now dapat terpenuhi kebutuhannya. Hal tersebut dikatakan Nasir saat menjadi pembicara kuliah umum dengan tema “Membangun Startup Menuju Revolusi Industri” di Kampus STMIK STIKOM Bali, Jumat (2/2).

Nasir katakan, di era revolusi industri 4.0 ini, peran _startup_ akan semakin dibutuhkan seiring meningginya digitalisasi. Ia juga katakan bahwa kalau ingin membuat _startup_ buatlah yang sesuai seperti zaman sekarang.

Menurut Nasir, contoh paling utama sekarang adalah kefleksibelan yang dibutuhkan, beberapa bisnis yang konvensional perlahan mulai tutup. Pergeseran pekerjaan mulai terjadi. Pekerjaan yang diambil adalah pekerjaan yang berhubungan dengan teknologi.

“Buatlah _startup_yang diperlukan masyarakat, contoh sudah ada transportasi _online_, belanja _online_, beli apapun sekarang _online_, ayo buat yang banyak, tidak ada ruginya mencoba, buat sekreatif mungkin, bila itu dalam bentuk produk misalnya animasi, pasti laku dijual mahal. Negara yang unggul adalah Negara yang penuh dengan inovasi,” paparnya.

Menurut Nasir ada 3 bidang utama yang sesuai dan harus dikembangkan saat ini menuju kehidupan ekonomi digital, yaitu _big data_, _coding_, _artificial intelligence_. “Ketiga hal ini yang justru harus banyak dijadikan sebagai program studi di Perguruan Tinggi, silakan dibuka,” tegas Nasir.

Terkait _startup_ ini, Nasir juga jelaskan bahwa Kemenristekdikti punya andil besar untuk mengembangkan _startup_. Di dalam Kementerian sendiri sudah ada program hibah untuk perusahaan pemula berbasis teknologi. Menurutnya ini merupakan bagian penting untuk menghadapi era revolusi industri 4.0.

“Silakan ajukan proposalnya, bila mungkin dilihat ada prospek yang bagus dari startupnya, terutama di bidang-bidang yang terkait revolusi industri 4.0. Kemenristekdikti akan siap membantu mengembangkan,” ungkap Nasir.

Selain program tersebut, untuk memperlancar proses pengembangan startup supaya tumbuh lebih besar lagi di Indonesia, program lain juga sudah dilaksanakan, antara lain Taman Sains dan Teknologi, Pilot Inkubator di PT, Pusat Unggulan Iptek, dan Kawasan Puspiptek yang siap menjadi kawasan pengembangan _startup_ berbasis riset dan teknologi.

“Kalau bisa startup tersebut nantinya harus menjadi _startup_ yang masuk ke level _Technology Readiness Level_ (TRL) dan _Innovation Readiness Level_ (IRL) 9, jadi bisa dinikmati oleh masyarakat. Contoh TRL dan IRL yang baik adalah Gesits dan garam farmasi,” pungkas Nasir.

Dalam kesempatan tersebut Nasir bersama Dirjen Kelembagaan Iptekdikti Patdono Suwignjo dan Koordinator Kopertis Wilayah VIII Nengah Dasi Astawa juga meresmikan _co-working_ space inkubator bisnis STIKOM Bali. (DZI)