SIARAN PERS
No : 174/SP/HM/BKKP/IX/2018

 

Semarang, 19 September 2018

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir didampingi Direktur Pembinaan Kelembagaan Perguruan Tinggi Totok Prasetyo melakukan kunjungan kerja ke Jawa Tengah. Di Jawa Tengah Menristekdikti melakukan kunjungan ke dua tempat, yaitu PT. Terryham Proplas Indonesia Kendal dan Universitas Katolik Soegijapranata Semarang (19/8).

Dalam kunjungannya ke PT. Terryham Proplas Indonesia Menristekdikti mengatakan Kends UPVC yang diproduksi oleh PT. Terryham Proplas berpotensi menjadi produk unggulan Indonesia di kawasan asia tenggara. Mengingat Kends UPVC merupakan satu-satunya UPVC yang 100% diproduksi di Indonesia dengan melibatkan siswa SMK dalam proses produksinya. Menristekdikti berharap akan lebih banyak lagi riset yang bermuara pada industri dan memberikan solusi nyata menghadapi kebutuhan bangsa.

“Saya mengapresiasi ada pihak swasta yang mengembangkan riset menjadi industri, hal seperti merupakan solusi bagi bangsa ini. Selain membuka lapangan kerja dan menyerap lulusan vokasi, namun juga mampu bersaing dengan produsen UPVD tingkat dunia seperti Jerman, Korea Selatan dan negara maju lainnya,”jelasnya

Direktur Kends UPVC Syamsunar mengatakan UPVC merupakan jawaban tantangan kebutuhan bahan bangunan di masa depan. Ia mengungkapkan dengan menggunakan UPVC sebagai bahan bangunan, maka akan mengurangi ketergantungan bahan bangunan yang selama ini menggunakan kayu.

“Selama ini kita bergantung kepada bahan pokok kayu untuk membuat pintu dan kusen. Kita bisa mengurangi kerusakan lingkungan akibat menebangi hutan dengan beralih ke UPVC,” ungkapnya

Usai dari PT. Terryham Proplas Indonesia, Menristekdikti memberikan kuliah umum di depan sivitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Soegijapranata pada acara Bincang Nasional yang mengambil tema “Relevansi Pendidikan Dokter untuk Mendukung Penyebaran Dokter ke Daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar”. Beliau menyebutkan para era disrupsi teknologi seperti sekarang ini, pelayanan kesehatan di Indonesia tidak bisa bekerja dengan konvensional. Oleh karena itu, Kemenristekdikti telah bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan Indonesia (Kemenkes) untuk mengembangkan tata laksana pelayanan kesehatan berbasis teknologi, seperti mengandalkan kecerdasan buatan, big data, dan internet of things untuk membantu dalam mendiagnosa kondisi pasien.

Rektor Universitas Katolik Soegijapranata Frederik Ridwan Sanjaya mengungkapkan, Indonesia saat ini masih sangat kekurangan tenaga ahli medis, terutama di daerah tertinggal, terluar, terdepan.

“Kurangnya tenaga medis di daerah mejadi perhatian kami saat ini. Oleh karena itu menyebarkan kesejahteraan hingga ke daerah saat ini menjadi visi kami, ini merupakan bentuk peran perguruan tinggi kepada masyarakat,” pungkasnya.

Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik
Kemenristekdikti